RSS
Tampilkan postingan dengan label Etalase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Etalase. Tampilkan semua postingan

Kenapa Sri Mulyani Gagal Jadi Direktur IMF?



Sri Mulyani tidak bisa saingi Christine Lagarde untuk menjadii Direktur IMF. Bayang-bayang kasus bank Century menjadi momok yang melintasi heriditas personalitinya. Meski mantan Menkeu RI ini dinilai memiliki visi bagus untuk merevitalisasi kinerja IMF tapi bak pepatah melayu “Nila Setitik rusak susu sebelanga”

Meski begitu, Christine Lagarde perempuan Prancis yang terpilih duduki jabatan puncak di organisasi internasional itu pada 28 Juni lalu dinilai banyak pemerhati sebagai era globalisasi feminisme. Maklum, selama 66 tahun posisi direktur IMF-lembaga yang beranggotakan lebih dari 180 negara itu- selalu dalam genggaman kaum pria.

Sebelumnya Indonesia berharap jeng Sri ini bernasib bagus menjadi Direktur IMF. Ini penting. Soalnya, IMF adalah lembaga dunia yang bertanggungjawab dalam mengatur sistem finansial global sekaligus penyedia pinjaman kepada negara anggotanya. Andai Jeng Sri duduk di kursi itu maka kesulitan neraca keuangan Indonesia bisa lebih terantispasi.

Tapi lupakan Jeng Sri yang terpuruk di sudut aniomanik. Mari kita simak kesan Christine Lagarde saat diwawancarai untuk menetapkan dirinya terpilih sebagai Direktur IMF. “”Saat saya diwawancara selama tiga jam oleh 24 orang laki-laki, saya pikir baik dimana sesuatu sedang berubah sedikit,” ujarnya kepada para wartawan.

Menurut Christne apa yang diraihnya itu adalah pembenaran dari sebuah pemikiran bahwa wanita memiliki sepasang tonjolan dalam bentuk buah dada juga sepasang lekukan dalam bentuk dua lubang. “Artinya, wanita lebih menonjol sekaligus lebih memiliki pendalaman yang jauh dibandingkan pria,”ungkapnya pada BBC London. Tak aneh bila hal inilah yang membuat ia mampu menyisihkan saingan tunggalnya Gubernur Bank of Mexico Agustin Carstens.

Ibu dua anak itu menggantikan Direktur IMF sebelumnya, Dominique Strauss-Kahn, yang mengundurkan diri. Dominique Strauss-Kahn ditahan di Amerika karena terkait kasus seksual. Walau kemudian dia menyanggah semua tuduhan atas dirinya.

Kekalahan Sri dan kemenangan Christine menjadi pembicaraan hangat di kalangan konglomerat di lingkar luar istana. Ada yang menuding Christine bermain api. Tapi ini ditepis Schwab, pendiri dan eksekutif World Economic Forum .”Christine Lagarde memiliki pengalaman internasional yang luar biasa dan keberhasilan tertinggi di bidang profesi hukum, ditambah dengan masuknya dirinya ke panggung politik, membekalinya sebagai seorang menteri keuangan perempuan yang paling berbakat-reputasi diperkuat oleh nilai-nilai dan keyakinan personal yang kuat. “Kombinasi hati dan profesionalisme membuat dia seorang pemimpin yang luar biasa,” ujar Schwab.

Hal lainnya, dibandingkan Sri ternyata track record Christine memang menakjubkan! Christine Lagarde yang memiliki nama lengkap Christinee Madeleine Odette Lagarde, dilahirkan di Paris pada 1 Januari 1956. Lulus dari Le Havre and Bethesda (Md USA) di Holton Arms School. Kemudian dia memperoleh gelar Master of Arts dan sarjana di bidang Hukum dan Sosial. Meski ia bukan ekonom tapi ia pernah bergabung dengan biro hukum internasional Baker & McKenzie yang berbasis di Chicago. Pada 1995, dia diangkat menjadi anggota Komite Eksekutif biro hukum tersebut. Lantas, pada 1999 menjadi Komite Eksekutif. Terus? Pada 2004 dia menjabat sebagai Chairman of the Global Strategic Committee. Hal yang ajaib justri pada saat dia memimpin Baker & McKenzie. saat itu, pada 2004 dia berhasil meningkatkan pendapatan kotor sebesar 50%, membukukan pendapatan US$ 1.3 miliar.

Ini yang membuat Perdana Menteri Prancis Dominique pada Pada 2005 mendudukan menjadi Menteri Perdagangan. Tidak hanya berhenti di sini di era pemerintahan Nicolas Sarkozy, dia diangkat sebagai Menteri Pertanian, dan kemudian menjadi Menteri Keuangan pada reshuffle kabinet Prancis pada Juni 2007. “Luar biasa! Christine adalah Menteri Keuangan Perempuan Pertama di Prancis!”

Sri wajar kalah, ini dituturklan Harian The New York Times dalam sebuah paragraf paling menyakitkan hati Jeng Sri. Times gambarkan Christine Lagarde sebagai orang terdepan dalam penyelesaian krisis di Junani, Irlandia dan Portugal. “As the finance minister of one of Europe’s most powerful economies, Ms. Lagarde has been at the forefront of efforts to contain the European debt crisis, which has led Greece, then Ireland and Portugal, to seek bailouts to help them pay their huge sovereign debts.”

Sumber: kompasiana
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Godaan Utama Penulis dan Blogger

Menjadi penulis itu memang nikmat. Kalau tulisan dan blog yang kita olah itu disajikan nikmat, maka jangan heran kita mendapat banyak sahabat. Lewat hobi menulis dan ngeblog kita bisa menghasilkan buku dan finansial kita pun terangkat. Melalui menulis kita tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana. Blogger dan penulispun kadang diundang seminar sana-sini. Menulis juga sarana curhat dan bisa jadi terapi, membuat jiwa kita lebih sehat. Pokoknya menulis itu sungguh bermanfaat.

Hanya ijinkan saya berbagi sisi lain dari seorang penulis dan blogger. Ada beberapa godaan yang perlu kita waspadai. Jangan sampai kita menjadi berkat bagi orang banyak, tapi tidak mengasihi diri kita sendiri. Kita bermanfaat bagi sahabat blog kita, tapi tidak bagi pasangan, anak dan ortu sendiri.

1. Lupa menjaga kesehatan.
Begitu asyiknya ngeblog bisa membuat kurang tidur, minim olahraga dan makan tidak teratur. Karena terlalu asyik lebih banyak waktu di depan komputer. Kadang menjadi restless, sulit istirahat. Ada perasaan tidak nyaman saat tidak ada inspirasi menulis, tapi hati tidak betah kalau tidak menulis. Ada keinginan yang besar update blog, dst. Ada kalanya rasa tidak puas kalau tidak posting tulisan. Jika tubuh kurang tidur, makan tidak teratur ditambah stres bisa-bisa mengganggu kesehatan. Tubuh adalah anugerah yang perlu kita jaga dengan baik.


2. Mengabaikan anak dan pasangan.
Kalau seorang penulis asyik dengan idenya, dia tidak hanya lupa makan dan tidur. Dia bisa abai pada anak dan pasangan. Kadang bisa menghabiskan waktu 2 hingga 5 jam di depan komputer. Untuk menulis, memberi komen, update status, membalas email, dsb. Sementara itu berapa banyak waktu yang diberikan pada anak dan pasangan. Seorang yang hobi menulis atau hanya sekedar chatting bisa begitu “mendengarkan” sahabat FB, di twitter atau sahabat blognya. Tapi ironisnya dia jauh secara emosi dengan istri atau anaknya. Tidak bisa menjadi pendengar yang baik bagi ortunya.


3. Instant mentality.
Maunya instan, ingin cepat jadi penulis atau blogger terkenal. Sayangnya kita membaca buku dan jurnal sangat sedikit tetapi mau menulis banyak. Itu tidak mungkin. Akhirnya ada yang terjebak melakukan plagiat, kutip sana kutip sini tanpa cantumkan sumber asli. Sepertinya karya sendiri. In Sangat berbahaya, kalau ketahuan kita menjadi batu sandungan.


4. Kesombongan.
Kalau kita berhasil, tulisan kita banyak diapresiasi bisa menjebak jadi sombong. Kita merasa hebat. Pujian orang lain atas tulisan bisa membuat lupa bersyukur. Wujud kesombongan lainnya adalah kita takut diremehkan. Kita malu jika tulisan kita ternyata kurang diminati. Bisa juga dalam bentuk kita mudah marah dan kecewa saat dikritik orang lain, dsb.


5. Kecemburuan.
Kadang seorang penulis (blogger) bisa jatuh ke dalam sifat cemburu. Iri hati pada mereka yang tulisannya laku dan dibaca banyak orang. Lalu diam-diam mencari kelemahan atau kesalahan orang lain. Kita mencoba menyatakan kebenaran, tapi sayang dengan motivasi dan cara yang salah. Dengan menyerang, mempermalukan orang lain. Sifat ini sungguh merusak mental kita. Tulisan yang bertanggungjawab adalah membangun, bukan menghancurkan.


6. Sepi dunia nyata vs luber di dunia maya.
Seorang penulis atau blogger terkenal diam-diam bisa juga merasa kesepian. Dia ingin punya teman sebanyak-banyaknya lewat dunia maya, dan berhasil. Namun sayangnya dalam dunia nyata dia tidak cerdas bergaul. Di dunia maya tampak begitu berani dan sangat ramah, di dunia nyata minder, kasar dan penakut. Ini tentu kurang sehat. Keabadian persahabatan dunia maya itu sangat terbatas.


7. Kerohanian yang dangkal.
Jika banyak membaca informasi dan menulis bisa menjadikan kita overload syndrome alas Kelebihan beban. Kita tidak menyeleksi informasi dan acaan yang masuk. Bayangkan, berselancar di dunia maya dan blogging membuat kita luber informasi, belimpah teman. Kita kurang cerdas memilah dan memilih apa yang berguna. Kelebihan beban bisa membuat kita mengabaikan kesehatan spiritual dan kehidupan ibadah kita. Apakah itu secara pribadi, bersama keluarga atau di rumah ibadah. Lama kelamaan spiritualitas kita menjadi dangkal (shallow spirituality).


Semoga kita bisa berjaga-jaga agar tidak terjebak pada godaan-godaan di atas. Semoga bermanfaat, trimakasih sudah mampir dan vote


READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GAJAH MADA; Lahir di Pandaan?!!

Sejarah mencatat. Gajah Mada adalah Mahapatih Amangkubumi mumpuni dan berjasa besar pada Majapahit. Bahkan, nama besar Gajah Mada, di beberapa daerah, lebih dikenal dari pada raja-raja Majapahit, termasuk Hayam Wuruk atau Sri Rajasanagara (1350 – 1359) sendiri. Karena jasanya, Professor Muhammad Yamin menyebut Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara. Boleh jadi, konsep Negara Kepulauan Indonesia saat ini adalah visi dari Gajah Mada di tahun 1300 Masehi. Sekitar 7 abad lalu!

Dibalik ketenaran, keunggulan serta kecemerlangan di bidang ilmu politik pemerintahan, hukum serta kanuragan, namun asal usul, jati diri dan akhir hayat Gajah Mada masih menjadi teka teki. Gajah Mada muncul dalam sejarah saat menjadi Bekel (kepala) Bhayangkara , yaitu satuan pengawal raja Jayanegara. Gajah Mada mampu menyelamatkan raja ke Bedander karena ada pemberontakan yang dipimpin Kuti. Bahkan, dengan segala daya upaya dan kepiawaiannya, Gajah Mada mampu mengatasi pemberontakan dan mengembalikan Prabu Jayanegara ke dampar kencana tahta Majapahit. Menariknya, tidak mungkin bila Prabu Jayanegara mempercayakan keselamatannya kepada seorang “Gajah Mada” yang tidak diketahui asal usulnya! Ibaratnya, tidak mudah dan tidak mungkin bagi seseorang untuk menjadi bagian apalagi pimpinan Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden) bila tidak memiliki track record yang luar biasa dan istimewa!

Muhammad Yamin mengatakan Gajah Mada lahir di sebuah lembah di dekat sumber mata air Brantas. Di kaki Gunung Kawi dan Gunung Arjuno. Naskah Usana Jawa yang digubah di Bali menyebut bahwa tokoh sejarah kuno ini lahir di Bali. Menurut naskah ini Gajah Mada lahir dengan cara “memancar” dari buah kelapa sebagai penjelmaan Sang Hyang Narayana. Jadi lahir tanpa ayah dan ibu. Lahir karena kehendak dewa-dewa (Yamin 1977: 13 dalam Munandar 2010:1).

Babad Gajah Mada yang juga digubah di Bali menguraikan Gajah Mada berasal dari pertapaan Lemah Tulis. Ibunya Patni Nari Ratih yang bersuamikan Mpu Sura Darma Yogi, murid dari Mpu Raga Runting. Namun, Dewa Brahma terpesona dengan kecantikan Nari Ratih sehingga menanam benih dengan cara memaksanya. Akhirnya, suami istri ini pergi meninggalkan wilayah Lemah Tulis. Mereka mengembara sampai berbulan-bulan dan tiba di kaki Gunung Semeru. Di Desa Mada lahirlah sang jabang bayi laki-laki yang akhirnya diasuh oleh kepala Desa Mada. Kedua orangtuanya melanjutkan bertapa di Gunung Plambang. Kelak si bayi akan menjadi orang besar yang dikenal di seantero Nusantara.

Viddy Al Mahfud Daeri, seorang budayawan berpendapat, bahwa Gajah Mada lahir di Desa Modo yang termasuk Kabupaten Lamongan. Buktinya, di tempat itu ada petilasan yang dipercaya sebagai tempat kelahiran sang Mahapatih Amangkubumi. Akhirnya, Pemda Lamongan pun giat menelusuri bukti-bukti sejarah yang ada.

Interpretasi terbaru: Gajah Mada lahir di Pandaan. Demikian ungkap Agus Aris Munandar. Doktor dan dosen Arkeologi FIB UI. Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pagon. Cucu Macan Kuping, penghulu tua Desa Pandakan. Bila benar Pandakan yang sekarang, dulu berpangkal kepada Desa Pandakan si Macan Kuping, maka Gajah Mada lahir di Jawa Timur, di dataran tinggi Malang, daerah awal mengalirnya Sungai Berantas (Munandar 2010: 11)

Walau secara geografis Agus Aris Munandar tidak secara tepat menyebut Pandaan sebagai dataran tinggi di Kabupaten Pasuruan di kaki gunung Welirang – Arjuno, pendapat tersebut sangat menarik untuk didiskusikan. Apalagi interpretasi ini sangat dekat dengan perkiraan Yamin bahwa Gajah Mada lahir di kaki gunung Kawi dan Arjuno!

Berita Pararaton menyebutkan bahwa runtuhnya kraton Singosari adalah akibat serangan Jayakatwang dari Gelang-gelang/ Kediri Awalnya Raden Wijaya, menantu Kertanegara disertai dengan pengawal dan teman-teman setianya seperti Lembusora, Nambi, Ranggalawe, Gajah Pagon, Pedang Dangdi mencoba bertahan. Tapi akhirnya diputuskan untuk mengungsi ke utara. Gajah Pagon yang telah bertempur hebat melawan tentara Kediri terkena tombak di pahanya

Pararaton secara lugas dan panjang lebar menulis perjalanan Raden Wijaya yang mengungsi ke arah utara akhirnya tiba di hutan kawasan Telaga Pager. Diputuskan kemudian Raden Wijaya harus menuju Madura meminta perlindungan Arya Wiraraja. Akhirnya, dengan susah payah rombongan Raden Wijaya tiba di desa Pandakan dan diterima oleh kepala desa bernama Macan Kuping. Raden Wijaya disuguhi kelapa muda yang setelah dibuka ternyata isinya tak lain nasi putih.

Lebih jauh Pararaton menyatakan:

Gajah Pagon tidak dapat berjalan, berkata Raden Wijaya: “Penghulu Desa Pandakan saya titip seorang teman, Gajah Pagon tak dapat berjalan, agar ia tinggal disini”.

Berkatalah orang Pandakan: “Hal itu akan membuat buruk tuanku, jika Gajah Pagon ditemukan di sini, sebaiknya jangan ada pengikut tuanku yang diam di Pandakan. Seyogyanya dia berdiam di tengah kebun, di tempat orang menyabit rumput ilalang, ditengah-tengahnya dibuat sebuah ruangan terbuka dan dibuatkan gubuk, sepi tak ada yang tahu, orang-orang Pandakan membawakan makanannya setiap hari”

Dari berita ini, dapat ditafsirkan keadaan berangsur-angsur aman dan Gajah Pagon sembuh dari lukanya. Sangat mungkin ia lalu menikah dengan anak perempuan Macan Kuping. Setelah penghulu Desa Pandakan itu meninggal, Gajah Pagon menggantikan kedudukannya menjadi kepala Desa Pandakan. Kemudian keadaan semakin membaik. Majapahit berdiri dan Wijaya menjadi raja. Saat itulah teman-teman seperjuangan Wijaya mendapat kedudukan masing-masing walaupun berbagai sumber menyatakan ada yang tidak puas. Gajah Pagon tetap menjadi penguasa daerah Pandakan. (Munandar 2010: 11)

Tokoh yang menonjol di awal Majapahit, kala diperintah Raden Wijaya (Krtaraja Jayawardhana) yang menggunakan nama “Gajah” adalah Gajah Pagon. Sedangkan tokoh selanjutnya yang bernama “Gajah“ yang juga terkenal adalah Gajah Mada, di jaman pemerintahan Jayanegara. Nama “Gajah “ sesungguhnya berarti pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah, setia kepada tuannya dan berperilaku seperti hewan gajah yang akan menghalau semua penghalang! Jadi dapat diperkirakan bahwa Gajah Mada sejatinya adalah anak dari Gajah Pagon, salah seorang perwira dan pahlawan Majapahit yang terluka di Pandakan. Gajah Mada lahir dari hasil perkawinan Gajah Pagon dan putri Macan Kuping. Kedua “Gajah” ini punya nama dan sifat yang hampir identik!

Maka, mudahlah menerima alasan bila Prabu Jayanegara memilih anak muda bernama Gajah Mada untuk menjadi Bekel (Kepala) Bhayangkara, pasukan pengawal raja, karena Gajah Mada memang memiliki track record yang istimewa. Ayah Gajah Mada adalah perwira pilih tanding, setia kepada Raden Wijaya, tidak terlibat dalam berbagai kerusuhan yang muncul saat awal Majapahit berdiri karena ketidak puasan pembagian jabatan atau daerah. Gajah Mada sendiri adalah prajurit unggul baik secara lahir maupun batin karena gemblengan yang diperolehnya dari ayah dan tokoh-tokoh lainnya kala itu.

Bila Gajah Mada unggul dalam olah lahir dan olah batin hal tersebut dapat dengan mudah dipahami. Pandakan adalah termasuk lereng timur Gunung Penanggungan yang dulu disebut Pawitra. Gunung Penanggungan saat itu merupakan kiblat bagi masyarakat Majapahit. Di gunung suci inilah banyak terdapat mandala-mandala dan ke-resi-an tempat menggembleng berbagai macam ilmu. Baik ilmu ajaran keagamaan. yoga, mitologi, serta ilmu duniawi seperti ilmu pemerintahan, hukum, politik kerajaan, strategi perang dan mungkin juga dasar geografi Nusantara (Munandar 2010: 15). Tak heran, bila akhirnya, Gajah Mada menjadi tokoh Majapahit yang mumpuni dan memiliki visi jauh ke depan.

Masih ada pertanyaan. Dimanakah letak Telaga Pager? Benarkah Pandakan jaman dahulu sama dengan Pandaan sekarang? Hasil penelusuran Hadi Sidomulyo terhadap berita Negarakertagama, Telaga Pager terdiri dari dua nama, Pager dan Telaga. Desa Pager 2 km di utara Damar (termasuk Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari). Sedangkan Telaga merupakan nama lama dusun Kucur (Sumberejo) yang letaknya 3 Km di barat daya Pager. Ini jelas tidak bertentangan dengan berita Pararaton, yang menyatakan dari Telaga Pager, Raden Wijaya menuju Pandakan sebelum ke Rembang lalu menyeberang ke Madura.

Nama Pandakan juga muncul dalam kitab Negarakertagama yang selesai ditulis tahun 1365, “ ahina muwah ri tambak i rabut wayuha balanak linakwan alaris anuju ri pandhakan ri bhanaragi amgil…" (Pada hari berikutnya ia melalui Tambak, Rabut Wayuha dan Balanak menuju Pandhakan dan Bhanaragi…) (Sidomulyo 2007: 84)

Tambak adalah dusun di Desa Lemahbang, 14 km dari Purwosari, Rabut Wayuha tak lain daripada Suwayuwo, 2 km di utara Lemahbang. Balanak dan Bhanaragi tak dikenal lagi. Dari urutan nama tempat itu jelas, Pandhakan tentu saja adalah Pandaan sekarang!

Pandhakan jaman dulu adalah identik dengan Pandaan sekarang juga didukung uraian Piagam Kudadu bertahun 1294, dikeluarkan oleh Kertarajasa Jayawardana berdasarkan pengalamannya saat mengungsi ke Madura. Prasasti Kudadu yang berasal dari Gunung Buthak, Trawas Mojokerto menceritakan terima kasih raja Kertarajasa kepada ketua dusun Kudadu yang pernah menerimanya dengan ramah waktu singgah dalam perjalanan ke Madura. Saat mengungsi Raden Wijaya dalam masalah besar. Namun ketua dusun Kudadu menerimanya dengan ramah dan memberinya makan dan minum. Kemudian mengantarnya ke Rembang untuk melanjutkan menyeberang ke Madura. Demikianlah dapat disimpulkan, nama Kudadu sebenarnya identik dengan Pandak/Pandhakan atau Pandaan sekarang.





READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Belajar dari Hikayat Osama

Akhirnya Osama bin Laden tewas di tangan pihak yang pernah menjadi mitra atau disebut-sebut ikut melahirkannya: militer Amerika Serikat. Akhir hidup yang tragis seperti dialami Saddam Hussein. Kedua tokoh itu pernah menjadi sekutu AS, tetapi setelah pecah kongsi berbalik menjadi musuh nomor wahid.

Bagi korban kekerasan aksi teror yang pernah dilancarkan oleh jaringan Tanzim Al Qaeda, organisasi teror bentukan Osama bin Laden, kematian Osama pantas disyukuri dan dianggap sebagai balasan yang setimpal dengan kekerasan yang pernah ia lakukan. Bagi yang mendukung Osama bin Laden, kematian ini kian mengobarkan dendam dan diprakirakan akan ada serangan balas dendam.

Kematian Osama bin Laden dianggap mampu memukul telak jaringan terorisme global. Meskipun bukan pukulan yang mematikan, paling tidak itu cukup ampuh melemahkan kekuatan lawan. Namun, tak sedikit yang meragukan anggapan ini. Abu Haniyah, analis jaringan terorisme yang dikutip Al Jazeera pada 2 Mei lalu, berpendapat, tewasnya Osama tak berpengaruh banyak terhadap jaringan Al Qaeda.

Menurut Abu Haniyah, aksi terorisme yang meledak di beberapa kawasan dunia sebelum ini belum tentu melalui kendali langsung Osama. Meskipun ada keterkaitan ideologis, dari sisi operasional aksi teror itu merupakan operasi yang bisa dianggap mandiri dan terpisah dari Al Qaeda pusat.

Selain itu, tokoh nomor dua dalam Al Qaeda setelah Osama, Ayman Al Zawahiri, tak berhasil dicokok. Maka, kematian Osama bukanlah akhir terorisme.

Terorisme yang hanya dikaitkan dengan Osama dan Al Qaeda merupakan pendapat yang sudah usang dan dipaksakan. Kalau kita amati, aksi-aksi teror yang hingga saat ini terjadi di Indonesia tidak lagi dilakukan oleh individu dan jaringan yang memiliki keterkaitan langsung dengan organisasi Al Qaeda. Mereka berasal dari generasi baru terorisme yang terpengaruh ideologi Al Qaeda.

Maka, pertanyaan penting ke depan bukan lagi apakah kematian Osama ini berpengaruh terhadap jaringan terorisme global, melainkan bagaimana memutus mata rantai kekerasan dan terorisme yang sudah berkembang biak sangat cepat. Menurut hemat saya, dengan atau tanpa Osama, terorisme akan terus mengancam.

”Anak haram” kekuasaan
Osama bin Laden adalah sosok yang pernah menjadi mitra intelijen AS dalam perang melawan Uni Soviet pada 1979-1989, yang dikenal sebagai Operation Cyclone. Soviet sebagai negara komunis yang antiagama dan Tuhan serta menduduki Afganistan menjadi musuh bersama aliansi intelijen dan militer Amerika, Pakistan, dan Arab Saudi.

Aliansi ini memanfaatkan milisi sipil orang-orang Arab di Timur Tengah yang nanti disebut Arab Afgan. Dalam kelompok ini ada Osama bin Laden dan gurunya, Abdullah Azzam. Dalam konteks inilah Osama dipakai dan dibentuk untuk melawan tentara Soviet.

Namun, setelah kongsi politik pecah, milisi Arab Afgan—yang pada kemudian hari di tangan Osama menjadi Tanzim Al Qaeda ini—melancarkan aksi teror di negara-negara yang sebelumnya sohib mereka: di AS terjadi peristiwa 11 September 2001, di Arab Saudi serangan di Riyadh, dan kekerasan-kekerasan lain di Pakistan. Kita pun disadarkan, pihak yang memanfaatkan kelompok dan milisi kekerasan untuk menghadapi lawan akhirnya akan membalikkannya kepada mereka yang melahirkannya.

Tiba-tiba saya teringat nasib Sang Imam, tokoh dalam novel yang ditulis oleh Nawal el Saadawi berjudul Suqûth al-Imâm atau Jatuhnya Sang Imam. Novel ini berkisah tentang seorang pemimpin (imam) politik dan agama yang memiliki anak dari hubungan gelap. Imam ini tidak mau mengakui anaknya itu dan membungkus dirinya dengan pencitraan moral. Akhirnya imam itu mati di tangan anak yang diingkarinya.

Novel Saadawi tersebut sebenarnya alegori untuk kekuasaan yang jatuh dalam hubungan gelap dengan kemunafikan dan kekerasan. Novel ini terinspirasi oleh kematian Sadat, Presiden Mesir yang ditembak mati kelompok garis keras Tanzim Al Jihad dan Jemaah Islamiyah, Oktober 1981.

Bagi Saadawi, kelompok-kelompok Islam garis keras di Mesir itu merupakan ”anak haram” yang lahir dari rahim politik Sadat. Kelompok-kelompok itu awalnya didukung penuh oleh Sadat. Mereka dimanfaatkan dalam konfrontasi melawan Israel, sementara di dalam negeri mereka dipakai untuk mengebiri kekuatan nasionalisme (kiri) Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir sebelum Sadat.

Seperti Sang Imam yang berkedok moralitas agama dan akhirnya jatuh oleh anaknya yang berasal dari hubungan gelap, politik luar negeri AS juga sering berlindung di balik nilai-nilai luhur, seperti kebebasan dan demokrasi, tetapi tak jarang memanfaatkan kelompok garis keras atau menggunakan kekerasan yang mereka daku untuk menyebarkan nilai-nilai luhur itu.

Memutus rantai kekerasan
Dari penjelasan itu, saya tidak hendak mengajak pembaca untuk memaklumi kekerasan. Saya tidak ingin mengatakan aksi-aksi terorisme hanyalah reaksi belaka atau balas dendam yang dilancarkan oleh pelakunya karena sasarannya dituding punya saham dalam kekerasan itu.

Korban terorisme, khususnya masyarakat sipil, tidak terkait sama sekali dengan kekerasan. Namun, dalam konteks ini mereka bukan hanya korban pelaku teror, melainkan juga korban dari kebijakan politik pemerintah mereka yang bisa dijadikan dalih untuk balas dendam.

Untuk itulah mata rantai kekerasan harus diputus bukan dengan cara kekerasan dilawan dengan kekerasan. Cara ini akan semakin memperpanjang mata rantai kekerasan. Segala penggunaan potensi kekerasan sejak awal harus ditentang.

Strategi gelap yang pernah dilakukan untuk mendukung atau membentuk Osama dan jaringannya atau kelompok-kelompok garis keras dan milisi-milisi sejenisnya tidak bisa dibenarkan sama sekali. Osama adalah hikayat yang tidak bisa dilepaskan dari politik luar negeri dan operasi militer AS.

Maka, tantangan terberat AS di bawah pemerintahan Obama di dunia internasional dan dunia Islam khususnya hanya bisa dijawab bukan dengan pidato saja. Namun, apakah strategi politik luar negerinya tidak lagi melahirkan ”Osama-Osama” yang baru pada masa depan atau tak lagi menggunakan operasi-operasi militer yang bisa dijadikan dalih sebagai reaksi balas dendam.

Bisakah kita belajar dari hikayat Osama?


READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MANIPULASI KESADARAN; "Sebuah Cara Penjinakkan Perlawanan Rakyat"

Tidak semua rakyat suatu negara (tak terkecuali Indonesia) yang ditindas penguasanya akan mengambil sikap antagonis dan kemudian melakukan resistensi, bahkan terkadang dengan tanpa sadar mereka justru memberikan legitimasi dalam berprosesnya regimentation baik yg berawatak politik (Orde Baru) maupun kapital (orde 'reformasi'). Fakta semacam itu dilihat dari sudut pandang akal sehat, tentu terasa janggal. Sebab normalnya, sebagaimana yang populer di dunia psikologi, setiap represi (penekanan, paksaan, kekerasan)--apalagi dikombinasikan dengan eksploitasi--akan melahirkan resistensi (pembangkangan, perlawanan).

Memang, secara psikologis mereka sadar bahwa mereka diperlakukan secara tidak wajar oleh orang-orang yang seharusnya memberikan pengayoman, yakni pemerintah.Namun alih-alih mereka menggalang kekuatan dalam rangka melakukan perlawanan, mereka justru memberikan landasan yang kokoh bagi paraktik-praktik politik yang eksploitatif, dengan menyerahkan diri sebagai gedibal kepada rejim penguasa. Sehingga, akibatnya penguasa dengan 'nyaman' melakukan berbagai tindak kejahatan, karena apa yang dilakukannya seolah menjadi legitimate.

Jika yang terjadi tidak seperti yang seharusnya, itu pasti ada sesuatu yg tidak normal. Karena itu perlu dipertanyakan mengapa rakyat yg tertindas tidak melakukan perlawanan, dan dalam waktu yang sama menerima posisinya yang subordinate, sekedar sebagai objek pemerasan?

Bertolak dari kondisi ini, Antonio Gramsci ( 1891-19870) melihat kenyataan bahwa rejim penguasa berusha menjinakkan kekuatan rakyat sehingga mereka tidak bisa mengembangkan respon psikologis lain, kecuali hanya tunduk tanpa reserve dengan mereka. Selain melalui dominasi atau paksaan, rejim juga menggunakan apa yang dinamakan "hegemoni". Hegemoni adalah cara kelas sosial untuk memperoleh keunggulan (supremacy) bukan melalui kekerasan, melainkan melalui mekanisme konsensus. Jadi hegemoni, pada hakikatnya adalah upaya menggiring orang agar menilai dan memandang problematika sosial dalam kerangka yang ditentukan oleh kelas atas.

Dalam praktiknya, hegemoni dijalankan oleh rejem penguasa (kelas yang dominan) dengan memaksa rakyat (kaum tertindas) untuk menerima nilai-nilai, gagasan-gagasan, dan ideologi-ideologi yang dimilikinya. Bagaimana caranya penguasa menyuntikkan nilai-nilai, gagasan-gagasan, dan ideologi-ideologi itu ke dalam kesadaran rakyat? Menurut Gramsci, nilai-nilai, gagasan-gagasan, dan ideologi-ideologi itu ditansmisikan melalui institusi-institusi yang ada dalam masyarakat yang menentukan struktur kognitif dan afektif masyarakat : lembaga pendidikkan, agama, partai politik, media massa, dan lain-lain. Dalam lembaga-lembaga itulah penguasa melakukan manipulating terhadap kesadaran rakyat dengan memonopoli diskursus pengetahuan dan pemahaman sehingga kesadaran rakyat compatible dan sesuai dengan kesadaran penguasa.


*Dari seorang sahabat
Lujeng Sudarto
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ujian Nasional (UN) Dan Ujian Kejujuran

Setelah menuai kritik, akhirnya Ujian Nasional (UNAS) SMU tanggal 18-21 April 2011 dihelat. Seperti tahun sebelumnya, pemerintah optimis UNAS tahun ini bersih dari kecurangan. Bahkan menurut Mendiknas Mohammad Nuh, tema besar UNAS 2011 adalah “Prestasi Yes, Jujur Harus” (Jawa Pos, 11/4/2011). Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi kecurangan UNAS. Salah satunya adalah menggunakan lima paket soal yang dibagikan secara acak berdasarkan nomor peserta ujian nasional (Kompas, 7/04/2011).

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menutup kecurangan UNAS. Ibarat air mengalir, masalah kecurangan UNAS mengalir silih berganti. Meskipun antisipasi kecurangan telah disiapkan dan pemerintah kerap kali masih kecolongan. Merujuk pepatah “Sudah barang tentu penjahat lebih pintar dari pada aparat”. Sama halnya dengan soal kecurangan UNAS, dalam situasi terdesak murid akan memilih jalan pintas dan penyelenggara pendidikan akan meradang setelah ketahuan publik aksi tersebut. Lebih ironis apabila ternyata aksi tersebut tidak luput dari peran serta penyelenggara pendidikan.

Tiap helatan UNAS, pihak sekolah dan murid nyaris tak luput diradang masalah. Bagi sekolah, kerja keras agar peserta didik lulus adalah keharusan. Sebab tingkat kelulusan menjadi credit point penilaian publik terhadap lembaga pendidikan. Hal tersebut tentu diabsahkan, sebab motivasi peningkatan mutu menjadi terpacu. Hanya saja, penyelenggara pendidikan kerap kali menghalalkan segala cara sehingga proses pendidikan menjadi tidak sehat lagi. Sementara bagi peserta didik, kelulusan merupakan ukuran keberhasilan pendidikan selama 3 tahun. Bahkan tak jarang murid menganggap kelulusan merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

Fenomena kecurangan UNAS tentu menjadi ironi dunia pendidikan. Ditengah merosotnya kualitas out put pendidikan masih terjadi sebuah proses yang tak dibenarkan dalam pendidikan itu sendiri. Sebagai sebuah transfer of knowledge, pendidikan memiliki tugas transformasi nilai agar peserta didik mampu memilah dengan baik. Jika demikian, pendidikan memainkan peranan penting dalam lanskap membangun jati diri bangsa. Proses pendidikan senantiasa meniscayakan bangsa menjadi bermartabat. Melalui pendidikan sebenarnya nasib bangsa telah dipertaruhkan. Oleh karena itu, maraknya kecurangan dalam UNAS menjadi potret keterpurukan dunia pendidikan sekaligus bagi generasi bangsa.

Masalah mendasar UNAS adalah rendahnya kejujuran. Untuk menuai target kelulusan, murid kerap kali mencari jalan pintas. Kecenderungan ini didorong; Pertama, standar tunggal. Sebagai sebuah proses, penilaian pendidikan hendaknya berdasarkan proses murid selama menempuh satuan pendidikan. Bukan hanya awal apalagi akhir (UNAS), melainkan dari proses belajar mengajar keseluruhan. Sehingga tatkala penilaian kelulusan pendidikan menggunakan standar tunggal UNAS, proses belajar mengajar dalam satuan pendidikan tak berimplikasi terhadap keberhasilan pendidikan. Lebih jauh, materi proses belajar mengajar seringkali berbeda dengan soal UNAS. Pendek kata, UNAS menjadi standar tunggal kelulusan murid dan senantiasa mengesampingkan proses belajar mengajar.

Kedua, lemahnya pengawasan mulai dari proses cetak, pelaksanaan ujian hingga penilaian akhir UNAS. Saat ini, proses cetak soal UNAS tidak dalam pengawasan ketat (Jawa Pos, 12/04/2011). Lebih lanjut, lalu lalang karyawan percetakan soal UNAS memungkinkan terjadi kebocoran jawaban. Tahun sebelumnya, kasus kebocoran jawaban menjadi bukti nyata rendahnya proses pengawasan (monitoring). Bahkan tak jarang untuk menuai target kelulusan pengawas UNAS membantu membocorkan jawaban soal UNAS.

Ketiga, buramnya mentalitas. Kebocoran jawaban maupun kecurangan UNAS lainnya merupakan potret kegagalan pendidikan dalam membangun karakter (character building). Pendidikan masih belum mampu mencetak mental identitas sehingga watak peserta didik tidak mampu melakukan internalisasi nilai dalam pendidikan. Yang terjadi adalah out put pendidikan kita kian larut dalam gerusan watak bangsa lain. Dalam konteks UNAS, peserta didik merasa minder dengan kemampuannya sehingga mengantarkan pada pencarian jalan pintas semisal mencontek. Lebih jauh, implikasi rapuhnya bangunan karakter ini mengantarkan kehilangan jati diri bangsa Indonesia.

Ketiga faktor diatas yang mendorong murid melakukan kecurangan. Mencapai target kelulusan bukan perkara instan, melainkan dibentuk melalui proses panjang. Jika merujuk pada mekanisme penilaian UNAS tahun ini, prosentase penilaian kelulusan dari UNAS 60 % dan rapor, ujian sekolah sebesar 40 % (Jawa Pos, 11/4). Dengan demikian, prosentase penilaian UNAS 2011 kian menegaskan proses belajar mengajar mendapat tempat dalam penilaian kelulusan.



Perlu Ada kejujuran
Masalah klasik pelaksanaan UNAS adalah proses yang berpijak pada kejujuran. Bukan hanya peserta didik melainkan juga penyelenggara pendidikan. Keduanya memiliki andil besar menuju keberhasilan pendidikan. Pendidikan kita menegaskan nilai kejujuran sejak dini bukan hanya menciptakan tenaga ahli. Mengutip Peter J.I.G.M. Drost, S.J. (2005), tidak perlu semua orang menjadi ahli, tetapi perlu semua menjadi dewasa. Pendidikan menjadi dasar kedewasaan intelektual dan kepribadian. Oleh karena itu, ketika UNAS diwarnai dengan kecurangan maka hal tersebut berbalik dari tujuan pendidikan. Kejujuran seluruh pihak menjadi syarat utama dalam proses UNAS.

Tanpa kejujuran pendidikan mustahil memiliki kontribusi dalam membangun karakter bangsa (character building). Sebaliknya, pendidikan hanya menjadi ritus masyarakat yang tak berimplikasi apapun. Hal ini tentu tidak kita inginkan. Dengan demikian, selain menjadi moral force, pendidikan merupakan wahana membentuk watak jati diri bangsa. Tidak hanya itu, perlu ada pembentukan moral dan intelektual yang dilakukan sekolah dan mendapat pembenaran dari murid. Hubungan kedua antar sekolah dan murid merupakan syarat mutlak pertumbuhan sejati dari komitmen kepada nilai, dalam konteks UNAS adalah kejujuran.


*Dari seorang sahabat
Aries Fakhruddin As'ad
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

OTAK TENGAH

Otak tengah atau mesencephalon (dari bahasa Yunani mesos –tengah, dan enkephalos – otak) adalah bagian sistem syaraf pusat yang berasosiasi dengan penglihatan, pendengaran, pengendalian gerakan, tidur/bangun, kesadaran dan pengaturan suhu.
***
Secara anatomis, ia mencakup tektum (atau corpora quadrigemina), termentum, mesocoeli ventrikuler (atau iter), dan pedunkel serebral, dan beberapa nuklei dan fasciculi. Secara kaudal, mesencephalon bergabung dengan pons (metencephalon) dan secara rostral bergabung dengan diencephalon (talamus, hipotalamus, dsb). Otak tengah berada dibawah korteks serebral, dan diatas otak bawah yang terletak di dekat pusat otak.

Perkembangan
Selama fase perkembangan janin, otak tengah muncul dari vesikel kedua tabung syaraf atau vesikel mesencephalon. Berbeda dengan dua vesikel lainnya, prosencephalon dan rhombencephalon, mesencephalon tetap tak terbagi selama perkembangan syaraf selanjutnya. Ia tidak membelah menjadi daerah-daerah otak lainnya, sementara prosencephalon, misalnya, membelah menjadi telencephalon dan diencephalon.

Sepanjang perkembangan janin, sel-sel di dalam otak tengah terus memperbanyak diri dan menekan Akuaduk Sylvius (akuaduk serebral) yang sedang terbentuk. Penghambatan parsial atau total akuaduk serebral selama perkembangan dapat membawa pada hidrosepalus kongenital.

Peran fungsional
Mesencephalon dipandang sebagai bagian batang otak. Substantia nigranya sangat berasosiasi dengan jalur sistem motorik ganglia basal. Mesencephalon manusia berasal usul archipallian, yang berarti arsitektur umumnya juga dimiliki vertebrata paling purba. Dopamin yang diproduksi dalam substantia nigra berperan dalam motivasi dan kebiasaan spesies dari manusia hingga hewan paling dasar seperti serangga.

Corpora quadrigemina
Corpora quadrigemina (badan kuadruplet) adalah empat cuping optik padat di sisi dorsal akuaduk serebral, dimana pasangan superior posterior yang disebut colliculi superior dan pasangan inferior posterior yang disebut colliculi inferior. Keempat cuping optik padat ini membantu memilah beberapa serabut syaraf optik. Walau begitu, sebagian serabut juga menunjukkan penyusunan ipsilateral (yaitu mereka sejajar di sisi yang sama tanpa memilah). Colliculus superior terlibat dalam gerakan mata saccadis; sementara yang inferior adalah titik sinapsis untuk informasi suara. Syaraf troklear datang dari permukaan posterior otak tengah, dibawah colliculus inferior.

Pedunkel serebral

Pedunkel serebral adalah struktur berpasangan,hadir di sisi ventral akuaduk serebral, dan membawa tegmentum pada sisi dorsal dan cresta atau pes pada sisi ventral, serta keduanya mengakomodasi serabut saluran kortikospinal, dari kapsul internal (yaitu saluran naik + turun = saluran longitudinal.) Bagian tengah pedunkel serebral membawa substantia nigra (materi gelap) yang merupakan sejenis nukleus basal. Ia merupakan satu-satunya bagian otak yang membawa pigmen melanin.

Diantara pedunkel terdapat fosa interpeduncular, yang merupakan sistern berisi cairan serebrospinal. Syaraf okulomotor keluar dari antara pedunkel, dan syaraf troklear tampak menyelimuti bagian luar pedunkel. Okulomotor bertanggung jawab untuk konstriksi pupil (parasimpatetik) dan gerakan mata.

Tampilan anatomis penampang lintang menembus otak tengah
Otak tengah biasanya terbagi pada level coliculi superior dan inferior.
  • Potongan melintang transversal pada level coliculus superior menunjukkan nukleus merah, nukleus syaraf okulomotor (dan nukleus Edinger-Westphal), pedunkel serebelar superior atau crus serebri dan substantia nigra.
  • Potongan melintang horizontal pada level coluiculus inferior masih memperlihat substantia nigra. Juga tampak nukleus syaraf troklear, dan pemilahan pedunkel serebelar superior.
  • Kedua bagian akan menunjukkan akuaduk serebral, yang menghubungkan ventrikel ketiga dan keempat dan bahan abu-abu periakuaduktal.
Salah satu mnemonik untuk mengingat struktur otak tengah melibatkan visualiasi penampang lintang mesencephalik sebagai wajah beruang terbalik. Kedua nuklei merah adalah mata beruang dan pedunkel serebelar adalah telinga.

Aktivasi Otak Tengah
Otak tengah telah aktif semenjak lahir. Jika tidak, kita tidak akan dapat memiliki fungsi utama otak tengah seperti melihat, mendengar, mengendalikan gerakan, tidur, bangun dan terjaga serta pengaturan suhu tubuh. Fungsinya juga tidak dapat ditingkatkan kecuali dengan mengorbankan fungsi otak lainnya karena fungsi otak telah mencapai 100% potensi semenjak usia sekitar 5 tahun.


*Sumber: Wikipedia. Midbrain
http://www.faktailmiah.com/2011/04/23/otak-tengah.html
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Memahami Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Dampak Pendidikan Karakter
Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.

Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.


*Oleh: Prof. Suyanto, Ph.D
http://waskitamandiribk.wordpress.com/2010/06/02/urgensi-pendidikan-karakter/
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

UJIAN NASIONAL; yang menyesatkan

WASWAS, kekhawatiran dan kekalutan yang dialami para siswa menjelang penyelenggaraan UN muncul karena kebijakan pendidikan yang berlaku saat ini memang mengharuskan siswa sekolah/madrasah mengikuti ujian seragam tersebut.

Pada 2005 beberapa orangtua, murid, guru, dan pemerhati pendidikan menyadari bahwa UN menimbulkan kecemasan dan ketidakberdayaan. Mereka kemudian menggugat bahwa penyelenggaraan UN melanggar hak asasi anak. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat lalu mengabulkan gugatan ini.

Pemerintah justru naik banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta dan terakhir mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung atas keputusan Pengadilan Tinggi Jakarta yang menguatkan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kasasi ini pun ditolak Mahkamah Agung pada September 2009.

Namun, tahun 2010 Menteri Pendidikan Nasional tetap menyelenggarakan UN, bahkan mempertinggi tensi kecemasan dengan berbagai upaya melibatkan polisi sebagai pengawas dan para pejabat tinggi serta kepala dinas pendidikan wilayah menandatangani akta kejujuran. Janji akan berbuat jujur ini adalah bukti ketidakpahaman para pejabat pendidikan terhadap keputusan Mahkamah Agung.

Setiap tahun upaya yang dilakukan hanya mengantisipasi ancaman terhadap kemungkinan terjadinya kecurangan. Namun, ragam antisipasi tersebut justru dirasakan sebagai ancaman yang mempertinggi kecemasan.

UN adalah pelaksanaan dari Pasal 57 Ayat (1) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, ”Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.”

Paling tidak kita dapat menyoroti kelemahan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dalam tiga hal: Melanggar HAM, Cacat Hukum dan Tidak Profesional.

1. Melanggar HAM
Sesungguhnya pada 2005 beberapa orangtua, murid, guru, dan pemerhati pendidikan yang menyadari bahwa UN menimbulkan kecemasan dan ketidakberdayaan telah mengadu ke pengadilan negeri. Mereka menggugat bahwa penyelenggaraan UN melanggar hak asasi anak. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengabulkan gugatan ini. Pemerintah justru naik banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta dan terakhir mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung atas keputusan Pengadilan Tinggi Jakarta yang menguatkan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kasasi ini pun ditolak Mahkamah Agung pada September 2009. Jadi sangat jelas sekali bahwa UN melanggar HAM khususnya hak-hak asasi anak. Ironisnya sang penguasa yang seharusnya memerhatikan keputusan hukum ini malah melakukan preseden buruk di dunia pendidikan. Sudah melanggara HAM cacat hukum pula UN ini.

2. Cacat Hukum
Dari paparan di atas jelas sekali bahwa UN ini telah melanggar HAM anak dan cacat hukum. Namun, tahun 2010 Menteri Pendidikan Nasional tetap menyelenggarakan UN, bahkan mempertinggi tensi kecemasan dengan berbagai upaya melibatkan polisi sebagai pengawas dan para pejabat tinggi serta kepala dinas pendidikan wilayah menandatangani akta kejujuran. Janji akan berbuat jujur ini adalah bukti ketidakpahaman para pejabat pendidikan terhadap keputusan Mahkamah Agung.

Bagaimana negara ini akan tumbuh dan berkembang dengan baik jikalau pemegang amanah pengelolaan negara ini melakukan perbuatan yang tidak taat asas dan tidak patuh hukum. Pantaslah karut marut hukum di negara ini tak kunjung usai karena para elitenya dengan sangat mudah menabrak rambu-rambu hukum dan tidak etis. Tidak perlu seorang ahli hukum mengatakan UN cacat hukum karena sudah terang benderang UN bermasalah secara hukum tetapi toh tetap saja sang penguasa bertindak "otoriter" memaksakan kehendak demi berjalannya pernecanaan yang telah mereka buat berikut anggaran proyeknya walau hal ini melanggara tatanan hukun dan kepantasan yang seharusnya dijunjung tinggi para elite apalagi di dunia pendidikan. Alamat miskinnya contoh teladan dari sang elite.

Keputusan Mahkamah Agung tidak menyalahkan timbulnya kecurangan dalam UN, tetapi menunjukkan bahwa UN adalah praktik yang melanggar hak asasi anak, yaitu rasa aman. Seharusnya yang dilakukan Kementerian Pendidikan Nasional bukan mencegah kecurangan dengan mengerahkan polisi dan janji para pejabat, melainkan menghapuskan kecemasan, ketakutan, dan ketidakberdayaan yang tidak hanya dirasakan siswa, tetapi juga guru dan kepala sekolah.

3. Tidak Profesional
Jika kita menanyakan para pakar pendidikan maka sebagian besar dari mereka pasti mengatakan bahwa secara akademik ilmu pendidikan UN yang dilakukan ini tidaklah mengukur sesungguhnya kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki peserta didik (siswa). UN ini sangat rendah tingkatannya untuk mengatakan bahwa bangsa ini telah berhasil menghasilkan insan cerdas yang berakhlak mulia sebagaimana diamanahkan UUD 45. Masih sangat jauh!

Lantas kenapa pemerintah "sok tahu" bahwa UN sangat penting hingga dibela-bela diselenggarakan setiap tahun walau melanggar dan cacat hukum serta tidak didukung secara ilmiah? Jawabannya berpulang kepada "nafsu" penguasa yang sering jauh dari rasionalitas karena cenderung ingin memperoleh hasil instan di dunia pendidikan dengan berharap prosentase kelulusan siswa naik dari tahun ke tahun dan angka minimal kelulusan pun naik dari masa ke masa.

UN dianggap segala-galanya dan segala-galanya perlu UN. Ini pandangan keliru dari sang pemangku kepentingan pendidikan.

Lebih jauh lagi kalau kita tengok UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 Pasal 58 Ayat (1) adalah pasal yang mengatur evaluasi hasil belajar peserta didik, bukan "penilaian akhir penyelesaian jenjang pendidikan".

Di sana tertuang, "Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan."

Jadi, kebijakan UN sebagai keputusan Mendiknas tidak mempunyai dasar hukum dan bertentangan dengan keputusan Mahkamah Agung sehingga cacat hukum, melanggar HAM dan tentu tidak profesional karena ditentang secara akedemik ilmu pendidikan.

Hari-hari ini dipertontonkan betapa penyelenggaraan UN telah membuat situasi terasa tegang dan tidak nyaman. Ketegangan, kecemasam menghantui banyak pihak tidak hanya bagi peserta didik (siswa) orang tua, guru dan kepala sekolah tetapi juga Kepala Daerah.

Kenapa demikian? Karena hasil UN juga dianggap sebagai hasil kemajuan daerah di bidang pendidikan. Sehingga UN seolah sebagai suatu gengsi, martabat, prestise daerah di era otonomi sekarang ini.

Jadi, tidak hanya Kepala Sekolah yang terdengar menginstruksikan para guru berupaya maksimal "menghalalkan segala cara" tetapi Kepala Daerah juga ikut "mengatur" kepala sekolah agar sekolahnya berhasil meluluskan sebanyak-banyak siswa.


*oleh: Aries Musnandar

http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/1599
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BIEBER FEVER; Sindrom Justin Bieber di Indonesia

TANGIS puluhan remaja itu tidak seusai pengumuman ujian nasional (UN). Mereka, umumnya pelajar SMP dan SMA, bukan menangis bahagia karena lulus atau kecewa gagal UN. Mereka menangis karena tidak dapat melihat langsung sang idola.

Sejak pagi, Jumat (22/4), puluhan remaja penggemar Justin Bieber menunggu di pintu keluar Terminal 2D, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang. Namun, remaja asal Kanada ini keluar pukul 15.16 melalui Terminal 2F. Begitu mengetahui tak bisa melihat langsung Bieber, mereka menangis histeris.

Konser Bieber di Indonesia digelar Sabtu (23/4) malam, tepatnya di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor. Puluhan ribu penggemar Bieber, mulai remaja hingga ibu-ibu, memadati SICC. Kendati harga karcisnya cukup selangit untuk ukuran remaja dari keluraga kurang mampu.

Berikut kelas dan harga pada konser Bieber: Gelang Merah Rp 1,65 juta, Gelang Biru Rp 1,5 juta, Gelang Hijau Rp 1,15 juta, Gelang Silver Rp 750.000, Gelang Oranye Rp 500.000, Gelang Pink (pengantar) Rp 50.000.

Bieber datang bertepatan dengan negeri ini sedang dihebohkan kasus bom, mulai bom bunuh diri di Cirebon hingga temuan bahan peledak 150 kilogram di Gading Serpong, Tangerang, Banten. Bertepatan pula dengan musim UN.

Meski demikian, sihir Bieber cukup ampuh melupakan semua itu. Para remaja, juga ibu-ibu, yang tak mampu beli tiket konser Bieber, membanjiri Glodok Plaza, Jakarta. Mereka memborong VCD-DVD Bieber. Mereka lupa Jakarta sedang Siaga Satu menyusul temuan bom di Serpong menjelang Paskah.

Bukan hanya remaja, artis seksi Julia Perez (Jupe) pun mengaku kelupaan agenda pentingnya. Gara-gara nonton konser Bieber, ia lupa menjalani sidang perdana kasus perseteruannya dengan Dewi Persik. "Gue nonton ini bikin lupa sama kasus itu," ujar Jupe kepada wartawan di SICC, Sabtu (23/4) jelang tengah malam.

Bieber sempat pula melupakan sejenak Briptu Norman Kamaru, yang kini sedang panen undangan pentas. Berkat lipsing Chaiyya-Chaiyya, yang dipopulerkan aktor Bollywood Shahrukh Khan pada 1998, dimuat di YouTube, Norman mendadak jadi kondang. Ia sedikit mirip awal mula perjalanan karier Bieber.

Bieber memang inspiratif bagi remaja. Remaja kelahiran Stratford, Ontario, Kanada, 1 Maret 1994, ini sejak kecil sudah memiliki bakat dan ambisi, baik dalam memainkan alat musik maupun olah suara. Penyanyi pop dan R&B itu menjadi sensasi di Amerika Serikat pada 2009 setelah ditemukan oleh Scooter Braun melalui video kompetisi menyanyi lokal "Stratford Star" di Ontario yang dipublikasikan di YouTube oleh ibunya pada 2007. Dalam kompetisi itu Bieber meraih peringkat kedua.

Scooter Braun, seorang agen pencari bakat dan mantan marketing eksekutif perusahaan So So Def, melihat video ini dan memutuskan untuk mempertemukan Bieber dengan Usher untuk audisi. Singel pertamanya berjudul One Time, diterbitkan secara serentak di seluruh dunia pada 2009, menduduki peringkat 30 besar di lebih dari 10 negara.

Album pertamanya, My World, menerima penghargaan platinum di Amerika Serikat. Bieber pun menjadi penyanyi pertama yang memiliki tujuh lagu dari album pertama yang keseluruhannya berhasil mendapat peringkat di Billboard Hot 100, sebuah daftar lagu terkemuka yang sedang digemari.

Kepopulerannya di seluruh dunia dalam waktu singkat dikenal sebagai "Bieber fever" (demam Bieber). Julukan ini diberikan pada penggemarnya dengan obsesi yang berlebihan terhadap Justin Bieber.

Banyak artis yang mengalami Bieber fever, di antaranya Jennifer Love Hewitt dan Beyonce. Di Indonesia, bukan hanya Jupe yang BF, maksudnya singkatan dari Bieber fever. Masih banyak deretan artis tanah air yang bangga masuk daftar BF.

Tidak mau ketinggalan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Sampai-sampai ia jadikan Bieber sebagai barometer kondisi keamanan negeri ini. Menurut Wacik, terselenggaranya konser Justin Bieber bukti Indonesia aman. Nah!


*http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/47308/Bieber-Fever
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 FAKTA 17 AGUSTUS 1945, Tidak Diajarkan di Sekolah

Tujuh belas Agustus merupakan hari besar kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada tanggal tersebut, 64 tahun yang lalu merupakan hari paling bersejarah negeri ini karena di hari itulah merupakan awal dari kebangkitan rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan sekaligus penanda awalnya revolusi. Namun, ada beberapa hal menarik seputar hari kemerdekaan negeri kita tercinta ini yang sayang jika belum Anda ketahui.

1. Soekarno Sakit Saat Proklamirkan Kemerdekaan
Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00 (2 jam sblm pembacaan teks Proklamasi), ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Saat itu, tepat di tengah2 bulan puasa Ramadhan.

'Pating greges', keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta.

Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. 'Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!', ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya; masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai...

2. Upacara Proklamasi Kemerdekaan Dibuat Sangat Sederhana
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor, dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama lebih dari 300 tahun!

3. Bendera dari Seprai
Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!

4. Akbar Tanjung Jadi Menteri Pertama “Orang Indonesia Asli”
Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar 'orang Indonesia asli'. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. 'Orang Indonesia asli' pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan (1988-1993)

5. Kalimantan Dipimpin 3 Kepala Negara
Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

6. Setting Revolusi di Indonesia Diangkat Ke Film
Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, 'Tahun Vivere Perilocoso' (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film - dalam bahasa Inggris; 'The Year of Living Dangerously'. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan Australia yg ditugaskan di Indonesia pada 1960-an, pada detik2 menjelang peristiwa berdarah th 1965. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!

7. Naskah Asli Proklamasi Ditemukan di Tempat Sampah
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

8. Soekarno Memandikan Penumpang Pesawat dengan Air Seni
Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang.

9. Negatif Film Foto Kemerdekaan Disimpan Di Bawah Pohon
Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

10. Bung Hatta Berbohong Demi Proklamasi
Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama 'Abdullah, co-pilot'. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi.

Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Dandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa 'Abdullah' itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya.'You are a liar !' ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru.

*http://www.gangsadar.com/2011/01/10-fakta-17-agustus-1945-tidak.html
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DUNIA MASIH BUTUH TERORIS

Terorisme, sekalipun tidak disukai dan melanggar Undang Undang, tetap saja merupakan kebutuhan untuk kepentingan yang lebih besar. Lihat saja Osama Bin Laden. Teroris yang paling berbahaya. Teroris yang paling dicari seantero dunia. Benarkah dia teroris? Menurut saya bukan.

Apa?? Coba ulangi lagi? .. Osama Bin Laden bukan teroris.

Teroris adalah orang yang melakukan teror, mengakibatkan kematian banyak orang. Itu benar. Tentara juga berperang dan membunuh banyak orang, dia bukan teroris. Tapi melakukan tugas negara. Untuk kepentingan negara.

Lalu apa hubungan statement ini?

Aksi Osama dalam menghancurkan WTC, menurut saya adalah upaya penyelamatan ekonomi Amerika. Saat itu, ekonomi Amerika terpuruk. Diambang kehancuran. Maka terjadilah peristiwa 9/11 itu. Menara Kembar ditabrak pesawat. Runtuh. Padahal seluruh kegiatan perekonomian Amerika ada di situ. Mampuslah Amerika. Seharusnya begitu.

Tapi apa yang terjadi? Ternyata kegiatan perekonomian Amerika yang berada di dalam gedung itu diasuransikan ke Jepang dan Inggris. Perekonomian Amerika langsung pulih. Amerika diuntungkan dalam peristiwa 9/11. Lalu dilancarkanlah serangan, pencarian besar-besaran terhadap Osama Bin Laden. Pemasok senjata diuntungkan lagi.

Semua kegiatan Osama Bin Laden ini, ternyata menguntungkan Amerika. Mau tidak mau, saya berkesimpulan bahwa Osama bekerja untuk Amerika. Bukan untuk ideologi yang diusungnya. Dia bukan orang yang sekedar dimanfaatkan oleh Amerika, karena terencana dan ada pihak yang dimunculkan sebagai kambing hitam. Umat Islam. Terutama yang terlibat aksi ini. Mereka mengira mati berjihad untuk agama dan negaranya, padahal mereka mati berjihad buat menyelamatkan Amerika. Ironis.

Secara sporadis, apakah teroris tumbuh sendiri, atau sengaja ditumbuhkan, tetap saja ada kebutuhan menggunakan teroris untuk kepentingan yang lebih besar. Celakanya, yang paling mudah dijadikan dasar sebagai alasan melakukan terorisme adalah agama. Dan yang paling mudah direkrut adalah orang-orang fanatik yang tidak menggunakan akal sehatnya.

Gunakan akal sehat. Jadilah cerdas.


- Esther Wijayanti –
http://www.estherwijayanti.co.cc/2011/04/dunia-masih-butuh-teroris.html
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HIDUP ITU; Ternyata Sangat Sederhana....

Hidup itu sederhana; ambil keputusan, lakukan dan jangan menyesalinya

***
Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.
”Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.”

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.
”Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.”

Seorang anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik.” Ibu menjawab: “Mengapa?” Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.”
”Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.”

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.” Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku.”
”Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.”

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?” Ada yang menjawab: “Cari mulai dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang cekung ke dalam.” Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling tinggi.” Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana.”
”Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.”

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.” Katak di pinggir jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.” Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
”Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.”

Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: “Mengapa engkau begitu santai?” Dia menjawab sambil tertawa: “Karena barang bawaan saya sedikit.”
”Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.”
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

AIR MENGAJARKAN KITA TENTANG ILMU HIDUP

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Kemana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya. “Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh, “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari! Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.

Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’ (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”
__________________________
*kaskus.us
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

IWAN FALS: Cintailah Masjid & Qur'an, Semua Persoalan di Sana Jawabannya

Musisi dan penyanyi Iwan Fals mengajak penggemarnya yang tergabung di Orang Indonesia (OI) untuk mencintai masjid dan Al-Qur'an. Di masjid bisa mengadu kepada Allah, di dalam Al-Qur'an ada jawaban atas semua persoalan hidup.

"Masjid adalah tempat kita mengadu kepada Allah," kata Iwan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Sukamelang Subang Jawa Barat, Ahad petang (3/4/2011), dalam rangkaian tur ke 99 pesantren bersama kelompok Ki Kanjeng Ganjur pimpinan Al-Zastrow.


Suatu ketika, para pentolan OI bercerita kepadanya bahwa selama ini banyak orang bertanya tentang apa saja kepadanya, bisa dijawab dan mendapatkan solusi terbaik. "Nah, giliran dia punya masalah bingung harus bertanya pada siapa," ujar Iwan.


Maka, ketika persoalan tersebut disampaikan kepada Iwan, dengan spontan dia menjawabnya, "Datanglah ke masjid. Sebab, di sana kita bisa mengadu kepada Allah."

….Datanglah ke masjid. Sebab, di sana kita bisa mengadu kepada Allah….
Sejak peristiwa itu, kata Iwan, di sejumlah daerah yang ada pesantren yang menjadi sasaran kunjungannya, massa OI selalu bersama-sama membersihkan dan shalat di masjid.

Merindukan Al Qur’an

Pencipta dan pelantun Oemar Bakri, Bento dan Bongkar ini juga mengaku sangat merindukan Al-Qur'an untuk mengisi hari-hari hidupnya ke depan. "Sebab semua persoalan hidup, jawabannya ada di dalam Qur’an," kata Iwan.

Ia mengaku tersadar tentang kehebatan Qur’an ketika menyaksikan seorang qoriah pesantren Miftahul Ulum usai mengajinya lalu membawanya dengan cara memeluknya. "Dalam benak saya lalu berkata, (Qur’an dipeluk) pasti ada apa-apanya," ujar Iwan.


Dia lalu bertanya pada Al-Zastrow, sahabat karibnya yang faham tentang Islam. "Kata dia (Al-Zastrow), karena Qur'an bisa menjawab semua persoalan hidup."

….Al-Qur'an bisa menjawab semua persoalan hidup, sebab semua persoalan hidup jawabannya ada di dalam Qur’an….
Maka, ayah Galang Rambu Anarki itu memutuskan untuk membuka-buka sekaligus membaca dan memahami serta melaksanakan titah ayat-ayat yang terkandung di dalam Qur’an itu. "Selama ini saya senang baca buku, tapi, nggak ada yang bisa menjawab sekaligus memecahkan berbagai macam persoalan yang dihadapi," tutur Iwan.

Iwan mengungkapkan tentang sejumlah surat dalam Qur’an yang menerangkan tentang kehidupan. "Misalnya, surat Al-Ashri tentang menghargai waktu dan Al-Ma'un tentang kasih sayang kepada sesama," ujarnya.


Diam-diam, pesohor lagu-lagu balada yang pernah menjadi juara lomba azan sewaktu di SD itu mulai lancar berbicara bahasa dakwah dan menyitir ayat-ayat Qur’an, maka, Al-Zastrow pun kemudian tak pelak memanggil Iwan dengan sebutan Kiai Haji Iwan Fals. Hadirin pun menyambutnya dengan tepukan tangan.
______________________________
*http://www.voa-islam.com

READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KRITIK-KONTRUKTIF EKSISTENSI HUKUM: ANSOS MENUJU REKSOS

Dalam pembukaan UUD 1945 – bagian penjelasan – disebutkan dengan jelas dan tegas bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechsstaat) dan bukan negara yang berdasarkan atas kekuasaan belaka (machsstaat).

Menurut Roman Herzog, ide pokok yang melatar-belakangi munculnya konsep “negara berdasarkan atas hukum / rule of law” adalah bahwa negara dibentuk untuk mengatur kepentingan manusia, mengedepankan pembangunan rakyat. Dari situ sangatlah jelas bahwa negara didasarkan atas hukum (rule of law) menolak secara tegas adanya negara totaliter (totalitarian state) yang mampu mencetak setiap setiap individu berhamba kepada ideologi – ideologi dalam pengertian negatif.

Dalam konsepsi rule of law, yang menjadi garapan pokok atau sentral aktivitas suatu negara adalah harkat dan martabat manusia dan sekaligus dijadikan suatu standar dan parameter dalam menentukan arah tindakan suatu negara. Jadi – intinya – tugas utama negara adalah sebagai pelayan terhadap kepentingan yang dimiliki seluruh rakyat /warga dengan tanpa adanya praktik diskriminasi.

Namun, ketika kita mengamati realitas sosial melalui praktik analisa sosial – tentunya. Kayaknya, istilah “negara berdasarkan atas hukum / rule of law” hanya sebatas – sekedar – retorika dan jargon belaka tanpa adanya implementasi yang cukup berarti. Karena kita tahu, ketika kita melakukan kajian fenomenalogis melalui pendekatan realitas-praksis sosial yang ada, kayaknya, salah satu cikal-bakal utama munculnya berbagai macam bentuk konflik dan kekerasan di berbagai daerah adalah kondisi hukum kita yang sangat lemah.

Ditambah lagi dengan berbagai bentuk praktik-praktik diskriminasi dan marjinalisasi dalam penjatahan dan pengaturan sosial-ekonomi, politik, dan pemanfaatan sumber daya alam (SDA), sehingga – arah kedepannya – muncullah berbagai perasaan ketidakadilan dan ketidakpuasan publik, yang pada akhirnya berkecamuk dan meledak menjadi tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan dan mengerikan.

Hal itu merupakan salah satu bukti bahwa hukum kita telah menjadi sumber utama yang menyebabkan timbulnya berbagai konflik dan kekerasan di negara indonesia ini.

Dari situ sudah jelas bahwa konsep negara hukum hanya sekedar wacana tidak menumbuhkan nilai-nilai implementatif yang bisa membawa kerukunan dan keseimbangan antar elemen masyarakat.

Kita patut mengatakan bahwa periode otoritarian yang intens selama – kurang lebih – tiga dasawarsa telah menghasilkan sistem hukum represif yang tidak saja dirasakan akibatnya secara langsung oleh masyarakat tetapi secara tidak langsung telah membentuk kesadaran, perilaku, dan struktur sosial yang bersendikan pada kekerasan sebagai norma utama.

Tengok saja, misalnya, tindakan penganiayaan, pembunuhan serta tindakan-tindakan yang lain yang dilakukan dalam berbagai peristiwa main hakim sendiri atau konflik di berbagai daerah justeru memperoleh dukungan dan pengesahan dari lingkungan masyarakat sekitar. Akibatnya ketika aparat keamanan mengambil tindakan hukum terhadap pelakunya, masyarakat justeru memberikan reaksi balik dengan menuntut pembebasan pelaku dan menyerang aparat keamanan. Kayaknya – seakan-akan – kekerasan merupakan keharusan moral yang harus dilakukan untuk menyelesaikan suatu masalah / konflik.

Karena telah mnenyangkut kesadaran, perilaku, dan struktur sosial yang relatif mapan. Maka pembaharuan terhadap hukum yang harus kita lakukan akan membutuhkan waktu yang relatif lama, ini karena masalahnya bukan saja menyangkut produk-produk hukum berupa perundangan-undangan, kebijakan administrasi atau putusan hakim, tetapi menyangkut pula kesadaran hukum dan struktur sosial yang menopangnya.

Pembaharuan hukum harus dilakuakan untuk melembagakan prosedur demokratis sebagai pola pengaturan, pengambilan keputusan dan penyelesaian konflik ditengah masyarakat. Dan kita harus menjadikan hukum sebagai mekanisme bersama yang mungkin adanya partisipan masyarakat dalam setiap prosesnya. Dalam hal ini hukum tidak lagi dipandang – semata-mata – sebagai norma / aturan belaka, tetapi lebih jauh dari itu sebagai mekanisme pragmatik untuk menyelesaikan konflik secara damai.

Selain itu, pembaharuan hukumpun harus diletakkan dalam konteks transformasi sosial yang lebih luas. Karena pembaharuan hukum bukan sekedar penyusunan produk perundang-undangan. Yang lebih penting dari itu adalah menjadi bagian strategi pelembagaan nilai-nilai dan perilaku demokratik yang dalam praktiknya dapat dilakukan melalui berbagai kebijakan dan penegakan hukum yang responsif terhadap perkembangan masyarakat.
________
Oleh : Achmed Nur Rachim
Mahasiswa Univ. Yudharta Pasuruan, prodi Adm. Niaga Angkatan 2002
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PESANTREN SEBAGAI MINIATUR KELUARGA

Kata keluarga memang sering sekali menyapa telinga kita, yaitu sebuah tatanan yang kadang terdiri dari orang tua dan anak atau mungkin dalam cakupan yang lebih lebar lagi dimana ada eyang, paman, dan lain sebagainya. Namun, tidak hanya berhenti sampai di sana karena tidak kalah sering juga kita jumpai istilah keluarga besar suatu pendidikan, misalnya. Lantas, apakah keduanya memang tepat memakai istilah keluarga? Perlu diketahui jika ternyata pengertian keluarga ada yang dikaitkan dengan hubungan darah dan sosial. Keduanya masih terbagi dalam definidi yang sempit dan luas.

A. Definisi Keluarga
Berdasarkan hubungan darah:
a. Extended family. Keluarga yang terdiri atas unsur yang lengkap. Dimulai dari Eyang sampai pada keturunan selanjutnya yaitu cicitnya cicit. Misalnya: keluarga besar Bani Ihsan.
b. Prokreasi. Keluarga yang hanya terdiri dari anggota inti, yaitu orang tua dan anak saja.
Berdasarkan suatu hubungan:
a. kesamaan latar belakang pendidikan, letak geografis, profesi, dan lainnya. Misal: Ikatan Dokter Gigi Indonesia.
b. masih ada hubungan darah dalam skala luas, yaitu marga.

B. Lahir dan Alasan Terbentuknya Keluarga

Keluarga terdiri atas beberapa orang yang hidup bersama untuk jangka waktu yang lama. Adapun latar belakang pembentukannya akibat adanya rasa keseikatan dan kebersamaan yang menimbulkan kerelaan untuk menerima anggota apa adanya sekaligus beradaptasi dengannya. Hubungan tersebut tidak akan terbina jika tidak didasari oleh kasih sayang. Menurut Barber alasan pembentukan keluarga didasari oleh “desire of recognition and response” yaitu keinginan untuk mendapatkan sambutan dan penghargaan, meliputi keinginan untuk hidup bersama dan terjalin hubungan take and give sehingga muncullah ketenteraman lahir dan batin.

C. Fungsi Keluarga

Fungsi dari keluarga bermacam-macam. Kita bisa membedakannya, tetapi tidak bisa memisahkannya. Dan yang terpenting adalah tidak ada fungsi yang lebih utama karena fungsi tersebut tergantung pada kebutuhan untuk mencapai keutuhan dan kelancaran kehidupan. Adapun fungsi tersebut adalah; fungsi edukasi (pendidikan dan pembinaan), proteksi (perlindungan dari penyimpangan norma), sosialisasi (pendampungan dalam kehidupan bermasyarakat), afeksi (menumbuhkan rasa empati), religius (kesadaran akan kewajiban terhadap Tuhan), ekonomis (efektivitas dan efisiensi harta umtuk kemaslahatan keluarga, rekreasi (kondisi damai dan terlepas dari ketegangan dan kepenatan), dan biologis (terpenuhi kebutuhan jasmani, misal: makan).

D. Lini Keluarga

Sebagaimana artikel yang dilansir oleh Waka. Pondok putri pada edisi beberapa minggu lalu mengenai definisi keluarga harmonis. Penulis menanggapi bahwa definisi tersebut sangat tepat. Why? Keluarga harmonis adalah keluarga yang didalamnya terdapat unsur sinergitas pada seluruh elemen pembentuknya, yaitu orang tua dan putra-putrinya.

Unsur sinergitas meliputi lini yang bersifat vertikal dan horizontal. Lini vertikal terdiri atas orang tua dan anak. Termasuk di dalamnya berisi tata cara bersikap antara orang tua dengan anak. Hal tersebut teraktualisasi dalam tertatanya iklim kasih sayang yang bertujuan memberikan beberapa dampak pada anak yang akhirnya akan mendatangkan feedback untuk orang tua.


Lini horizontal yaitu lini yang sama statusnya, baik pada lini ibu dengan bapak sebagai orang tua atau adik dengan kakak yang menempati lini anak dalam keluarga. Lantas, bagaimana bersikap pada lini ini? Jawabnya adalah wajib ditumbuhkembangkannya sikap saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing. Dalam posisi ini masalah yang rentan adalah mengenai keadilan dalam pemenuhan hak. Adil bukan berarti sama rata atau digebyah uyah, akan tetapi pemenuhan hak berbanding lurus dengan kewajiban yang diemban seseorang. Seperti halnya pekerjaan rumah, mungkin adik diberi sedikit tugas berupa membersihkan halaman rumah sedang kakak bertugas lebih dari sekedar bebersih sampai tersedianya makanan di meja makan. Pemberian tugas tersebut tidak lain bertujuan untuk memeberikan pembelajaran tentang tanggung jawab. Di sisi lain, kakak mendapat uang saku yang lebih banyak dari adik dikarenakan tanggung jawab dunia pendidikannya lebih memerlukan banyak uang untuk mengerjakan tugas, misal.


E. Pesantren Sebagai Miniatur Keluarga

Jika kita tengok struktur pesantren kita ini, maka jelas sudah elemen pembentuknya, yaitu terdiri atas pengasuh yang merupakan orang tua dan pengurus sebagai kakak dari elemen yang diurus (grass root). Hubungan antara pengasuh dengan santri berpola vertikal dan hubungan pengurus dengan elemen di bawahnya berpola horizontal (mengingat status pengurus dan yang diurus adalah sama-sama santri). Dengan demikian apa saja yang menjadi hak dan kewajiban dalam kedua pola tersebut harus benar-benar dijaga keseimbangannya.

Pada pola horizontal khususnya, segala yang menjadi hak santri (mendapatkan jaminan keamanan, fasilitas yang layak, kebebasan berpendapat, kebebasan berkreasi, dan lainnya) semaksimal mungkin mendapatkan jaminan pengembangan. Hal tersebut telah terbukti dengan dilaksanakannya berbagai kegiatan yang telah dijalankan oleh masing-masing biro dalm kepengurusan. Misalnya, Biro Jam’iyah yang bertugas mempersiapkan output pesantren yang siap terjun di masyarakat melalui kegiatan muhadloroh yang didalamnya terdapat unsur pelatihan MC, Qori’, Sari Tilawah, Da’i, dan Kreasi Seni, lalu Biro H&I dengan kegiatan pelatihan Pembuatan Karya Tulis, dan beberapa kegitan biro lainnya. Akan tetapi jangan pernah lupa untuk memenuhi kewajiban sebelum mendapatkan hak.


Kewajiban santri diantaranya; pertama membayar syahriah. Karena dengan disiplin membayar syahriah semua kegiatan berjalan lancar; neon yang rusak dapat segera diganti atau atap bocor dapat segera dibenahi agar tidur dan belajar tidak lagi terganggu.


Kedua, mematuhi peraturan. Adanya aturan akibat pelanggaran. Jika kita flashback ke era 1997-an maka aturannya jauh berbeda denga kondisi saat ini. Dulu lokal sekolah antara putra-putri terpisah dan begitu ditemukan santri putra-putri berbincang-bincang, konsekuensinya adalah ta’ziran. So, jangan pernah berfikir bahwa aturan hari ini terlalu ketat. Tidak ketat bukan berarti longgar untuk dimanfaatkan lho! Dan semua yang berada dalam struktur keluarga pesantren-tanpa terkecuali, terikat dengan aturan tersebut.


Satu lagi kewajiban santri yang terpenting adalah menjaga kewibawaan diri sebagai santri. Kuncinya terletak pada akhlak, baik akhlak sewaktu berproses (ketika nyantri) ataupun pasca proses (setelah nyantri). Ketika berproses, santri harus bisa memilih sikap yang tepat kepada teman sejawat, kakaknya ataupun kepada dewan asatidz. Contoh kecil akhlaq kepada teman sejawat; mandi. Dimana untuk menghindari ghibah sebisa mungkin santri harus mampu merawat kebersihan diri dalam rangka memenuhi kewajiban terhadap diri sendiri, sekaligus pemenuhan kewajiban terhadap teman sejawat untuk menumpas habis bahaya pencemaran udara akibat BB (Bau Badan) dan penyakit kulit seperti gudik dan panu. Selevel di atasnya, yaitu akhlaq terhadap kakak seperguruan (pengurus). Santri memiliki kebebasan berbicara dan berpendapat, namun bebas disini tidak bebarti kebablasan. Ketika santri merasa tidak nyaman dengan suatu kebijakan, maka sebaiknya dikomunikasikan dengan memberikan saran aspiratif dan juga menggunakan bahasa yang baik melalui kotak saran yang telah disediakan atau bisa jadi melalui road show (forum komunikasi pengurus-grassroot secara langsung). Mengingat pengurus adalah santri yang kebetulan mendapat mandat memegang amanah, dalam perjalannanya mungkin terdapat kelalaian. Maka, wajar kalau pengurus mendapat suntikan imunisasi dari grass root. Semisal ketika berkembang suatu isu yang merusak reputasi pesantren, jangan serta-merta mempercayainya. Coba cari informasi dari beberapa sumber yang akurat demi memperoleh kebenaran. Seperti yang difirmankan Allah: “Idzaa jaakum faasiqun bi nabain fatabayyanu”. Lha kalau maunya hanya disanjung saja padahal kinerja tidak memuaskan dan perilaku tidak layak, ini yang dinamakan “Ghaayaatul Junuun” yaitu penyakit tidak sadar diri stadium IV. Oleh karena itu marilah kita saling saling menghormati hak dan kewajiban, menjauhkan diri dari penyakit hati dan menjalin kasih sayang yang lekat dalam rangka menciptakan iklim keluarga harmonis. Coba bayangkan; seandainya kita saling bertutur kata sopan (berbahasa Jawa Krama) pada siapapun juga, berapa banyak yang melirik dan antri di belakang kita? Kita tidak akan kehabisan referensi, guy-girl! Begitu juga ketika kita berbicara dengan orang tua, pasti uang saku kita semakin tebal karena beliau merasa sukses mencetak putra-putri yang shalih/ah. Ingat: ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana!” dan semoga kita menjadi dambaan sejuta ummat. Amin!
________________________
- Rika Hernawati, S.Sos -
(Sekretaris PP.Ngalah Putri, Purwosari Pasuruan)

READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS