RSS

BENARKAH TEMAN KITA ADALAH SAHABAT KITA?; Upaya selektif dan memahami secara proporsional dalam persahabatan

“Barang siapa Allah menghendaki kebaikan baginya, maka Allah memberi karunia seorang teman yang sholeh. Jika ia lupa, diingatkannya dan jika ia ingat, dibantunya”

Cluster Text
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya. Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya. Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis (http://www.gsn-soeki.com/wouw/terbaru.php)

Focus Opinion
Dalam karya monumentalnya “Ihya’ Ulumuddin”, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa, ketika ikatan persahabatan (persaudaraan) atau dalam bahasa penulis adalah “perseduluran” adalah seperti ikatan pernikahan antara suami istri. Apabila persaudaraan berlangsung, maka hal itu menimbulkan hak-hak atasmu dalam harta dan jiwa, lisan dan hati dengan maaf dan do’a, keikhlasan, kesetiaan dan tidak memaksa diri. Sehingga, beliau membaginya ke dalam lima hak persahabatan atau persaudaraan, yaitu sebagai berikut:

Pertama, mengenai harta. Paling sedikit adalah seperti budakmu sehingga urusannya menjadi tugasmu dan pertengahannya seperti engkau, karena persaudaraan menimbulkan persekutuan dan persamaan, sedangkan setinggi-tingginya adalah engkau lebih mengutamkannya sehingga engkau korbankan urusan dirimu supaya keadaannya menjadi teratur. Seperti yang disebutkan dalam atsar, Rasulullah Saw bersabda; tidaklah dua orang bersahabat, melainkan yang paling dicintai Allah Swt adalah yang paling lemah lembut kepada sahabatnya.

Kedua, menolong temannya dalam memenuhi kebutuhan dan mengerjakannya sebelum diminta. Hal ini mempunyai derajat-derajat yang menyamai derajat harta seperti dalam ketiga kedudukannya.

Ketiga, jangan engkau menghadapinya dengan sesuatu yang tidak disukainya. As-Syafi’I ra berkata, tidak seorang muslim pun yang taat kepada Allah tanpa mendurhakai-Nya, maka barang siapa yang ketaatannya lebih menonjol daripada maksiatnya, iapun adil.

Keempat, menyampaikan pujian yang disukainya tanpa keluar dari kebenaran. Hal itu disebabkan ucapan tersebut menambahkan kecintaan. Artinya, pujian ini dialamatkan untuk sahabat dengan tanpa kepalsuan atau dibuat-buat dengan maksud untuk sekedar beretorika menyenangkan, melainkan pujian itu dialamatkan sesuai dengan kenyataan yang terjadi dengan tanpa keluar dari kebenaran.

Kelima, kesetiaan dan keikhlasan, yaitu dengan selalu mencintai sahabat atau saudaranya sampai mati dan mencintai anak-anak serta teman-temannya sesudah matinya. Ketahuilah bahwa kesetiaan yang baik itu termasuk iman dan pengamalan ajaran agama.

Sehinnga dari wacana di atas, apa yang kita alami demi teman, sahabat atau saudara kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah dan selalu dikenang.

Finally Expose
Sahabat, mengerti ketika kamu berkata “aku lupa…”. Menunggu selamanya ketika kamu berkata “tunggu sebentar”. Tetap tinggal ketika kamu berkata “tinggalkan aku sendiri”. Membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan belum berkata “bolehkah saya masuk?”.

Karena cinta sahabat yang sebenarnya adalah ketika dia menitikkan air mata dan masih peduli terhadapmu, adalah ketika kamu tidak mempedulikannya dan dia masih menunggumu dengan setia. Adalah ketika kamu mulai mencintai orang lain dan dia masih bisa tersenyum dan berkata “aku turut berbahagia untukmu”.

Kalau begitu, benarkah selama ini teman-teman kita adalah sahabat kita?

Ujung Ngalah, 01 Juni 2009.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Haris Pradipta mengatakan...

So sweet...
Kapan aku bisa punya sahabat sejati?

Posting Komentar