RSS
Tampilkan postingan dengan label Scrittura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Scrittura. Tampilkan semua postingan

BEGINILAH SEHARUSNYA CINTA!! Membincang substansi cinta manusia kepada lawan jenis dalam perspektif normatif

“Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui disini”. Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Betapa tidak?!! Saat itu usia sahabat Utsman sekitar 80-an dan Naila belum genap 20-an tahun. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Ya, itu lah cinta dan beginilah seharusnya cinta…

Cinta adalah kata lain dari memberi…
Memberi adalah pekerjaan…
Pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu adalah pekerjaan berat…
Pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama…
Pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh…
Maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, “Aku mencintaimu”. Kepada siapa pun! Sebab itu adalah keputusan besar…

***

“Tidak ada cinta tanpa kepercayaan”. Begitulah amsal yang berlaku dalam kehidupan di alam semesta ini. Sama seperti halnya ketika suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya, atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi; cinta yang tidak terbukti karena tidak ada kepercayaan. Maka, sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan akan hilang lenyap.

Tesis inilah yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya oleh rakyatnya.

Ada taruhan kepribadian di saat kita mengungkapkan;”Aku mencintaimu”. Karena ungkapan tersebut adalah ungkapan lain dari, “Aku ingin memberimu sesuatu, aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia, aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin, aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu…”

Substansi taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. “Aku mencintaimu”, merupakan deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.

***

“Bagaimanapun takdir takkan pernah tertukar”, percayalah kepada-Nya. Begitulah nasehat yang pernah kami (baca: penulis) terima dan pahami. Maka, apapun definisi, pengertian dan tafsir maupun refrensi anda tentang cinta, pahamilah cinta ke dalam makna yang benar-benar akan membuat anda menjadi jiwa lurus dan memperbaiki kepribadian dari waktu ke waktu. Bukankah Cinta antara jiwa dalam hadist Rasulullah dijelaskan sebagai berikut; “Jiwa-jiwa itu bagaikan tentara-tentara berbaris rapi; Jika saling mengetahui (mempercayai) mereka akan bersatu, dan jika saling mengingkari, mereka akan berpisah”.

Namun, berbagai substansi upaya pemaknaan cinta terhadap lawan jenis, maka penulis lebih condong pada tafsir cinta menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, yaitu “Tidak ada cinta sebelum ijab kabul diucapkan”. So, apa tafsir cinta menurut anda??! Wallahua’lam bishowaf…
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SAHABAT; PENA JIWA YANG TAK TERHAPUSKAN

“Hai anakku, jika engkau perlu berteman dengan orang-orang, maka bertemanlah dengan orang-orang yang apabila engkau melayaninya, ia pun melindungimu, dan jika berteman dengannya, ia menghiasimu. Jika engkau tidak mampu menggunkan hartamu, bertemanlah dengan orang yang apabila engkau berbuat baik kepadanya, ia pun membalasmu, dan jika engkau berbuat dosa, ia pun mencegahnya. Bertemanlah dengan seseorang yang apabila engkau meminta sesuatu darinya, ia pun memberimu, dan jika engkau diam, ia pun menyapamu. Dan jika engkau mengalami musibah, ia menolongmu. Bertemanlah dengan orang yang apabila engkau berkata, ia benarkan perkataanmu, dan apabila engkau hendak melakukan sesuatu, ia pun menasehatimu, dan jika kalian bertengkar, ia lebih mengutamakanmu”.

Ungkapan di atas merupakan wasiat dari Alqamah untuk putranya manakala menghendaki pertemanan dengan seseorang. Begitu selektif Alqamah berpesan kepada putranya, bukan berartti pilih-pilih terhadap teman, melainkan hal itu merupakan jalan ihtiyar untuk memperoleh teman (atau lebih tepatnya sahabat) dalam kehidupan ini dengan tanpa mengurangi kemanfaatan dan hikmah yang dapat diperoleh dari aktifitas persahabatan.

Persahabatan memiliki peranan penting dalam membentuk kepribadian seseorang. Maka tidak heran jika ada seseorang yang berasal dari keluarga yang baik tapi menjadi bejat, begitu pula sebaliknya. Hal itu membuktikan bahwa pergaulan dan persahabatan bisa mengukir dan mencetak karakter dan kepribadian seseorang. Oleh karena itu sebelum kita menjalin persahabatan dengan orang lain, maka harus mengenal kepribadian dan perangainya terlebih dahulu agar persahabatannya memberikan hasil dan guna bagi kita dalam mengarungi samudra kehidupan (BS, 2008: 72).

