RSS
Tampilkan postingan dengan label Lettura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lettura. Tampilkan semua postingan

Meniti Piranti Kecerdasan Laduni

Judul Buku : Laduni Quotient (Model Kecerdasan Masa Depan)
Penulis : Ilung S. Enha
Penerbit : Kaukaba, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2011
Tebal : 192 halaman

Meniti Piranti Kecerdasan Laduni
Oleh Faizah SA
"Bukan seberapa cerdas Anda, tetapi bagaimana Anda menjadi cerdas!"
Ungkapan Howard Gardner dalam bukunya, Frames of Mind, itu mengirimkan pesan betapa mahal harga kecerdasan bagi manusia. Karena itu, kajian tentang kecerdasan manusia masih menjadi tema yang menarik diperbincangkan, baik dalam forum serius maupun santai seraya lesehan. Sebab, segala tingkah laku manusia sesungguhnya merupakan aspek turunan referensial sekaligus wujud dari kinerja saraf-saraf kecerdasan itu sendiri.

Bermula dari Kecerdasan Intelektual atawa Intelligence Quotient (IQ). Istilah IQ pertama kali dilontarkan Alfred Binet, seorang psikolog Perancis pada awal abad ke-20. Namun sebenarnya embrio konsep IQ disuluh Charles Spearman (1904) dengan teori Two Factor dan juga Thurstone (1938) dengan teori Primary Mental Abilities. Hatta, di kemudian hari Lewis Terman dari Universitas Stanford berupaya membakukan tes IQ yang selanjutnya dikenal dengan Tes Stanford-Binet.

Konsep IQ selama puluhan tahun diyakini sebagai parameter kecerdasan manusia yang terletak di otak bagian cortex (kulit otak). Daya kreasi hitungan, analogi, dan imajinasi inovatif merupakan ciri khas kecerdasan ini. Maka, tepatlah jika kecerdasan intelektual ditandai dengan istilah what I think.

Hingga menjelang akhir abad ke-20, dominasi kecerdasan intelektual mulai digoyang Daniel Goleman saat memopulerkan Kecerdasan Emosional alias Emotional Quotient (EQ). Seturut konsepsi Goleman, dengan kecerdasan emosi manusia sanggup mengenali perasaan sendiri di tengah jejaring relasi sosial, sehingga mampu mengelola letup-letup emosi ketika berinteraksi dengan sesama. Dengan demikian, IQ yang memuja paradigma linieritas mulai goyah dengan paradigma biner EQ. Manusia dianggap baik dan karena itu patut diapresiasi tidak semata-mata pintar dengan skor tes IQ tinggi, tetapi lebih-lebih lantaran ia mampu menempatkan diri secara sinergis-mutualistis dalam konteks interaksi horizontal. Para psikolog mengunci jenis EQ dengan istilah what I feel.

Namun belakangan EQ masih dirasa belum cukup di tengah deru era modern yang menghamba pada kecanggihan teknologi informasi ini. Manusia di era modern acapkali mengalami kegersangan spiritual. Lantas muncullah konsep Kecerdasan Spiritual atau Spiritual Quotient (SQ) di altar abad ke-21. Hasil riset Danah Zohar (Harvard University) dan Ian Marshall (Oxford University) yang dihelat dalam Spiritual Capital serta merujuk The Binding Problem karya Wolf Singer, menemukan adanya God Spot dalam otak manusia. God Spot ini dianggap sebagai pusat spiritual (spiritual center) yang terletak di antara jaringan otak dan saraf yang memintal jalinan makna terhadap pengalaman hidup. Intinya, SQ menuntun manusia mengarungi samudera kebermaknaan hidup.

Sampai di sini muncul ide kreatif Ary Ginanjar Agustian yang mencoba menggabungkan EQ dan SQ dengan cetusan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Dengan mengusung ESQ Ary Ginanjar hendak menjernihkan kembali pemikiran menutu God Spot, menciptakan format berpikir dan emosi bersandar pada kesadaran diri (self awareness), mengupayakan ketangguhan pribadi (personal strength) dengan mengacu pada asas-asas Rukun Islam, serta melakukan aliansi sinergis dengan lingkungan sosial.

Hanya saja konsepsi ESQ yang diusung Ary Ginanjar masih mengabaikan ruang ruhani dengan segala perangkatnya (dzauq, aql, shadr, fu’âd, qalb, bashîrah, dan lubb) yang beroperasi di wilayah hati. Bahkan masing-masing logika IQ, EQ, dan SQ pun setali tiga uang. Ketiganya takkan sanggup mengungkap kebenaran realitas dengan se­benar-benarnya dan seterang-terangnya. Apalagi arus globalisasi dan teknologi informasi yang terus bergelombang acapkali menciptakan pusaran persoalan yang pelik. Tak jarang manusia tiba-tiba tergeragap. Menyadari betapa akal buntu berpikir dan bebal. Emosi pun liar serupa daun kering yang mudah terbakar. Sampai-sampai terombang-ambing di tengah ketidakpastian.

Fenomena ini sering menghantui masyarakat modern di tengah realitas serba-tak-terduga (hiperrealitas). Potensi kecerdasan IQ, EQ, SQ, dan ESQ tak mampu lagi menjadi sandaran. Untuk itu, dibutuh­kan sebuah logika yang lebih luas dan lebih dalam dari itu. Dan, pada ruang inilah karya monumental Ilung S. Enha menemukan signifikansinya. Dengan trengginas, Ilung mendedahkan konsep kecerdasan baru, yakni Kecerdasan Laduni atau Laduni Quotient (LQ). Sebab, logika laduni merupakan pengejawantahan dari kecerdasan ruhaniah yang merupakan puncak akumu­lasi dari logika rasional, logika intuitif, dan logika spiritual.

LQ mengusung misi memadukan perangkat kecerdasan otak dan perangkat kecerdasan hati, untuk kemudian dihu­bung­kan ke pusat atmosfir energi ruh. Sebab, untuk dapat mem­fungsi­kan LQ dibutuhkan energi yang sangat besar. Sedangkan energi yang berkumpar di dalam hati, masih kurang mencukupi. Apalagi sekadar energi yang terkandung di dalam otak manusia.

Di ruang pusat atmosfir energi ruh terkandung segala bentuk energi yang dibutuhkan bagi keberlangsungan hidup ma­nusia dan guna mempercepat proses kecerdasan. Tak hanya ener­gi kecerdasan yang tersimpan di sana, melainkan juga ener­gi kesadaran, energi kekuatan, energi kecermatan, energi perce­pat­an, energi kesabaran, energi keikhlasan, energi gerak yang tiada kenal putus asa, energi niat dan kesungguhan, energi ino­vasi, energi hening dan kebeningan, serta sederet energi-energi lain yang bisa diurai sendiri.

Dan, buku ini bakal menuntun pembaca untuk meniti jembatan LQ. Buku ini secara jeli menyingkap celah-celah kosong yang dilewati IQ, EQ, SQ, dan ESQ. Berbeda dengan buku-buku kecerdasan lain yang kebanyakan bertutur tentang kecerdasan secara teoritis, buku ini beranjak lebih jauh. Wacana kecerdasan laduni tidak sekadar dihamparkan, akan tetapi dikaji dengan kritis untuk direkonstruksi, sehingga kesan kecerdasan laduni yang rumit dan berbelit-belit segera runtuh. Inilah kontribusi Ilung yang laik diapresiasi. Di tangan Ilung, kecerdasan laduni yang dianggap sebagian orang sebagai sesuatu yang berat menjadi ringan dan begitu santai.


*Oleh: Faizah SA,
Guru SMK Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengubah Hobi Jadi Profesi

Judul Buku: The Lonely Planet Story
Pengarang: Tony & Maureen Wheeler (Penerjemah: Reni Indardini)
Penerbit: B-First, 2009
Jumlah Halaman: 265
Peresensi: Meisia

Tidak ada cerita yang lebih menginspirasi di bidang karir dibanding cerita tentang karir (atau bisnis) yang dibangun dari hobi. Kisah Lonely Planet adalah salah satunya. Di buku ini Tony dan Maureen Wheeler, pasangan suami-istri pendiri salah satu perusahaan penerbitan panduan perjalanan terbesar di dunia itu, membagikan ceritanya.

Bagi mereka yang senang jalan-jalan, khususnya para backpacker, pasti nama Lonely Planet tidak perlu diperkenalkan lagi. Buku panduan perjalanan ini sangat akrab dengan para pelancong tipe baru --pada saat itu--yaitu tipe yang santai dan independen.

Kisah ini diawali dengan dua backpacker "kere" (pada waktu itu masih mahasiswa) yang melakukan perjalanan ke Australia dari Inggris. Sebagian perjalanan itu dilakukan dengan mobil butut, sebagian lagi menumpang angkutan umum. Semua itu kemudian menghabiskan uang mereka, dan hanya menyisakan 27 sen.

Bagaimana kemudian Tony dan Maureen melalui masa itu, serta apa yang menginspirasi mereka untuk mulai menulis buku panduan perjalanan, bagaimana mereka tumbuh dari backpacker usia dua puluhan --yang tak berduit tapi selalu ingin bepergian-- menjadi pemilik perusahan bernilai jutaan dolar yang sudah berusia lima puluhan, dan bisa dibilang perusahaan penerbitan panduan perjalanan tersukses di planet ini, semuanya dapat dibaca dalam buku ini.

Trinity, seorang backpacker, penulis blog dan buku bestseller The Naked Traveler mengomentari buku ini, “Buku-buku Lonely Planet menjadi kitab wajib bagi saya dan backpackers lainnya di dunia. Namun, buku inilah yang sangat inspiratif!”

Meskipun sedikit yang bisa dipetik dari segi manajemen sumber daya manusia, kisah ini dapat menginspirasi siapa saja yang pernah bermimpi mengubah hobi menjadi mata pencaharian. Pembaca bisa memetik hikmah dan belajar, bagaimana sebuah pekerjaan dijalankan dengan penuh passion dan bahkan telah menjadi hidup seseorang.

Seperti dituturkan Maureen Wheeler dalam pengantar buku ini. "Lonely Planet telah menjadi hidup kami. Kami menghidupi sekaligus dihidupinya, dan kami mencintainya. Meski tidak jarang ada halangan dan rintangan, Lonely Planet tak pernah membosankan.”

Setelah menceritakan petualangan yang spektakuler di Australia hingga Tony dan Maureen mendapat ide menulis buku panduan Lonely Planet edisi pertama mereka (Across Asia on The Cheap), bab-bab selanjutnya menceritakan pasang surut Lonely Planet sebagai sebuah usaha bisnis. Tentu saja buku ini tidak akan lengkap tanpa cerita tentang perjalanan-perjalanan luar biasa yang dilakukan Tony dan Maureen. Mereka tetap bekerja dan terus bepergian.

Salah satu hal yang sangat menarik, Indonesia, khususnya Kuta - Bali, termasuk dalam daftar 3K yang menjadi prioritas tempat yang harus dikunjungi para backpacker di Asia, selain Kabul dan Kathmandu.

Singkat kata, buku ini sangat menyenangkan dan inspiratif.


READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KALANG KABUT; Dari Kiai Kampung ke NU Miring

Judul Buku:
Dari Kiai Kampung ke NU Miring

Penulis:
Acep Zamzam Noer et.al

Penerbit:
Ar-Ruzz Media

Tahun Terbit:
2009

Jumlah Halaman:
248 hlm
Peresensi:
Abi S. Nugroho

Apa boleh buat, buku sudah dicetak. Pikiran sudah tertuang jadi catatan. Perasaan yang mengisi dada, tumpah-ruah. Semua itu digarap dengan baik menjadi buku berjudul "Dari Kiai Kampung ke NU Miring: Aneka Suara Nahdliyyin dari Beragam Penjuru".

Bersampul hijau tua muda, tertampak bayang manusia dalam ruang geraknya yang konstan. Berkostum sorban dan kopiah. Sigaret di sela jari. Itulah sampul ­bayangan, bergambar Nahdlatul Ulama tercetak miring. Pembaca akan mengerti maksud sampul dan judul, tentu ­dengan membaca secara cermat dan kritis kandungan isinya. Sosok bayangan itu. Entah siapa mereka. Maka, baca dan ketahuilah.


Buku ini menjadi bermutu karena ­mengandung energi kritik luarbiasa. Bukan sembarang kritik, melainkan mengupas seluk-lilu kehidupan kaum Nahdliyyin--kiai, santri, warga NU yang dianggap dan warga NU biasa tidak dianggap. Warga NU terbagi-bagi begitu rupa. Untuk, oleh dan kepada siapa. Egalite dan elite, struktural dan kultural, kota dan desa, tua muda, serius nggak serius, dan sebagainya. Sehingga menjadi amat manusiawi, buku semacam ini ditulis. Tentu jika kita membacanya, para penulis seolah "kalang kabut" menghadapi kenyataan yang terjadi di tubuh NU akhir-akhir ini, khususnya pasca-Muktamar NU ke 32 di Makassar.


Terdiri dari 248 halaman dalam tiga bagian. Didahului asbab an-nuzul NU miring oleh Binhad Nurrohmat selaku editor. Bagian pertama, menonton NU. Kedua, mengulas NU. Ketiga, mencanda NU. Seakan tidak mencita-citakan sesuatu yang muluk-muluk. Judul dan bagian isi memenuhi rasa bahasa kaum yang merasa memiliki masa depan. Mereka, kaum muda Nahdliyyin.


Ditulis sederhana dengan pilihan bahasa yang ringan tapi tajam. Mengalir mengisi ruang imaji pembaca, hingga selalu ada jeda menuai pertanyaan. Fakta diolah sedemikian rupa, sehingga jadi gurih sekaligus pedih. Nyaris tanpa kesalahan ketik pada ejaan.


Kalimat penutup di setiap tulisan, sangat berkesan. Seperti apa yang ditorehkan Acep Zamzam Noor berikut ini, "Kisah tentang NU mungkin tinggal episode-episode sinetron yang alur ceritanya klise, membosankan, dan mudah ditebak pemirsa." Mujtaba Hamdi, mengatakan "Usah berlebihan. Sebab di luar sana ada banyak mata menatap, dan tak semua mampu memahami gerak a la NU. Jangan sampai dikira sedang aksi goyang condong. Na'udzubillah..." dan Soffa Ihsan, menegaskan "Keteladanan itulah yang paling utama untuk diketahui. Sebab, ucapan tanpa ada bukti keteladanan takkan pernah bisa dipahami. "Wallahu a'lam bi al-sawab."


Semua komentar di atas terasa bernada kurang ajar, menggurui. Meski tidak tepat disebut demikian. Karena itulah cara mereka menyapa persoalan yang tengah dihadapi. Suatu kesantunan tersendiri melalui satu tulisan yang tertata. Sekadar harapan kecil yang pedas didengar oleh beberapa kelompok, lantaran itu keluar dari pendirian nurani.


Keberanian seorang penulis lain dalam melihat persoalan NU juga bisa kita amati pada buku ini pada bagian "Menonton". Sudah sepantasnya penilaian dihargai. Kritik dipelihara dan dijaga demi perbaikan ke depan. Eyik Musta'in Romly menyuguhkan kesegaran yang menjadi kunci tulisannya. Dia melihat bahwa, "Hal yang harus dilawan adalah para penunggang NU yang memanfaatkan kebesaran NU demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, bukan demi kemakmuran warga NU. Hal yang mesti dikritisi adalah ulama dan pemimpin NU yang mendoktrin dan membodohi warganya demi keuntungan pribadi dengan memanfaatkan kekayaan untuk merebut NU struktural/kultural serta merebut kursi kekuasaan NU tanpa akhlaqul karimah. Juga mereka yang memutar uang dengan mengeruk kekayaan dengan menjual nama NU." Kekhawatiran yang mengandung harapan. Perasaan dan penilaian itu tidak bisa dianggap remeh. Perlu dipikir ulang dan dicari bagaimana cara penyelesaiannya, kalau memang itu dianggap masalah. Hanya tulisan, tapi jika mengandung kebenaran, tetap perlu diperhitungkan. Akhirnya mau jadi NU yang bagaimana? Mana saja boleh! Sebegitu seriusnyakah menjadi NU?


Kok ada, NU Miring? Macam mana...!!! Adakah NU tidak miring, NU lurus, berkelak-kelok bahkan bergelombang? Tawaran berbagai istilah, boleh saja. Tapi kebiasaan semacam ini terkesan hiperjargon. Persoalan yang menentukan masa depan, merah dan hitamnya kebenaran, tidak diselesaikan dengan cara demikian. Sekadar jeda kelakar, boleh saja. Tapi itu pun lebih baik, selama masih bisa menjiwai kegembiraan dengan NU gembira bersama saudara Binhad, Monggo mawon...

______________________________
*http://www.wahidinstitute.org

READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KERANCUAN DI BALIK AKTIVASI OTAK TENGAH

Judul buku:
Membongkar Aktivasi Otak Tengah, Penemuan Terbesar di Dunia atau Penipuan Terbesar di Indonesa
Penulis:
Arif Virkill Yulian
Penerbit:
Galang Press, Yogyakarta
Cetakan:
Pertama, 2011
Tebal buku:
150 halaman
Peresensi:
Danuji Ahmad

Ada sebuah lelucon menarik, menggelitik, sekaligus asyik untuk kita simak bersama. Lelucon itu penulis dapat dari seorang guru sekolah dasar(SD), sewaktu penulis masih anak-anak. Kira-kira lelucon itu seperti ini ;“Otak orang mana yang ketika dijual harganya paling mahal, tentu adalah otak orang Indonesia, sebab barangnya masih bagus, karena sering tidak digunakan”, begitulah ujar guru SD itu. Semalaman penulis tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang dikatakan guru SD tersebut. Mengapa bisa ya ?, itulah sebuah pertanyaan yang terus mengganjal dalam pikiran penulis.

Akhirnya penulis mendapatkan jawaban dari lelucon guru SD itu, kira-kira jawaban itu seperti ini; Ternyata masyarakat Indonesia itu lebih menyukai hal-hal yang pragmatis, mementingkan hasil tanpa memperhatikan sebuah proses, akhirnya menghasilkan gaya hidup yang tidak produktif, kreatif, dan bahkan terkadang dapat menumpulkan daya kritis. Inilah yang kemudian jika dibudayakan terus-menerus, akan membuat daya kritis otak semakin berkurang.

Buku yang berjudul “Membongkar Aktivasi Otak Tengah, Penemuan Terbesar di Dunia atau Penipuan Terbesar di Indonesa”, karya Arif Virkill Yulian kurang lebih akan membahas seputar pola pikir masyarakat Indonesia yang cenderung instan. Akibatnya, ketika bisnis aktivasi otak tengah (Mesenchepalon) di buka di Indonesia, masyarakat Indonesia berbondong-bondong mengikutsertakan anaknya dalam progam ini. Animo masyarakat Indonesia yang tinggi ini, lahir karena progam yang di tawarkan aktivasi otak tengah ini cukup menggiurkan. Mampu membaca dengan mata tertutup, siapa sih yang tidak mau?. Tetapi, apa benar setelah otak tengah di aktivasi bisa membaca dengan mata tertutup, itu yang coba di bongkar dalam buku ini.

Otak tengah (mesenchepalon) sebenarnya bukan fenomena baru dalam dunia medis. Tetapi, sebagaimana Charles Darwin dengan teori evolusinya, kedatangan teori otak tengah juga disambut dengan pijar-pijar kontrovesi. Sudah pasti, ada yang pro dan kontra. Itu sudah lumrah dalam dunia keilmuan. Tetapi kedatangan teori otak tengah ini telah membuat geger dunia kedokteran dan para ilmuan. Apalagi keberadaanya justru diselewengkan dan disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan bisnis dan komediti semata.

Bersadarkan pengertian dari buku, Neuroanatomy Trough Clinical Cases, otak tengah secara anatomik adalah bagian penghubung forebrain dan hindbrain. Otak Tengah adalah tempat perlintasan arus elektrik, zat-zat neurokimia dari batang otak menuju otak besar, gangguan pada daerah ini dapat mengakibatkan terganggunya kesadaran. Dia tidak bisa berkerja sendiri untuk men-support tubuh manusia, dia juga merupakan bagian dari sistem limbik dan hipolatamus dalam menghatarkan impuls-impuls tersebut.(hal 33)

Tetapi dalam perkembangannya, teori otak tengah justru di selewengkan. Anehnya penyelewengan itu tumbuh subur di Indonesia. Otak tengah dalam arti fungsi dan kegunaanya telah diselewengkan untuk kepentingan bisnis dengan menawarkan berbagai macam fungsi yang keluar dari pengertian awalnya. Adalah kebanyakan otak tengah pada manusia itu tidak aktif, sehingga perlu di aktifkan, kemudian muncullah istilah aktivasi otak tengah itu sendiri.

Bahkan yang lebih mengerikan, aktivasi otak tengah bisa membuat orang bisa membaca dengan mata tertutup, membuat kerja otak lebih ekstra, menyetabilkan otak kanan dan otak kiri, membuat hormon tubuh stabill. Aktivasi otak tengah juga akan melipat gandakan kecerdasan otak secara dramatis dalam waktu yang singkat.

Teori otak tengah akhirnya melembaga serta di jadikan bisnis yang paling menggiurkan dewasa ini. Lembaga aktivasi otak tengah itu pertama kali berdiri di Malaysia dengan nama Genius Mind Consultancy (GMC) dengan anak-anak usia 5-15 tahun sebagai objek sasarannya dengan ongkos 3,5 hingga 5 juta per-anak.

Terkait dengan jasa-jasa itu, orang Indonesia tentu menempati posisi pertama yang tergiur untuk melakukan aktivasi otak tengah. Sudah pasti masyarakat Indonesia menyukai hal-hal yang pragmatis, instan apalagi program aktivasi otak tengah menawarkan jasa yang begitu menggiurkan, membaca dengan mata tertutup, melipat gandakan kerja otak secara dramatis. Tetapi benarkah setelah otak tengah di aktivasi orang bisa membaca dengan mata tertutup serta lainya?. Inilah fungsi penting hadirnya buku yang berjudul Membongkar Aktivasi Otak Tengah, karya Arif Virkill Yulian ini.
Dalam buku setebal 150 halam ini akan mengoreksi beberapa kerancuan di balik aktivasi otak tengah dengan berbagai jasa yang di tawarkan. Utamanya jasa yang menawarkan bisa membaca dengan mata tertutup. Arif Virkill Yulian penulis buku ini merasakan ada banyak kejanggalan, utamanya yang berkaitan dengan aktivasi otak tengah bisa membuat anak bisa membaca dengan mata tertutup. Sebab bagi penulis buku ini, tidak ada teori manapun yang bisa menjelaskan ada hal tersebut. Oleh sebab itu penulis mengadakan sayembara siapapun yang bisa membaca dengan mata tertutup hasil dari aktivasi otak tengah, akan mendapatkan beasiswa senilai 25 juta.

Kejanggalan-kejanggalan lain dari jasa aktivasi otak tengah akan di bahas dalam buku ini dengan rinci, kritis, sitematis serta di sertai data-data dan argumentasi dari sumber terpercaya. Sungguh hadirnya buku ini sangat penting untuk di baca, utamanya bagi pemerhati pendidikan anak, sebab hadirnya bisnis aktivasi otak tengah yang berkembang dan menjadi trend masyarakat Indonesia, sungguh sangat membahayakan, utamanya bagi genarasi penerus bangsa, anak-anak Indonesia.)

*Sumber: Kompas, 8 April 2011

READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS