RSS

SAHABAT; PENA JIWA YANG TAK TERHAPUSKAN

“Hai anakku, jika engkau perlu berteman dengan orang-orang, maka bertemanlah dengan orang-orang yang apabila engkau melayaninya, ia pun melindungimu, dan jika berteman dengannya, ia menghiasimu. Jika engkau tidak mampu menggunkan hartamu, bertemanlah dengan orang yang apabila engkau berbuat baik kepadanya, ia pun membalasmu, dan jika engkau berbuat dosa, ia pun mencegahnya. Bertemanlah dengan seseorang yang apabila engkau meminta sesuatu darinya, ia pun memberimu, dan jika engkau diam, ia pun menyapamu. Dan jika engkau mengalami musibah, ia menolongmu. Bertemanlah dengan orang yang apabila engkau berkata, ia benarkan perkataanmu, dan apabila engkau hendak melakukan sesuatu, ia pun menasehatimu, dan jika kalian bertengkar, ia lebih mengutamakanmu”.

Ungkapan di atas merupakan wasiat dari Alqamah untuk putranya manakala menghendaki pertemanan dengan seseorang. Begitu selektif Alqamah berpesan kepada putranya, bukan berartti pilih-pilih terhadap teman, melainkan hal itu merupakan jalan ihtiyar untuk memperoleh teman (atau lebih tepatnya sahabat) dalam kehidupan ini dengan tanpa mengurangi kemanfaatan dan hikmah yang dapat diperoleh dari aktifitas persahabatan.

Persahabatan memiliki peranan penting dalam membentuk kepribadian seseorang. Maka tidak heran jika ada seseorang yang berasal dari keluarga yang baik tapi menjadi bejat, begitu pula sebaliknya. Hal itu membuktikan bahwa pergaulan dan persahabatan bisa mengukir dan mencetak karakter dan kepribadian seseorang. Oleh karena itu sebelum kita menjalin persahabatan dengan orang lain, maka harus mengenal kepribadian dan perangainya terlebih dahulu agar persahabatannya memberikan hasil dan guna bagi kita dalam mengarungi samudra kehidupan (BS, 2008: 72).

Membatasi pergaulan bukan berarti memberikan jurang pemisah diantara orang-orang tertentu, bukan pula pilih kasih kepada sesama, melainkan hal itu merupakan sikap ikhtiyath (berhati-hati) dalam bertindak dan bersikap dengan orang lain. Sehingga, tidak semua orang patut dijadikan teman, sebagaimana Nabi Muhammad Saw bersabda, “Manusia itu mengikuti kebiasaan temannya, maka hendaklah seseorang dari kamu melihat siapa yang akan dijadikan temannya”. Selektif dalam berteman atau bersahabat juga bukan merupakan sikap memberikan batasan-batasan atau aturan-aturan tertentu yang bersifat protect, melainkan memberikan sikap pergaulan yang proporsional sesuai dengan kebutuhan bersahabat.

Syech al Zarnuji menjelaskan di dalam memilih sahabat, sebaiknya pilihlah orang yang tekun, wara’, bertabiat lurus serta tanggap serta sedapat mungkin hindarilah orang yang malas, penganggur, pembual, suka berbuat onar dan suka memfitnah (Ta’lim al-Muta’alim: 29). Penjelasan ini juga bukan merupakan justifikasi untuk tidak bergaul secara mutlak dengan seseorang yang mempunyai karakter seperti di sebut di atas, melainkan memberikan porsi pergaulan yang proporsional dan efektif.

Dalam Risalah al-Qusyairiyah disebutkan bahwa ada tiga kategori sahabat, yaitu; orang lebih tinggi derajatnya, orang yang sama derajatnya, dan orang yang lebih derajatnya. Artinya, sahabat kita dalam kehidupan ini tidak akan lepas dari ketiga golongan tersebut. Maka dari itu bagaimana sikap kita yang baik dalam persahabatan dengan mereka?

Apabila orang yang kita jadikan sahabat memiliki derajat (strata sosial/ketakwaan) lebih tinggi, maka sikap kita harus berkhidmah. Apabila sederajat dengan kita, maka berusaha menilai baik segala yang ia tampakkan dan tidak menceritakan keburukannya. Apabila dia lebih rendah derajatnya dari kita, maka sikap kita harus berbelas kasih dan sayang padanya serta tidak boleh meremehkannya.

Hal ini menegaskan pula kepada sikap untuk saling memberikan manfaat kepada persahabatan yang telah terjalin, sehingga jalinan yang terukir tidak sebatas ornament kehidupan yang tanpa makna. Bukankah sahabat adalah pena jiwa yang tak terhapuskan.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian. Karena Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Ingat; sahabat bukanlah MATEMATIKA yang bisa dihitung nilainya, bukan EKONOMI yang cuma mengharapkan materi, bukan pula PPKN yang menuntut hak/kewajiban, namun sahabat adalah SEJARAH yang bisa dikenang sepanjang jaman.

Ujung Ngalah, 02 Juni 2009

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Unknown mengatakan...

siiipp.... jangan lupa blog kudimasukkan list juga yah....

http://www.el-hakeem.co.cc

Posting Komentar