Membatasi pergaulan bukan berarti memberikan jurang pemisah diantara orang-orang tertentu, bukan pula pilih kasih kepada sesama, melainkan hal itu merupakan sikap ikhtiyath (berhati-hati) dalam bertindak dan bersikap dengan orang lain. Sehingga, tidak semua orang patut dijadikan teman, sebagaimana Nabi Muhammad Saw bersabda, “Manusia itu mengikuti kebiasaan temannya, maka hendaklah seseorang dari kamu melihat siapa yang akan dijadikan temannya”. Selektif dalam berteman atau bersahabat juga bukan merupakan sikap memberikan batasan-batasan atau aturan-aturan tertentu yang bersifat protect, melainkan memberikan sikap pergaulan yang proporsional sesuai dengan kebutuhan bersahabat.

Syech al Zarnuji menjelaskan di dalam memilih sahabat, sebaiknya pilihlah orang yang tekun, wara’, bertabiat lurus serta tanggap serta sedapat mungkin hindarilah orang yang malas, penganggur, pembual, suka berbuat onar dan suka memfitnah (Ta’lim al-Muta’alim: 29). Penjelasan ini juga bukan merupakan justifikasi untuk tidak bergaul secara mutlak dengan seseorang yang mempunyai karakter seperti di sebut di atas, melainkan memberikan porsi pergaulan yang proporsional dan efektif.

Dalam Risalah al-Qusyairiyah disebutkan bahwa ada tiga kategori sahabat, yaitu; orang lebih tinggi derajatnya, orang yang sama derajatnya, dan orang yang lebih derajatnya. Artinya, sahabat kita dalam kehidupan ini tidak akan lepas dari ketiga golongan tersebut. Maka dari itu bagaimana sikap kita yang baik dalam persahabatan dengan mereka?

Apabila orang yang kita jadikan sahabat memiliki derajat (strata sosial/ketakwaan) lebih tinggi, maka sikap kita harus berkhidmah. Apabila sederajat dengan kita, maka berusaha menilai baik segala yang ia tampakkan dan tidak menceritakan keburukannya. Apabila dia lebih rendah derajatnya dari kita, maka sikap kita harus berbelas kasih dan sayang padanya serta tidak boleh meremehkannya.

Hal ini menegaskan pula kepada sikap untuk saling memberikan manfaat kepada persahabatan yang telah terjalin, sehingga jalinan yang terukir tidak sebatas ornament kehidupan yang tanpa makna. Bukankah sahabat adalah pena jiwa yang tak terhapuskan.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian. Karena Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Ingat; sahabat bukanlah MATEMATIKA yang bisa dihitung nilainya, bukan EKONOMI yang cuma mengharapkan materi, bukan pula PPKN yang menuntut hak/kewajiban, namun sahabat adalah SEJARAH yang bisa dikenang sepanjang jaman.

Ujung Ngalah, 02 Juni 2009
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BENARKAH TEMAN KITA ADALAH SAHABAT KITA?; Upaya selektif dan memahami secara proporsional dalam persahabatan

“Barang siapa Allah menghendaki kebaikan baginya, maka Allah memberi karunia seorang teman yang sholeh. Jika ia lupa, diingatkannya dan jika ia ingat, dibantunya”

Cluster Text
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya. Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya. Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis (http://www.gsn-soeki.com/wouw/terbaru.php)

Focus Opinion
Dalam karya monumentalnya “Ihya’ Ulumuddin”, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa, ketika ikatan persahabatan (persaudaraan) atau dalam bahasa penulis adalah “perseduluran” adalah seperti ikatan pernikahan antara suami istri. Apabila persaudaraan berlangsung, maka hal itu menimbulkan hak-hak atasmu dalam harta dan jiwa, lisan dan hati dengan maaf dan do’a, keikhlasan, kesetiaan dan tidak memaksa diri. Sehingga, beliau membaginya ke dalam lima hak persahabatan atau persaudaraan, yaitu sebagai berikut:

Pertama, mengenai harta. Paling sedikit adalah seperti budakmu sehingga urusannya menjadi tugasmu dan pertengahannya seperti engkau, karena persaudaraan menimbulkan persekutuan dan persamaan, sedangkan setinggi-tingginya adalah engkau lebih mengutamkannya sehingga engkau korbankan urusan dirimu supaya keadaannya menjadi teratur. Seperti yang disebutkan dalam atsar, Rasulullah Saw bersabda; tidaklah dua orang bersahabat, melainkan yang paling dicintai Allah Swt adalah yang paling lemah lembut kepada sahabatnya.

Kedua, menolong temannya dalam memenuhi kebutuhan dan mengerjakannya sebelum diminta. Hal ini mempunyai derajat-derajat yang menyamai derajat harta seperti dalam ketiga kedudukannya.

Ketiga, jangan engkau menghadapinya dengan sesuatu yang tidak disukainya. As-Syafi’I ra berkata, tidak seorang muslim pun yang taat kepada Allah tanpa mendurhakai-Nya, maka barang siapa yang ketaatannya lebih menonjol daripada maksiatnya, iapun adil.

Keempat, menyampaikan pujian yang disukainya tanpa keluar dari kebenaran. Hal itu disebabkan ucapan tersebut menambahkan kecintaan. Artinya, pujian ini dialamatkan untuk sahabat dengan tanpa kepalsuan atau dibuat-buat dengan maksud untuk sekedar beretorika menyenangkan, melainkan pujian itu dialamatkan sesuai dengan kenyataan yang terjadi dengan tanpa keluar dari kebenaran.

Kelima, kesetiaan dan keikhlasan, yaitu dengan selalu mencintai sahabat atau saudaranya sampai mati dan mencintai anak-anak serta teman-temannya sesudah matinya. Ketahuilah bahwa kesetiaan yang baik itu termasuk iman dan pengamalan ajaran agama.

Sehinnga dari wacana di atas, apa yang kita alami demi teman, sahabat atau saudara kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah dan selalu dikenang.

Finally Expose
Sahabat, mengerti ketika kamu berkata “aku lupa…”. Menunggu selamanya ketika kamu berkata “tunggu sebentar”. Tetap tinggal ketika kamu berkata “tinggalkan aku sendiri”. Membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan belum berkata “bolehkah saya masuk?”.

Karena cinta sahabat yang sebenarnya adalah ketika dia menitikkan air mata dan masih peduli terhadapmu, adalah ketika kamu tidak mempedulikannya dan dia masih menunggumu dengan setia. Adalah ketika kamu mulai mencintai orang lain dan dia masih bisa tersenyum dan berkata “aku turut berbahagia untukmu”.

Kalau begitu, benarkah selama ini teman-teman kita adalah sahabat kita?

Ujung Ngalah, 01 Juni 2009.
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TUWAS TUWO, TUWO TUWAS; Refleksi Diri Terhadap Tangga Kedewasaan Jiwa

“Jiwa tua (dewasa); 1) berwawasan luas; 2) berhati luas dan dalam; 3) pemaaf; 4) pengayom semua tanpa pilah pilih dan pamrih” (Kyai Sholeh Bahruddin)

Kedewasaan merupakan pengharapan tiap individu anak Adam. Sering kita jumpai, bahwa dengan bertambahnya usia, maka diharapkan pula bertambahnya kedewasaan kita. Dalam khazanah psikologi, kedewasaan seseorang akan nampak bilamana sikap, sifat dan karakter mempunyai kesinambungan positif dalam bertindak, baik secara fisik maupun non fisik. Dalam alam nyata, tidak sedikit kita jumpai seseorang yang mungkin secara fisik dapat dikategorikan sebagai insan dewasa, namun pola pikirnya masih jauh dari dewasa, bahkan lebih cenderung pada kekanak-kanakan. Atau bahkan sebaliknya, kita bisa menjumpai juga orang yang secara fisik (umur) masih relatif muda, namun hal ihwal yang diejawantahkan mendeskripsikan bahwa orang tersebut dewasa.

Adanya sinergitas antara alam sifat, sikap dan karkater pada tingkah positif yang pada akhirnya memunculkan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak merupakan hal yang tidak dumadaan muncul begitu saja. Melainkan butuh serentetan proses yang bisa dibilang cukup panjang dan bahkan berliku. Terutama dalam proses pembentukan kualitas mental dan spiritual yang merupakan pondasi dasar untuk menapakai tangga kedewasaan seseorang.

Secara umum ada tiga lingkungan yang sangat mempengaruhi kualitas mental dan spiritual seseorang, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, dan lingkungan sosial budaya yang berhubungan dengan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku di masyarakat, termasuk di dalamnya pengaruh teknologi; televisi, HP, internet, dan media massa. Ketiga lingkungan tersebut saling menopang dalam mempengaruhi perkembangan dan pembentukan karakter seseorang.

Secara teoritis-praksis, kedewasaan seperti yang didawuhkan oleh Kyai Sholeh adalah seseorang yang memiliki seperangkat ketentuan-ketentuan tertentu. Meskipun ketentuan-ketentuan tersebut tidak merupakan hal yang saklek, namun dengan hal itu setidaknya kita mampu mengetahui standarisasi kedewasaan perspektif beliau.

Seperti disebutkan diawal tulisan ini, kedewasaan seseorang bisa kita kaji melalui beberapa penelusuran, yaitu pertama, kedewasaan dapat diketahui dengan luasnya wawasan seseorang. Hal ini mengisyaratkan bahwa, pola pertama yang harus dimiliki oleh seseorang dalam menapaki tangga kedewasaan adalah wawasan alias keilmuan. Dengan keilmuan maka seseorang akan mampu melihat fenomena hidup tanpa suram apalagi gelap. Secara pribadi kita akan mengakui bahwa sangat jelaslah perbedaan antara orang yang memiliki keilmuan dengan tanpa memilki keilmuan. Karena tidak ada orang yang sukses tanpa kelimuan. Silahkan observasi dan renungkan?!!!

Kedua, berhati luas dan dalam. Ilmu atau wawasan yang kita miliki tidak akan mempunyai makna yang signifikan jika tidak dibarengi dengan sikap hati yang luas dan dalam. Dalam hal ini, hati merupakan tolak ukur dari sebuah keimuan. Karena hati merupakan tempat menimbang antara yang positif dan negatif dari tiap ihwal yang akan kita lakukan.

Ketiga, pemaaf. Instrumen ketiga dalam mengukur kedewasaan seseorang adalah sikap dan sifat serta watak pemaaf. Pemaaf atau memberi maaf merupakan sikap yang sangat sulit untuk dipraktekkan, terlebih lagi jika harus memaafkan kesalahan yang mungkin terlanjur njangget dalam hati. Namun, yang lebih abot lagi lagi adalah memberi maaf yang bukan hanya dengan sikap, melainkan dengan hati. Sehingga, kiranya ada benarnya jika ada pepatah “memberi maaf itu lebih sulit dari pada memintanya”. Lebih dari itu, sikap pemaaf merupakan upaya untuk melihat kesalahan bukan hanya pada bentuk kesalahannya tersebut, melainkan latar belakang kesalahan yang terjadi.

Keempat, pengayom semua tanpa pilah pilih dan pamrih. Ini adalah merupakan sikap yang sangat langkah dimiliki oleh golongan kita. Bahkan dalam atmosfer Nusantara saja, kyai Sholeh menyebutkan tidak lebih dari 10 (sepuluh) orang yang bisa bertindak sebagai pengayom semua golongan tanpa membeda-bedakan dan tanpa pamrih. Dalam ranah mikro, sering kali kita jumpai pribadi-pribadi kita yang juga masih sering membeda-bedakan sesama, melihat dan menilai hanya dengan fisik, mengukur pergaulan hanya dengan sikap senang terhadap materi, dan ada maunya.

Sikap pengayom merupakan inti dari penelusuran tangga kedewasaan seseorang. Karena entitas pengayom tidak dapat berdiri sendiri tanpa dilengkpai dengan seperangkat wawasan/keilmuan yang luas, sikap hati yang luas dan dalam, juga adanya sifat, sikap dan karakter pemaaf.

Sekali lagi kawan, kedewasaan tidak dapat diperoleh secara instan, apalagi dengan mengukurnya dengan bertambah-nya usia. Seperti yang kita simak dari paparan di atas, wawasan yang luas, hati yang luas dan dalam, pemaaf dan pengayom merupakan sikap yang membutuhkan proses panjang dan kemungkinan besar sangt berliku.

Bagaimana kita bisa memiliki wawasan yang luas, jika belajar saja dengan tanpa maksimal, membaca saja enggan, apalagi sinau dan lebih sering leha-leha?. Bagaimana kita bisa punya hati yang bersikap luas dan dalam jika hati kita tidak dilatih dengan kondisi spiritual (baca; ibadah) yang istiqomah, malah sering kali kita mengistiqomahkan nggosip lan cangkruk’an?. Bagaimana kita menjadi pemaaf, jika masih sering menyimpan dendam dan mencari-cari kesalahan sesama?. Dan bagaimana kita bisa menjadi pengayom kalau kita masih melanggengkan sikap pilih-kasih kepada sesama dan sering mendeskriditkan teman?

Sikap tuwo (dewasa) tidak akan muncul dalam jiwa kita, jika tidak kita latih mulai dari saat ini juga, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari diri sendiri. Karena kedewasaan juga membutuhkan media pelaksanaan yang ajeg. Sehingga nantinya dengan bertambahnya usia bertambah pula kedewasaan kita, yang pada akhirnya kita terbebas dari orang yang tuwas tuwo, tuwo tuwas!!! –


*Pernah dimuat di Buletin Ta'limiyah
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KHILWAH KEHIDUPAN

Sebuah keniscayaan lidah yang acapkali tersedak dengan berbagai menu retorika kehidupan usang mengisyaratkan kepada sang khalik, betapa mulianya hidup dengan berbagi sesama
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS