RSS
Tampilkan postingan dengan label Discurso. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Discurso. Tampilkan semua postingan

‘Dagang Hukum’, Keniscayaan Era Pasar Bebas

‘Dagang Hukum’, Keniscayaan Era Pasar Bebas

Gara-gara jadi korban praktek ‘dagang keadilan’ yang dilakukan hakim Jembuddin dalam peradilan sesat, sekumpulan orang yang dikordinasi Sukiran berencana akan melakukan aksi unjuk rasa bersama sejumlah LSM dan aktivis kampus ke gedung Mahkamah Agung. Mereka mendesak penerapan hukuman mati terhadap para hakim yang telah memperdagangkan hukum dalam kegiatan ‘Mafia’ yang mengoyak-koyak rasa keadilan masyarakat. Sebelum aksi turun ke jalan dilaksanakan, Sukiran menelepon Guru Sufi, memohon doa restu agar aksinya berjalan lancar dan tidak menyimpang dari tujuan. Ternyata, tidak mendapat doa restu, Guru Sufi malah menertawakan tindakannya sebagai hal naif yang ditopang emosi kekanak-kanakan.

Penasaran dinilai naif dan kekanak-kanakan, setelah membatalkan aksi demonya, Sukiran bersama tiga orang temannya bergegas menemui Guru Sufi yang sedang berbincang dengan Sufi tua, Sufi Sudrun, Sufi Kenthir, dan Dullah di teras mushola pesantren. Dengan nafas masih tersengal-sengal ia meminta kejelasan seputar alasan Guru Sufi menilainya naif dan kekanak-kanakan. “Kami adalah korban kedzaliman hakim Jembuddin, Mbah Kyai. Salahkah kami ramai-ramai meminta hakim jahat seperti Jembuddin dihukum mati?” kata Sukiran tidak terima.

“Justru karena kalian korban dan kemudian menuntut,” kata Guru Sufi dengan suara datar, ”Masalahnya jadi semacam dendam pribadi. Artinya, kalau yang ditangkap bukan hakim Jembuddin, kalian tidak akan melakukan aksi turun ke jalan kan?”

“Tapi kami didukung LSM dan aktivis mahasiswa, Mbah Kyai,” Sukiran tak terima.

“Lepas dari didukung atau tidak didukung, yang pasti niat kalian semata-mata ditujukan kepada pribadi hakim Jembuddin. Padahal, masalah justicionomic adalah suatu keniscayaan dalam kehidupan di era global dengan pasar bebas dan masyarakat terbukanya (a global open society). Jadi mana mungkin sesuatu yang terjadi sebagai bagian dari keniscayaan jaman dapat diubah secara parsial oleh aksi-aksi unjuk rasa jalanan,” kata Guru Sufi.

“Justicionomic, apa itu Mbah Kyai?” tanya Sukiran heran.

“Itu istilah dari kata Nemein=mendistribusikan dan Iustitia= keadilan, yang bermakna mendistribusikan keadilan, hukum, dalam arena pertukaran ekonomi. Jadi yang dimaksud Justicionomic adalah mendistribusikan keadilan atau hukum sebagai komoditi pertukaran ekonomi. Demikianlah, produk dari proses hukum seperti penetapan pasal-pasal, rencana tuntutan, duplik sampai vonis adalah komoditi yang diperdagangkan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi,” kata Guru Sufi.

“Kayaknya mustahil Mbah Kyai, ada produk hukum dijadikan komoditi seperti produk pabrik,” sahut Sukiran.

“Engkau menilai mustahil, karena caramu memandang dengan menggunakan wacana lama yang didasarkan pada paradigma negara bangsa (nation state). Coba sesuaikan caramu memandang dengan wacana baru yang didasarkan paradigma liberalisme dan lebih-lebih neo-liberalisme, engkau akan mendapati semua hal sebagai komoditi. Maksudnya, bukan hanya hukum dan keadilan yang dijadikan komoditi untuk diperdagangkan, bahkan nafsu syahwat pun akan dijadikan komoditi yang didistribusikan sebagai barang dagangan dalam suatu pertukaran ekonomi, yaitu fenomena yang disebut Libidonomic. Agama yang suci pun, jadi komiditi yang diperdagangkan yang diberi sebutan mentereng: Religionomic,” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Jika hukum sudah jadi komoditi, bagaimana kedudukan negara?” tanya Sukiran ingin tahu. “Negara akan dikuasai oleh aparatur yang disebut Bung Karno dengan istilah Kabir singkatan dari Kapitalis Birokrat (bureaucrat capitalism), yaitu aparatur yang menjadikan seluruh mekanisme dan produk kebijakan negara sebagai komoditi untuk pertukaran ekonomi,” sahut Guru Sufi.

“Nah kasus Miranda Goeltom menjadi Deputy Gubernur BI dengan cara membeli dukungan suara dari anggota DPR RI seharga Rp 500 juta, apakah ‘dukungan suara’ itu bisa disebut komoditi dukungan legislatif dan anggota DPR RI yang terima duit bisa disebut sebagai aparatur Kabir?” tanya Sukiran ingin tahu.

“Benar sekali,” sahut Guru Sufi,”Dan selama menjadi deputy gubernur BI, Miranda pun berkedudukan sebagai Kabir dengan nilai komiditi lebih mahal dibanding modal yang telah dia keluarkan untuk membeli suara dukungan, “ kata Guru Sufi.

“Berarti kasus pemberian komisi atau fee dalam pembangunan perumahan atlit SEA Games di Sumatera Selatan, dilakukan para Kabir juga,.Mbah Kyai?” tanya Sukiran minta penegasan.
“Ya, begitulah.”
“Tapi kan duitnya untuk kas parpol?”

“Meski ke parpol tapi Kabir juga kebagian,” kata Guru Sufi,”Nah, parpol di era global dalam negara yg menganut prinsip-prinsip neoliberalisme adalah berkedudukan sebagai counter dan distro untuk menjual macam-macam jabatan, di mana modalnya dengan cepat berlipat-lipat hingga meluber ke mana-mana terutama jika jabatan-jabatan yang dijualnya itu dipakai rezim berkuasa. Demikianlah, di era pasar bebas dan masyarakat terbuka ini, parpol lebih kaya daripada negara.”.

“Maaf Mbah Kyai,” sahut teman Sukiran menyela,”Apa mungkin parpol bisa lebih kaya dari negara? Kok rasanya mustahil, Mbah Kyai.”
“Aku tidak mengada-ada, itu adalah fakta,” sahut Guru Sufi.
“Buktinya apa Mbah Kyai?” tanya teman Sukiran.
“Sampean yakin parpol-parpol di negeri kita memiliki dana berlimpah-limpah?” Guru Sufi bertanya balik.
“Haqqul yaqin, Mbah Kyai.”
“Pernahkah sampeyan dapat info ada parpol punya utang? Terlilit utang? Menggadaikan inventaris milik parpol?” tanya Guru Sufi.
“Ya tidak mungkin ada parpol punya utang.”
“Kalau negara kita?” tanya Guru Sufi dengan suara ditekan,”Apakah sampeyan percaya negara kita punya hutang?”
“Alamaaaak, benar sekali,” sahut teman Sukiran menggaruk-garuk kepalanya,”Kasihan negaraku. Sudah miskin, banyak utang lagi.”

“Itulah tatanan global jika sebuah negara menganut prinsip-prinsip neoliberal dengan konsep para bebas dan masyarakat terbukanya, yang memunculkan tragedi paling menyakitkan dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia ketiga,” kata Guru Sufi datar.

“Kenapa Mbah Kyai menyebutnya tragedi?” tanya Sukiran kurang faham.

“Aku sebut tragedi, karena di negara penganut prinsip-prinsip neoliberal eksistensi negara secara sistematis dibikin menjadi sedemikian rupa miskinnya sampai langkahnya terseok-seok memikul hutang segunung, sementara pejabat dan aparatur negaranya kaya raya luar biasa karena memperdagangkan mekanisme dan produk kebijakan negara sebagai komoditi yang menguntungkan pribadi dan kelompoknya,” kata Guru Sufi.


Dawuh: Mbah Agus
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

UAN dikawal Densus 88, Guru Curang Salah Siapa?

John Whitehead, seorang pengamat pendidikan asal Amrik yang kenal dekat dengan Sufi Majnun, dalam perbincangan dengan para sufi di teras mushola mengutarakan ketakjuban plus keheranannya dengan pendidikan di Indonesia, terutama dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UNAS). Bagaimana tidak takjub dan heran, John Whitehead menyaksikan sendiri bagaimana proses evaluasi hasil belajar siswa yang dilakukan serentak secara nasional itu harus dikawal dan dijaga oleh polisi dan bahkan dari detasemen khusus 88 anti teror. John Whitehead yang biasa hidup di negeri serba tertib hukum dan tertib aturan serta tertib prosedural, tidak menemukan alasan logis sebuah proses evaluasi belajar dikawal oleh polisi anti teroris.

Belum tuntas mengungkapkan keheranan dan ketakjubannya melihat realitas pendidikan di Indonesia khususnya UNAS, John Whitehead makin dibingungkan oleh penjelasan Sufi tua yang memberitahu bahwa UNAS sejatinya sudah ditetapkan oleh Mahkamah Agung – Lembaga Hukum Tertinggi Negara – untuk tidak diselenggarakan. “Faktanya, UNAS jalan terus meski sudah tegas-tegas dilarang Mahkamah Agung,” kata Sufi tua.

“Aduh, kehidupan bangsa ini benar-benar membuat kepala saya tambah pusing. Ini peristiwa aneh bin ajaib bagi orang Amerika,” kata John Whitehead memijit-mijit keningnya.

“Kenapa Anda menganggap kasus UNAS ini aneh bin ajaib, Tuan?” tanya Dullah.

“Bagaimana tidak aneh bin ajaib,” kata John Whitehead mendecakkan mulut berulang-ulang,”Sudah tegas-tegas UNAS dilarang oleh Mahkamah Agung, ternyata masih dijalankan juga. Itu namanya membangkang keputusan hukum mahkamah tertinggi negara. Itu aneh. Yang lebih ajaib, polisi itu kan aparatur negara penegak hukum. Bagaimana mungkin aparatur penegak hukum, bisa ikut mengawal departemen yang jelas-jelas membangkang ketetapan mahkamah tinggi hukum. Ini sungguh tidak masuk akal bagi orang Amerika yang paling rendah pendidikannya sekalipun.”

“Tapi polisi berhasil menangkapi guru-guru dan joki-joki yang membocorkan UNAS atau menyebarkan jawaban bagi siswa,” kata Dullah.

John Whitehead tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dullah yang tersinggung omongannya diketawakan, buru-buru menyergah,”Kenapa Anda ketawa?”

“Yang ditangkap itu kan guru-guru dari sekolah-sekolah kelas underdog, yang kurang pinter. Coba Anda cermati mereka yang ketangkap itu, pasti dari sekolah-sekolah di daerah yang tidak maju dan tidak termasuk sekolah unggulan,” kata John Whitehead menjelaskan.

“Maksudnya?” tanya Dullah kurang faham.

“Pernahkah Anda dengar guru-guru dari sekolah unggulan di kota-kota besar ketangkap melakukan kecurangan dalam UNAS?” tanya John Whitehead.

“Eemm kayaknya sih belum pernah dengar,” sahut Dullah,”Memangnya kenapa bisa begitu?”

“Karena semua sudah tahu sama tahu, bahwa sejak berbilang tahun silam banyak sekolah unggulan di berbagai kota besar melakukan praktek kecurangan dalam UNAS. Dan itu dibiarkan saja, karena anak-anak semua pihak yang terlibat – termasuk anak-anak wartawan, pengawas ujian, guru, dan bahkan polisi – belajar di sekolah-sekolah unggulan itu,” kata John Whitehead.

“Anda jangan memfitnah, Tuan,” sahut Dullah tidak terima karena isterinya mengajar di sekolah unggulan,”Anda harus punya bukti.”

“O saya pasti punya bukti itu,” sahut John Whitehead.

“Apa buktinya?”

“Rekaman proses UNAS di sejumlah sekolah unggulan yang dibuat tenaga volunteer saya dengan kamera tersembunyi. Selain itu, saya juga sudah merekam kesaksian ratusan mahasiswa mantan siswa sekolah-sekolah unggulan tentang bagaimana mereka bisa lulus serentak dengan nilai merata tingginya,” kata John Whitehead.

“Wah makin ruwet ini pendidikan nasional kita,” Dullah menggumam seolah ditujukan kepada diri sendiri.

“Tapi faktanya memang seperti itu,” sahut John Whitehead.

“Apa kira-kira yang akan Anda lakukan, brother?” tanya Sufi tua ingin tahu.

“Saya tidak bisa berbuat apa-apa, ini bukan negara saya. Saya hanya pengamat. Tapi saya berusaha mengetuk hati teman-teman LSM yang aktif dalam advokasi hukum untuk membela guru-guru yang ditangkap polisi karena dituduh curang dalam pelaksanaan UNAS,” kata John Whitehead.

“Kenapa Anda sangat peduli, Tuan?” tanya Dullah.

“Rasa keadilan milik semua manusia tak perduli warna kulitnya apa.”

“Maksudnya?” tanya Dullah kurang faham.

“Tindakan hukum terhadap guru-guru di daerah yang dituduh melakukan kecurangan, bagaimana pun melukai rasa keadilan saya. Sebab departemen pendidikan yang tegas-tegas membangkang ketetapan Mahkamah Agung – yang dengan menjalankan UNAS merupakan bukti bahwa departemen itu telah melakukan pembangkangan hukum – dengan seenaknya menghukum orang-orang lemah yang dianggap melanggar aturan main yang mereka buat, yang sebenarnya secara hukum sudah dibatalkan oleh Mahkamah Agung. Menghukum guru-guru yang dianggap curang dalam mengikuti UNAS, itu jelas-jelas prinsip hukum yang berpijak pada kaidah-kaidah hukum rimba HOMO HOMINI LUPUS,” kata John Whitehead sinis.
Sufi Majnun yang sejak semula diam, tiba-tiba ketawa sambil berkomentar,”John, saya sarankan Anda istirahat dulu. Anda terlalu serius menanggapi masalah pendidikan di negeriku ini. Biarlah orang-orang kami akan menyelesaikan masalah ini sendiri.”

John Whitehead mengangguk-angguk meng-iya-kan kata-kata Sufi Majnun.

Sambil tetap ketawa Sufi Majnun memberitahu para sufi bahwa nama kawannya yang pengamat pendidikan asal Amrik itu adalah John Hopkins. “Yang memberi tambahan nama Whitehead di belakang nama sahabat saya ini adalah saya. Kenapa itu saya lakukan? Karena, selama beberapa minggu mengamati pendidikan di negeri kita, sahabat saya yang semula berambut coklat kehitaman tiba-tiba berubah menjadi putih seluruhnya. Jadi saya sebut Whitehead, karena begitu cepat proses memutihnya rambut sahabat saya ini, gara-gara mikir pendidikan di negeri kita.”

“Itu baru mikir pendidikan ya rambut Mr John sudah putih,” tukas Sufi tua,”Coba ikut mikir soal hukum, politik, ekonomi, dunia medis,di negeri kita ini, dijamin rontok semua rambutnya: botak!”

Para sufi ketawa terbahak-bahak. John Hopkins Whitehead celingukan heran, tidak tahu apa yang diketawakan para sufi itu tapi akhirnya ia ikut ketawa.


Sumber: Kyai Agus Sunyoto
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

UAN & SNMPTN Dalam Pandangan Sufi

Gara-gara setia mendampingi anak dan keponakannya belajar serius menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) dan bahkan mengantar mereka ziarah ke kubur wali agar dapat barokah dan lulus ujian, Sukiran jatuh sakit dan dirawat di RSUD. Ketika Sukiran menghadap Guru Sufi untuk meminta barokah doa bagi kesembuhan ayahnya, ia berpapasan dengan Sufi tua dan mengabarkan keadaan ayahnya yang sedang sakit. Tahu bahwa penyebab jatuh sakitnya Sukirin adalah UAN, Sufi tua menyayangkan kekeras-hatian ayah dari Sukiran itu yang enggan menuruti sarannya. “Aku sudah memberitahu bapakmu, untuk tidak terlalu serius menghadapi UAN bagi adikmu. Berkali-kali aku katakan, bahwa nasib manusia tidak ditentukan oleh gelar akademis dan ijazah sekolah,” kata Sufi tua.

“Tapi mbah,” sahut Sukiran tidak faham,”Kalau tidak serius belajar, nanti tidak lulus ujian. Kalau tidak lulus ujian, berarti tidak bisa ikut tes SNMPTN dan itu berarti tidak bisa kuliah adik saya.”

“He, apa kau pikir UAN itu seleksi evaluative hasil belajar tingkat nasional?” tanya Sufi tua.

“Ya pasti begitu toh mbah,” sahut Sukiran ketawa,”Namanya juga Ujian Akhir Nasional. Jadi itu seleksi evaluative hasil belajar tingkat nasional. Kan siswa yang ikut UAN juga skalanya nasional? Bagaimana toh mbah?”

“Kamu salah sangka, le. Sekali pun UAN itu singkatan Ujian Akhir Nasional, tapi UAN sekali-kali bukanlah sebuah seleksi evaluative hasil belajar secara nasional,” kata Sufi tua.

“Kenapa sampeyan bisa bilang begitu, mbah?” sergah Sukiran penasaran.

“Coba kamu pikir yang jernih,” kata Sufi tua dengan suara tenang,”Jika UAN itu sebuah seleksi evaluatif tingkat nasional, maka ijazah tanda kelulusan yang di dalamnya terdapat nilai kelulusan UAN hendaknya diakui keabsahannya secara nasional. Maksudnya, jika UAN memang hasil seleksi evaluatif belajar para siswa tingkat nasional, maka tanda kelulusan UAN harus diakui sebagai hasil belajar siswa pada tingkat nasional. Itu berarti, ijazah hasil seleksi evaluatif UAN langsung bisa digunakan untuk mendaftar masuk ke perguruan tinggi. Faktanya, ternyata hasil seleksi evaluatif yang disebut UAN itu hanya berupa selembar kertas yang tidak bisa dijadikan jaminan untuk masuk langsung ke perguruan tinggi. Siswa-siswa yang lulus UAN, wajib mengikuti ujian seleksi masuk ke perguruan tinggi, yaitu SNMPTN. Lalu untuk apa diselenggarakan UAN jika hasilnya tidak bisa dijadikan tolok-ukur kemampuan hasil belajar siswa, yang memungkinkan untuk mengikuti proses belajar-mengajar di perguruan tinggi? Untuk apa lulus UAN jika ternyata masuk PTN harus diuji lagi? Apakah itu bukan kemubadziran luar biasa?”

“Emm benar juga ya mbah?” gumam Sukiran mengangguk-angguk.

“Tahukah kamu, kenapa program mubadzir UAN itu diteruskan dan kenapa pula seleksi masuk perguruan tinggi semacam SNMPTN tetap juga dijalankan?” tanya Sufi tua.

“Wah kalau itu saya kurang tahu, mbah,” sahut Sukiran garuk-garuk kepala,”Soalnya saya ini kurang cerdas dan sempit wawasan. Bayangkan, mbah, masuk PTN saja saya gagal terus, apalagi ditanya UAN dan SNMPTN, tambah gak ngerti saya.”

“Kalau menurut aku, UAN dan SNMPTN itu terus dijalankan, sekalipun banyak yang tidak setuju dan bahkan protes, itu lebih disebabkan karena itu program banjir dana tahunan. Maksudku, dana untuk UAN dan SNMPTN itu tidak sedikit jumlahnya. Kalau sampai keduanya ditiadakan, bisa bikin gigit jari orang-orang yang terlibat di dalam lingkaran pendidikan formal,” kata Sufi tua.

“Woo bener itu, mbah,” sahut Sukiran,”Untuk ikut tes SNMPTN saja, tiap-tiap calon mahasiswa harus bayar Rp. 150.000. Padahal, yang ikut tes SNMPTN se-Indonesia jumlahnya lebih 170.000 orang. Wow o wo, bermiliar-miliar itu.”

“Hehehe, cerdas juga kamu le,” tukas Sufi tua,”Tidak perlu dijelaskan sudah faham sendiri. Itu belum berkaitan dengan jumlah calon mahasiswa yang tidak lulus SNMPTN kemudian ikut program SPMB dan program Kemitraan, yang mengabsahkan tawar-menawar tarif masuk.”

“Iya mbah, tajir betul ya hasil dari seleksi-seleksian itu.”

“Tapi salahnya masyarakat juga yang sangat percaya dan sangat serius menghadapi program-program pengerukan dana itu,” kata Sufi tua.

“Salah satu korbannya adalah bapak saya yang masuk RSUD.”

“Kalau seriusnya dilanjutkan, bapakmu bisa mati dan dijamin masuk neraka,” kata Sufi tua.

“Lho, kok bisa sampeyan bilang begitu mbah?” kilah Sukiran memprotes,”Apa dasar sampeyan menyatakan bapak saya jika mati akan masuk neraka?”

“Karena iman bapakmu sudah terhegemoni doktrin para pencari keuntungan yang mengatas-namakan pendidikan; terhegemoni doktrin para pencari keuntungan yang menyatakan bahwa kesuksesan dan keberhasilan seseorang itu mutlak ditentukan oleh ijazah formal sekolah dan gelar kesarjanaan. Padahal, sebagai kaum beriman, hendaknya bapakmu yakin bahwa peruntungan nasib dan takdir manusia itu mutlak ditentukan Allah; Allah Yang berwenang memberi petunjuk jalan lurus dan Allah pula yang berwenang menggelar jalan sesat bagi manusia sesuai yang dikehendaki-Nya; Allah Yang mutlak menentukan takdir baik dan takdir buruk makhluk-Nya; Dia Yang mutlak menentukan hidup dan mati makhluk-Nya; bahkan selembar daun jatuh pun, atas kehendak-Nya jua; lantas bagaimana keimanan itu diganti dengan doktrin membuta bahwa yang menentukan nasib baik manusia adalah ijazah dan gelar akademik kesarjanaan?” kata Sufi tua.

“Tapi mbah, kalau sekarang ini kita tidak kuliah, apa kata duniaaa?” seru Sukiran menjulurkan lidah.

“Tapi kalau gara-gara sekolah keimananmu menjadi berubah, apa kata akhiraaat?” sahut Sufi tua tertawa terkekeh-kekeh.


READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dan Tukang Mengkafirkan itu pun Minggat

Rata PenuhSejak sebulan lalu, kampung-kampung di sekitar pesantren sufi digemparkan oleh kemunculan seorang ustadz bernama Sukijo As-Salaf, yang mengajarkan hal-hal aneh yang membingungkan masyarakat. Selain mengharamkan slametan, tahlilan, yasinan, petungan nagadina, maulid, ziarah kubur, diba’an, dan barzanjian, ustadz Sukijo As-Salaf mengharamkan pula televisi, facebook, twitter, menyanyi, menari, bertepuk tangan, bahasa Inggris, filsafat, tasawuf, pengobatan medis, dan aktivitas-aktivitas lain yang dinilai tidak Islami.

Ustadz Sukijo As-Salaf yang mengontrak rumah tak jauh dari pesantren sufi, dalam pengajian-pengajian yang disampaikannya seperti sengaja menghujat berbagai praktek yang berkaitan dengan amaliah tasawuf yang dijalankan santri-santri sebagai perbuatan bid’ah, khurafat dan takhayul sesat yang membawa kepada kekafiran yang wajib diberantas. Anehnya, ustadz Dul Wahab yang dikenal suka mengecam pesantren sufi, ternyata tidak luput dari hujatan ustadz Sukijo As-Salaf yang menuduh ustadz Dul Wahab dan murid-muridnya telah melakukan amaliah bid’ah karena diam-diam masih suka mendengarkan lagu-lagu ruhani yang dinyanyikan Bimbo, mengisap sisha (rokok Arab), sering kedapatan memakai celana dan jas, dan menghalalkan gaji PNS, yaitu amaliah bid’ah yang akan membawa pengamalnya ke jurang kekafiran. Dan lebih-lebih sewaktu melihat praktek-praktek keagamaan masyarakat kampung, ustadz Sukijo As-Salaf langsung menghukuminya sebagai tindakan sesat kaum kafir dalam mengikuti ajakan setan.

Sufi tua yang menerima banyak keluhan dari warga kampung sekitar, dengan diiringi puluhan warga kampung mendatangi rumah ustadz Sukijo As-Salaf. Tepat di jalan kampung depan rumah ustadz Sukijo As-Salaf, Sufi tua berhenti dikerumuni warga dan menyampaikan ceramah agama. Dalam ceramah tanpa persiapan itu, Sufi tua bercerita tentang makhluk Tuhan paling terkutuk yang disebut Iblis, yang punya kecenderungan khusus: selalu mengucapkan “ana khoiru minhu” – aku lebih baik dari dia. Sebagai akibat dari kecenderungannya itu, Iblis dilaknat Allah dengan cara diusir dari jama’ah ‘hamba Allah’ yang terdekat, terkucil sendiri dengan jiwa diliputi kemarahan, kebencian, sakit hati, dendam, permusuhan, dan keinginan menyesatkan mereka yang dianggap musuh.

“Jadi saudara,” kata Sufi tua lantang,”Jika ada manusia Iblis di tengah-tengah kita, maka watak dan sifatnya tidak akan jauh dari watak dan sifat Iblis: hatinya selalu panas dan jiwanya bergolak terus diaduk-aduk kemarahan, kebencian, sakit hati, dan permusuhan terhadap orang-orang yang dianggap sesat dalam menjalankan amaliah yang tidak sama dengannya. Itulah ciri manusia Iblis, yang selalu ditandai sifat-sifat panas api berupa marah, benci, sakit hati, sombong, merasa suci, menjadi yang tertinggi, dan menampik siapa pun yang dianggap lebih tinggi dan lebih mulia darinya.”

Ustadz Sukijo As-Salafi yang membuka pintu rumah karena merasa tersinggung, seketika dituding oleh Sufi tua sebagai orang kafir yang mengalami gangguan jiwa. Ketika ustadz Sukijo As-Salaf akan berteriak menantang, warga kampung serentak berteriak,”Wong kafir! Sukijo kafir! Wong edan! Sukijo edan! Sukijo gendeng!”

Sadar keadaan tidak menguntungkan, ustadz Sukijo As-Salaf menutup pintu rumah dengan hati dibakar amarah. Melihat itu, Sufi tua sambil ketawa-ketiwi meninggalkan tempat diikuti warga yang merasa puas telah melampiaskan kekesalan mereka. Sambil berjalan di tengah kerumunan warga Sufi tua memberitahu, bahwa warga masyarakat sebagai golongan mayoritas hendaknya bersatu-padu melawan golongan minoritas yang sewenang-wenang. “Jadi kalau ada segelintir orang menuding kita yang mayoritas sebagai orang-orang kafir, maka kita sebagai mayoritas harus membalikkan tudingan itu kepada mereka. Kalau minoritas menghalalkan darah mayoritas, maka mayoritas pun harus menghalalkan darah minoritas,” kata Sufi tua mengajari warga kampung.

Tindakan Sufi tua yang ceramah di depan rumah ustadz Sukijo As-Salaf itu tidak disukai Guru Sufi. Namun seperti tahu jika akan ditegur Guru Sufi, sepulang dari acara ceramah dadakan itu Sufi tua tidak kembali ke pesantren, melainkan menghilang seperti tertelan bumi. Namun tindakan berani Sufi tua yang mereaksi sikap dan tindakan ustadz Sukijo As-Salaf itu menjadi perbincangan warga kampung selama berhari-hari.

Peristiwa singkat seputar ‘ceramah dadakan’ Sufi tua di jalan kampung depan rumah ustadz Sukijo As-Salaf, ternyata tidak berhenti pada kegiatan warga untuk membincang peristiwa itu. Entah siapa yang memulai, terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka: pada saat ustadz Sukijo As-Salaf kedapatan berjalan keluar rumah, puluhan anak-anak kecil dengan beriringan mengejeknya dengan teriakan,”Orang gila! Orang gila! Orang gila!” dengan satu-dua orang anak melemparinya dengan batu-batu kecil.

Tidak cukup diolok-olok oleh anak-anak kecil sebagai orang gila, sewaktu ustadz Sukijo As-Salaf lewat jalan kampung, para ibu cepat-cepat menutup pintu keras-keras dan meneriaki anak-anaknya agar menghindari berpapasan dengan orang gila. Bahkan warga yang kepergok berpapasan dengan ustadz Sukijo As-Salaf, buru-buru memalingkan muka sambil meludah seperti melihat sesuatu yang najis dan menjijikkan. Dan yang paling tak terduga, warung-warung peracangan di kampung menolak menjual barang dagangan mereka kepada ‘orang gila’ dan keluarganya yang dianggap memperoleh kekayaan atas bantuan Iblis.

Ustadz Sukijo As-Salaf yang tidak menduga bakal memperoleh resistensi dari warga kampung, berusaha untuk tetap bertahan dengan keyakinan bahwa Nabi Muhammad Saw pada masa lalu pun mengalami perlakuan yang lebih keras dari itu. Namun pertahanan ustadz Sukijo As-Salaf mulai goyah sewaktu isterinya menunjukkan gejala-gejala tekanan mental yang sangat berat dalam menghadapi reaksi masyarakat yang dianggapnya kelewatan itu. Dan pertahanan ustadz Sukijo As-Salaf pun bobol sewaktu anaknya pulang dari sekolah menangis tersedu-sedu karena dikucilkan oleh kawan-kawannya dan dituding sebagai anak gila karena ketularan bapaknya yang gila. Demikianlah, dengan hati dibakar amarah, kebencian, sakit hati, dan dendam kesumat, ustadz Sukijo As-Salaf meninggalkan rumah kontrakannya. Warga yang bersukacita dengan kepindahan ustadz Sukijo As-Salaf, mengiringi truk dan colt bak yang mengangkuti barang-barang milik ustadz Sukijo As-Salaf itu, dengan ramai-ramai bersujud syukur serentak di sepanjang jalan kampung.

Seiring pindahnya ustadz Sukijo As-Salaf – yang oleh penduduk diistilahkan “minggat” – ternyata menguak rahasia menghilangnya Sufi tua dari pesantren. Sebab ternyata, selama menghilang itu, Sufi tua menginap di rumah ustadz Dul Wahab.

Dalam sebuah perbincangan setelah ustadz Sukijo As-Salaf “minggat”, ustadz Dul Wahab sempat bertanya tentang alasan Sufi tua mengambil tindakan reaktif yang pastinya tidak disukai Guru Sufi. Sambil menyeruput kopi Arabica, Sufi tua menjawab singkat,”Untuk membuat kanal-kanal yang bisa mengalirkan air kemarahan massa ke muara yang benar.”

“Maksudnya kanal-kanal bagaimana?” tanya ustadz Dul Wahab belum faham.

“Ketahuilah, wahai saudara, bahwa warga masyarakat di Nusantara ini khususnya orang Jawa, memiliki prinsip 4 Nga, yang jika tidak bijaksana menyikapinya bisa menjadi fenomena AMOK dalam skala massal,” kata Sufi tua.

“Prinsip 4 Nga?” sahut ustadz Dul Wahab mengerutkan kening,”Apa itu penjelasannya?”
“4 Nga adalah prinsip Ngalah, Ngalih, Ngamuk, Ngawur,” kata Sufi tua menjelaskan,”Yang disebut Ngalah adalah tindakan selalu mengalah ketika dizhalimi termasuk saat dituduh kafir, sesat, ahli neraka, pemuja setan, pengamal bid’ah; yang disebut Ngalih (hijrah) adalah tindakan meninggalkan kediaman untuk menghindari konflik yang makin tajam; prinsip Ngamuk (marah) adalah sebuah ledakan emosi sewaktu di tempat baru pun, orang masih terus dizhalimi, di mana wujud kemarahan itu berupa tindakan anarkis yang dikenal dengan sebutan AMOK; prinsip Ngawur adalah keadaan jiwa di mana dalam AMOK massa itu tidak jelas siapa yang akan dijadikan sasaran dan kapan berakhirnya keadaan marah tersebut.”“Adakah contohnya?” tanya ustadz Dul Wahab.
“Tahun 1960-an, ketika orang-orang PKI menghujat kyai-kyai sebagai setan desa dan setan kota yang harus digempur, tidak cukup terjadi resistensi secara terbuka terhadap aksi-aksi sepihak PKI yang dipimpin Arab badui bernama D.N.Aidit itu. Aksi-aksi penodaan agama dilakukan secara semena-mena dengan kemarahan-kemarahan terpendam. Nah, saat kemarahan itu meledak, terjadi semacam AMOK massa dalam bentuk melampiaskan amarah kepada semua pimpinan dan anggota PKI. Semua yang terindikasi partai PKI ditangkapi untuk disembelih dalam antrian panjang, karena orang-orang PKI sudah dianggap kafir yang halal darahnya,” kata Sufi tua menjelaskan.

“Jadi..?”

“Tindakanku justru telah menyelamatkan Sukijo goblok itu dari prinsip 4 Nga yang sewaktu-waktu mengancam nyawanya dan nyawa keluarganya,” kata Sufi tua.

“Itu benar kang,” kata ustadz Dul Wahab mengangguk-angguk,”Murid-muridku sebenarnya sudah berencana akan mengeroyok Sukijo di dekat pasar setelah terlebih dulu diteriaki maling!”

“Walah, itu lebih kejam, bro.”


*Oleh: Kyai Agus Sunyoto
http://www.facebook.com/notes/agus-sunyoto-ii/dan-tukang-mengkafirkan-itu-pun-minggat/130449230362796
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ASWAJA; Karakter Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh

Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya:

Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً

Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143).

Kedua at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Firman Allah SWT:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid: 25)

Ketiga, al-i'tidal atau tegak lurus. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8)

Selain ketiga prinsip ini, golongan Ahlussunnah wal Jama'ah juga mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini. Firman Allah SWT:

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut dan mudah-mudahan ia ingat dan takut. (QS. Thaha: 44)

Ayat ini berbicara tentang perintah Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS agar berkata dan bersikap baik kepada Fir'aun. Al-Hafizh Ibnu Katsir (701-774 H/1302-1373 M) ketika menjabarkan ayat ini mengatakan, "Sesungguhnya dakwah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS kepada Fir'aun adalah menggunakan perkataan yang penuh belas kasih, lembut, mudah dan ramah. Hal itu dilakukan supaya lebih menyentuh hati, lebih dapat diterima dan lebih berfaedah". (Tafsir al-Qur'anil 'Azhim, juz III hal 206).

Dalam tataran praktis, sebagaimana dijelaskan KH Ahmad Shiddiq bahwa prinsip-prinsip ini dapat terwujudkan dalam beberapa hal sebagai berikut: (Lihat Khitthah Nahdliyah, hal 40-44)

1. Akidah.
a. Keseimbangan dalam penggunaan dalil 'aqli dan dalil naqli.
b. Memurnikan akidah dari pengaruh luar Islam.
c. Tidak gampang menilai salah atau menjatuhkan vonis syirik, bid'ah apalagi kafir.

2. Syari'ah
a. Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits dengan menggunanakan metode yang dapat dipertanggung­jawabkan secara ilmiah.
b. Akal baru dapat digunakan pada masalah yang yang tidak ada nash yang je1as (sharih/qotht'i).
c. Dapat menerima perbedaan pendapat dalam menilai masalah yang memiliki dalil yang multi-interpretatif (zhanni).

3. Tashawwuf/ Akhlak
a. Tidak mencegah, bahkan menganjurkan usaha memperdalam penghayatan ajaran Islam, selama menggunakan cara-cara yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam.
b. Mencegah sikap berlebihan (ghuluw) dalam menilai sesuatu.
c. Berpedoman kepada Akhlak yang luhur. Misalnya sikap syaja’ah atau berani (antara penakut dan ngawur atau sembrono), sikap tawadhu' (antara sombong dan rendah diri) dan sikap dermawan (antara kikir dan boros).

4. Pergaulan antar golongan
a. Mengakui watak manusia yang senang berkumpul dan berkelompok berdasarkan unsur pengikatnya masing-masing.
b. Mengembangkan toleransi kepada kelompok yang berbeda.
c. Pergaulan antar golongan harus atas dasar saling menghormati dan menghargai.
d. Bersikap tegas kepada pihak yang nyata-nyata memusuhi agama Islam.

5. Kehidupan bernegara
a. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indanesia) harus tetap dipertahankan karena merupakan kesepakatan seluruh komponen bangsa.
b. Selalu taat dan patuh kepada pemerintah dengan semua aturan yang dibuat, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
c. Tidak melakukan pemberontakan atau kudeta kepada pemerintah yang sah.
d. Kalau terjadi penyimpangan dalam pemerintahan, maka mengingatkannya dengan cara yang baik.

6. Kebudayaan
a. Kebudayaan harus ditempatkan pada kedudukan yang wajar. Dinilai dan diukur dengan norma dan hukum agama.
b. Kebudayaan yang baik dan ridak bertentangan dengan agama dapat diterima, dari manapun datangnya. Sedangkan yang tidak baik harus ditinggal.
c. Dapat menerima budaya baru yang baik dan melestarikan budaya lama yang masih relevan (al-­muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdu bil jadidil ashlah).

7. Dakwah
a. Berdakwah bukan untuk menghukum atau memberikan vonis bersalah, tetapi mengajak masyarakat menuju jalan yang diridhai Allah SWT.
b. Berdakwah dilakukan dengan tujuan dan sasaran yang jelas.
c. Dakwah dilakukan dengan petunjuk yang baik dan keterangan yang jelas, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan sasaran dakwah.


*Oleh: KH Muhyidin Abdusshomad
Pengasuh Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BAHASA GERAM

Bangsa ini sedang terserang virus apa sebenarnya? Apakah hanya karena panas global? Di rumah, di jalanan, di lapangan bola, di gedung dapur, bahkan di tempat-tempat ibadah, kita menyaksikan saja orang yang marah-marah. Tidak hanya laku dan tindakan, ujaran dan kata-kata pun seolah-olah dipilih yang kasar dan menusuk. Seolah-olah di negeri ini tidak lagi ada ruang untuk kesantunan pergaulan. Pers pun –apalagi teve--tampaknya suka dengan berita dan tayangan-tayangan kemarahan.

Lihatlah “bahasa” orang-orang terhormat di forum-forum terhormat itu dan banding-sandingkan dengan tingkah laku umumnya para demonstran di jalanan. Seolah-olah ada “kejumbuhani” pemahaman antara para “pembawa aspirasi” gedongan dan “pembawa aspirasi” jalanan tentang “demokrasi”. Demokrasi yang–setelah euforia reformasi--dipahami sebagai sesuatu tatanan yang mesti bermuatan kekasaran dan kemarahan.

Yang lebih musykil lagi “bahasa kemarahan” ini juga sudah seperti tren pula di kalangan intelektual dan agamawan. Khotbah-khotbah keagamaan, ceramah-ceramah dan makalah-makalah ilmiah dirasa kurang afdol bila tidak disertai dengan dan disarati oleh nada geram dan murka. Seolah-olah tanpa gelegak kemarahan dan tusuk sana tusuk sini bukanlah khotbah dan makalah sejati.

Khususnya di ibu kota dan kota-kota besar lainnya, di hari Jumat, misalnya, Anda akan sangat mudah menyaksikan dan mendengarkan khotbah “ustadz” yang dengan kebencian luar biasa menghujat pihak-pihak tertentu yang tidak sealiran atau sepaham dengannya. Nuansa nafsu atau keangkuhan “Orang Pintar Baru” (OPB) lebih kental terasa dari pada semangat dan ruh nasihat keagamaan dan ishlah.

Kegenitan para ustadz OPB yang umumnya dari perkotaan itu seiiring dengan munculnya banyak buku, majalah, brosur dan selebaran yang “mengajarkan” kegeraman atas nama amar makruf nahi munkar atau atas nama pemurnian syariat Islam. Penulis-penulisnya–yang agaknya juga OPB—di samping silau dengan paham-paham dari luar, boleh jadi juga akibat terlalu tinggi menghargai diri sendiri dan terlalu kagum dengan “pengetahuan baru”-nya. Lalu menganggap apa yang dikemukakannya merupakan pendapatnya dan pendapatnya adalah kebenaran sejati satu-satunya. Pendapat-pendapat lain yang berbeda pasti salah. Dan yang salah pasti jahanam.

Dari bacaan-bacaan, ceramah-ceramah, khotbah-khotbah dan ujaran-ujaran lain yang bernada geram dan menghujat sana-sani tersebut pada gilirannya menjalar-tularkan bahasa tengik itu kemana-mana; termasuk ke media komunikasi internet dan handphone. Lihatlah dan bacalah apa yang ditulis orang di ruang-ruang yang khusus disediakan untuk mengomentari suatu berita atau pendapat di “dunia maya” atau sms-sms yang ditulis oleh anonim itu.

Kita boleh beranalisis bahwa fenomena yang bertentangan dengan slogan “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah” tersebut akibat dari berbagai faktor, terutama karena faktor tekanan ekonomi, ketimpangan sosial dan ketertinggalan. Namun, mengingat bahwa mayoritas bangsa ini beragama Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, fenomena tersebut tetap saja musykil. Apalagi jika para elit agama yang mengajarkan budi pekerti luhur itu justru ikut menjadi pelopor tren tengik tersebut.

Bagi umat Islam, al-khairu kulluhu fittibaa’ir Rasul SAW, yang terbaik dan paling baik adalah mengikuti jejak dan perilaku panutan agung, Nabi Muhammad SAW. Dan ini merupakan perintah Allah. Semua orang Islam, terutama para pemimpinnya, pastilah tahu semata pribadi, jejak-langkah dan perilaku Nabi mereka.

Nabi Muhammad SAW sebagaimana diperikan sendiri oleh Allah dalam al-Quran, memiliki keluhuran budi yang luar biasa, pekerti yang agung (Q. 68:4). Beliau lemah lembut, tidak kasar dan kaku (Q. 3: 159). Bacalah kesaksian para shahabat dan orang-orang dekat yang mengalami sendiri bergaul dengan Rasulullah SAW. Rata-rata mereka sepakat bahwa Panutan Agung kita itu benar-benar teladan. Pribadi paling mulia; tidak bengis, tidak kaku, tidak kasar, tidak suka mengumpat dan mencaci, tidak menegur dengan cara yang menyakitkan hati, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tapi memilih memaafkan. Beliau sendiri menyatakan, seperti ditirukan oleh shahabat Jabir r.a,“InnaLlaaha ta’aala lam yab’atsnii muta’annitan...”, Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai utusan yang keras dan kaku, tapi sebagai utusan yang memberi pelajaran dan memudahkan.

Bagi Nabi Muhammad SAW pun, orang yang dinilainya paling mulia bukanlah orang yang paling pandai atau paling fasih bicara (apalagi orang pandai yang terlalu bangga dengan kepandaiannya sehingga merendahkan orang atau orang fasih yang menggunakan kefasihannya untuk melecehkan orang). Bagi Rasulullah SAW orang yang paling mulia ialah orang yang paling mulia akhlaknya. Wallahu a’lam.


Oleh:
KH. Dr. A. Mustofa Bisri
*http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=2&id=1162
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KYAI SAID: NU Tidak Radikal, Bukan Pula Liberal

Sikap NU yang memosisikan diri di tengah-tengah ideologi yang ekstrem adalah pengorbanan yang luar biasa. “Sikap NU yang tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan tawassuth (moderat) adalah hal yang tidak mudah. Karena sering mendapatkan tekanan dan tantangan dari banyak pihak,” kata Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, di Jakarta, 28 April 2011.

Dengan posisinya yang moderat, NU sering mendapatkan serangan dari banyak pihak. Menurut pria yang akrab disapa Kang Said ini, hal itu sangat wajar karena moderat adalah posisi yang tidak mudah. “Saya tegaskan, NU tidak radikal, bukan pula liberal. NU ada di tengah dengan tetap memegang teguh akidah ahlussunnah wal jamaah,” tegas doktor lulusan Ummul Qura ini.

Nahdlatul Ulama sebagai ormas Islam terbesar akan terus menjalankan perilaku yang diajarkan Rasulullah. Kang Said menjelaskan, Nabi Muhammad diutus dengan mengemban tugas profetik atau tugas suci untuk menyempurnakan akhlak manusia.

“Tentu saja ini tugas yang sangat berat, dan misi yang hampir mustahil karena mengembangkan akhlak atau moralitas di tengah masyarakat dengan budaya jahiliyah yang sangat mapan, dengan sistem sosial yang diskriminatif, sistem ekonomi yang menghisap, sistem kekuasaan yang menindas, dan sistem keagamaan yang penuh kemusyrikan,” lanjut Kang Said.

Masalah yang dihadapi Nabi tersebut sedemikian kompleks dan mengakar. Pembongkaran dan perombakan yang diemban dalam tugas profetik Nabi Muhammad ialah menggantinya dengan sistem kehidupan baru yang lebih adil dan manusiawi.

Kang Said juga menegaskan komitmen NU dalam menjaga esensi kemanusiaan dalam berbangsa dan negara di tengah realitas kemajemukan. “Maka kita perlu menyadari bahwa seseorang tidak mungkin dapat melangkah sendirian tanpa orang lain. Semua kelompok masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama di mata hukum. Komitmen berbangsa dan bernegara berarti komitmen untuk tidak melakukan penindasan, diskriminasi, serta aksi kejahatan lainnya terhadap kelompok anak bangsa sendiri, hingga bangsa dan negara lain,” pungkas Kang Said.


*http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=28485
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PECINTA DUNIA = ORANG MATI

Di tengah semakin meluasnya wabah penyakit Al-Wahan, pengajian taklim yang diasuh Guru Sufi dengan tema-2 sufisme ternyata makin lama makin banyak jumlah jama’ahnya, terutama jika Guru Sufi menceritakan kesalehan, kemuliaan, kekeramatan, dan kemampuan para wali memecahkan masalah-masalah rumit dalam kehidupan. Namun sewaktu Guru Sufi membahas tema yang berkaitan dengan laku ruhani para sufi dalam menghindari materi duniawi, jama’ah yang hadir dapat dihitung dengan

Sewaktu ditanya Sufi tua tentang ketidak-hadiran dalam pengajian bertema laku ruhani sufi, beberapa orang jama’ah dengan jujur menyatakan jika mereka sangat cemas dan takut setiap kali Guru Sufi mengucapkan kata-kata khas laku ruhani seperti miskin, fakir, lapar, zuhud, kekurangan, tawakkal, dsb.

Ketika Sufi tua menyampaikan masalah itu kepada Guru Sufi, ternyata Guru Sufi menganggap hal itu sebagai kewajaran dari gejala-gejala umat yang terjangkit penyakit Al-Wahan. Itu sebabnya, Guru Sufi tidak berkenan mengubah tema pengajian yang disampaikannya meski kelak yang mengaji hanya para sufi yang jumlahnya beberapa gelintir. Bahkan tema-tema laku ruhani sufi, makin sering disampaikan dengan resiko jumlah jama’ah makin berkurang.

Pada saat jumlah jama’ah membludhak karena tema yang dibawakan berkaitan dengan rejeki dan doa-doa mustajabah, tiba-tiba di tengah pengajian Guru Sufi menuturkan kisah Nabi Isa AS yang memperingatkan murid-muridnya agar mereka tidak duduk bersama orang-orang mati, sehingga hati mereka akan ikut menjadi mati. Heran dengan peringatan gurunya, para murid bertanya,”Siapakah orang mati itu, wahai guru?”

Nabi Isa AS menjawab,”Orang-orang yang mencintai dunia.”

“Subhanallah!” teriak seorang jama’ah menutup telinganya dengan jari. Jama’ah yang lain kelihatan gelisah. Wajah mereka tiba-tiba berkeringat. Terdengar celoteh tak jeas dari tengah-tengah jama'ah.

Tak perduli dengan reaksi jama’ah yang nervous, Guru Sufi meneruskan ceritanya dengan menuturkan kisah murid-murid Nabi Isa AS yang ingin mendengar uraian guru mereka tentang makna “pecinta dunia” yang disamakan dengan orang mati. “Ceritakan kepada kami, wahai guru, kenapa pecinta duniawi sama dengan orang mati!”

Guru Sufi selanjutnya mengisahkan bahwa satu ketika Nabi Isa AS melakukan perjalanan lewat sebuah negeri yang penduduknya mati bergelimpangan di jalan-jalan. Lalu Nabi Isa AS berkata kepada murid-muridnya,”Wahai kaum Hawariyyun, sesungguhnya mereka mati dalam kebencian. Andaikata mereka tidak mati dalam kebencian, niscaya mayat mereka akan dikubur.”

Para murid bertanya,”Wahai guru, kami ingin mengetahui kisah mereka."

Nabi Isa AS memohon kepada Allah yang menurunkan wahyu kepadanya,”Jika malam datang, panggillah mereka. Nisacaya mereka akan menjawab pertanyaanmu.”

Ketika malam tiba, Nabi Isa AS memanggil mayat-mayat itu dalam bahasa isyarat,”Wahai penduduk negeri..”

Tiba-tiba terdengar jawaban,”Ya, wahai ruh Allah.”

Nabi Isa AS bertanya,”Bagaimana keadaan dan kisah kalian semua sampai mengalami nasib begini buruk?”

Salah seorang dari mayat itu menjawab,”Di malam hari kami dalam keadaan sehat dan paginya kami sudah berada di jurang yang sangat dalam.

“Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Nabi Isa AS.

Mayat itu menjawab,”Karena kecintaan kami kepada dunia dan ketaatan kami kepada ahli maksiat.”

“Bagaimanakah kecintaan kalian kepada dunia?”tanya Nabi Isa AS ingin tahu.

Mayat itu menjawab,”Seperti cinta anak kepada ibunya. Jika ibunya menghadap kami bersuka cita, sebaliknya jika ibunya pergi kami bersedih hati.”

Nabi Isa AS bertanya,”Bagaimana keadaan saudara dan sahabat-sahabatmu sampai mereka tidak menjawab pertanyaanku?”

Mayat itu menjawab,”Mereka tidak bisa menjawab, karena mereka sedang didera siksa api neraka oleh para malaikat penyiksa yang tak kenal ampun.”

Nabi Isa AS bertanya,”Bagaimana dengan engkau? Bukankah engkau bisa menjawab pertanyaanku, padahal engkau dari kalangan merek?”

Mayat itu menjawab sedih,”Aku berada bersama mereka. Aku juga ditimpa siksaan. Aku tergantung-gantung di pinggir Jahannam. Aku tidak tahu apakah habis ini akan selamat atau jatuh ke dalamnya.”

“Itulah nasib para pecinta dunia, wahai murid-muridku,” kata Nabi Isa AS mewanti-wanti,”Karena itu jangan sekali-kali kalian duduk bersama mereka.”

Usai mendengar penuturan Guru Sufi, para jama’ah banyak yang menarik nafas berat seperti habis menonton film horor yang menakutkan. Dan dalam keadaan demikian, Guru Sufi menambahi kupasan tentang ciri-ciri orang-orang penyembah dunia yang celaka. Dengan suara ditekan tinggi Guru Sufi berkata,”Ciri-ciri pemuja dunia, jika sejam, sehari, sepekan, sebulan tidak ingat Allah sedetik pun, tidaklah hal itu menjadi masalah. Sebaliknya, sejam tidak ingat duit dan benda-benda yang menawan hatinya, tubuhnya sakit semua seperti dihajar gladiator.”

Para jama’ah ketawa kecut dengan wajah sesekali pucat dan sesekali merah.

Tak perduli dengan reaksi para jama’ah, Guru Sufi melanjutkan,”Ciri lain pecinta dunia, jika mendengar kata miskin, fakir, menganggur, kelaparan, kekurangan, hutang, zuhud, uzlah, dan sejenisnya, tubuhnya terasa panas dingin terserang demam. Sebaliknya, kalau mendengar uang, uang, uang, uang, dan uang, hatinya berbunga-bunga seperti mendapat lotre.”

Para jama’ah diam. Muka mereka masam. Sebagian malah menggerutu. Mereka merasa disindir dengan keras oleh Guru Sufi. Tapi tak ada satu pun di antara mereka yang berani bertanya atau mengomentari pengajian Guru Sufi yang melenceng dari tema itu.


*Oleh: Kyai Agus Sunyoto
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MBAH SHOLEH BAHRUDDIN; Guru Tasamuh Pengayom Semesta

Lekat dalam ingatan KH. Sholeh Bahruddin ketika gurunya, KH. Munawwir dari Tegalarum, Kertosono, Nganjuk, menasehatinya. Dia meminta Sholeh muda mengalah pada adik-adiknya dengan mendirikan pesantren sendiri. “Ngalah iku barokah (mengalah itu dapat barokah, red.) !” pesan Kiai Munawwir.

Istilah ngalah itu oleh Kiai Sholeh dijadikan nama pesantren yang didirikannya pada 1985 M. Pondok Ngalah, pesantren salaf yang terletak di Dusun Pandean Desa Sengonagung Kec. Purwosari, Kab. Pasuruan, Jawa Timur, kini telah berkembang menjadi Yayasan Daarut Taqwa PP Ngalah yang memiliki berbagai lembaga pendidikan.
SholehBahrudin

Pendidikan nonformal mulai shifr (setingkat TK, red.) hingga mu’allimin (setingkat sekolah guru, red.). Sedang pendidikan formal, mulai Ibtidaiyah sampai Perguruan Tinggi Universitas Yudharta yang berdiri pada 2002. Santrinya lebih dari 10.000 orang.

“Banyak santri non muslim belajar di Universitas Yudharta, meski kampus ini di bawah naungan pesantren. Bahkan, ada dosen non muslim masuk dalam naungan Yayasan Daarut Taqwa,” kata Kiai Sholeh kepada Riyansyah, kontributor the WAHID Institute di Jawa Timur.

Mustasyar Nahdlatul Ulama Kabupaten Pasuruan ini berangan-angan, kampusnya menjadi pusat pengembangan komunitas dari latar belakang muslim dan non muslim. “Ini sesuai dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” katanya.

Kebesaran Kiai Sholeh dan pesantrennya tak lepas dari teladan ayah yang juga gurunya, KH. Mohammad Bahruddin Kalam, pengasuh PP Darut Taqwa Carat, Gempol, Pasuruan. Satu kisah keteladanan yang diajarkan kepadanya, adalah bagaimana Kiai Bahruddin melindungi kelompok minoritas.

Sikap ayahnya itu diteruskan Kiai Sholeh, melalui dialog dengan pemuka-pemuka agama non muslim. Namun itikad baiknya tak luput dari kritik, bahkan kecaman yang dilancarkan kelompok Islam garis keras.

Menanggapi hal itu, pria kelahiran Pasuruan 9 Mei 1953 ini, mengkiaskan, “Kiai kok kumpul kiai. Ya sama dengan mur ketemu mur. Yang baik itu kan mur ketemu baut. Buat apa? Ya, buat mengikat NKRI, biar tidak coplok (bercerai berai, red .).”

Murid KH. Muslih, mursyid Tarekat Naqsabandiyyah dari Pesantren Mranggen, Jawa Tengah ini punya pandangan menarik tentang hokum berkawan dengan kaum muslim dan non muslim, termasuk doa bersama. Padahal yang membolehkan juga banyak, kata Kiai Sholeh seraya membacakan Qs. al-Mumtahanah ayat 8: “La yanhakum Allah ‘an alladzina lam yuqaatilukum fi al-din wa lam yukhrijukum min diyarikum ‘an tabarruhum wa tuqsithu ilaihim. Inna Allah yuhibb al-muqsithin.” (Allah tiada melarang kamu untuk berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil).

Kiai Sholeh juga memaparkan beberapa referensi kitab kuning. Syaikh Zakaria al Anshori (w. 26H/ 1520M) dalam Kitab al-Jamal Syarah al- Minhaj menyebutkan, jawaz al-ta’min bal nudiba idzaa da’a linafsihi bi al-hidayah walana bi al-nashr matsalan (diperbolehkan mengamini doa, bahkan dianjurkan berdoa semisal untuk memohon hidayah dan pertolongan).

Ia juga merujuk al-Tafsir al-Munir karya Muhammad Nawawi al-Bantani (w. 1314H/ 1879M); berhubungan baik di dunia sebatas urusan yang nyata, maka hal itu tidak dilarang. “Istilahnya, walaupun mobil itu diciptakan orang Jepang, kalau bisa dipakai untuk jamaah manakiban, ya tetep mendapatkan manfaat, kan ?” seloroh Kiai Sholeh


*Sumber_http://www.wahidinstitute.org
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

WASPADA NII, ISLAM, PESANTREN DAN KYAI PALSU

Dalam pengajian Malam Jum’at Kliwon, Sufi tua menemukan seorang penyusup di antara jama’ah pengajian. Usai pengajian, penyusup itu digiring ke teras mushola, diajak bergabung diskusi dengan Sufi Kenthir, Sufi Sudrun, Sufi Gelandangan, Sufi Gemblung, dan Dullah yang lagi membincang NII dan teroris. Penyusup itu bingung mengikuti alur pembicaraan para sufi yang ternyata sangat faham dengan dunia intelijen, termasuk skenario-2 intelijen tingkat tinggi yang tak sembarang orang mengetahuinya. Bahkan penyusup itu pucat wajahnya saat mengetahui bahwa Sufi tua sejatinya adalah seorang tokoh senior yang terkenal di dunia intelijen yang sudah pensiun satu dasawarsa silam.

Faham bahwa sang penyusup sudah mati kutu, Sufi tua dengan sikap seorang senior kepada yuniornya menanyakan latar bagaimana sang penyusup itu masuk ke pesulukan, pesantren sufi, yang sama sekali tidak memiliki afiliasi dengan kelompok-2 garis keras yang selama ini meresahkan masyarakat. Sang penyusup dengan polos menyatakan, bahwa pesantren memang menjadi salah satu institusi yang dicurigai berpotensi menjadi center power bagi munculnya gerakan-gerakan ekstrim-radikal yang membahayakan negara dan masyarakat. “Fakta menunjuk bahwa gerakan-2 ekstrim-radikal yang melancarkan teror selalu berhubungan dengan Pesantren Ngeruki Hati di Surakerta pimpinan Kyai Haji Abu Ba’afkir,” kata si penyusup menjelaskan.

“Saudara ini ada saja, pesantren kok ngeruki hati. Hatinya siapa yang dikeruk? Tapi, logika yang sampeyan pakai ltu logika sesat. Logika sesat kok dipakai pijakan berpikir,” sahut Sufi tua geleng-geleng kepala, ”Kalau logika sesat itu diteruskan, deviasi penyimpangannya akan semakin lebar.”

“Mohon petunjuk, bapak,” kata si penyusup ingin tahu.

“Kalau di sebuah kota ada seorang warga kota melakukan kejahatan mencuri, apakah patut dicurigai bahwa setiap rumah di kota potensial berisi maling?” Sufi tua bertanya balik.

“Tentu tidak, bapak,” kata si penyusup tegas.

“Lalu, term-term logika apa yang digunakan ketika menyama-ratakan pesantren yang ada di Nusantara dengan satu pesantren aneh bin ajaib yang tumbuh dan berkembang sangat ajaib, yaitu Pesantren Ngeruki Hati, yang justru berbeda dalam segala hal dengan pesantren-pesantren yang ada di bumi Nusantara?” tanya Sufi tua dengan suara ditekan tinggi.

“Saya tidak tahu, bapak. Apakah beda pesantrennya Kyayi Abu dengan pesantren-pesantren lain?”
"Justru akibat ketidak-tahuan perbedaan pesantren aneh bin ajaibnya orang Arab badui itu dengan pesantren-pesantren yang ada di Nusantara itulah yang aku katakan bahwa tugasmu mengawasi dan memantau pesantren-pesantren itu didasari logika sesat. Kalau menggunakan teori ilmu logika, cara pikir semacam itu disebut fallacy of illicit process dan argumen yang digunakan disebut Argumentum ad ignorantiam. Sebab tanpa didukung pengetahuan yang utuh tentang term pesantren Nusantara, secara coersif sudah diambil sebuah konklusi tentang pesantren dengan term pesantren gurun pasir yang sama sekali lain dan tidak memiliki ciri-ciri yang khas Nusantara. Bagaimana seekor tikus gurun disamakan dengan kawanan kucing Angora?” kata Sufi tua memaparkan alasan.

“Mohon petunjuk, bapak, apa beda pesantren Ngeruki Hati dengan pesantren-pesantren di Nusantara?” tanya si penyusup sangat ingin tahu.

Sufi tua diam. Sejenak setelah itu, ia berbisik kepada Sufi Sudrun. Dan setelah mengangguk, Sufi Sudrun mulai berkata menjelaskan,“Ketahuilah saudara, bahwa pesantren-pesantren Nusantara adalah lembaga pendidikan yang berkembang dari lembaga pendidikan Hindu-buddha yang disebut Dukuh, tempat para wiku (calon pendeta) belajar. Salah satu kegiatan para wiku sebagai siswa di Dukuh adalah mempelajari sashtra (kitab suci). Orang-orang yang mempelajari sashtra (kitab suci) disebut sashtri (yang mempelajari sashtra -kitab suci). Nah, saat ajaran Islam butuh dikembangkan lewat pendidikan, para penyebar Islam berinisiatif untuk mengambil alih model Dukuh Hindu-buddha. Tetapi karena para siswa muslim bukan pendeta, maka mereka tidak disebut wiku melainkan disebut sashtri (orang yang mempelajari sashtra-kitab suci). Demikianlah, kata Sansekerta Sashtri dilafalkan dalam lidah muslim Jawa menjadi Santri. Itulah latar sejarah mengapa lembaga pendidikan Islam tradisional disebut pesantren, yang bermakna tempat para santri (pe-santri-an).”

“Waduh bapak, sungguh saya tidak tahu-menahu soal itu,” kata si penyusup mengangguk-anggukkan kepala dan mendecakkan mulut.

“Nah, dengan penjelasanku ini,” kata Sufi Sudrun,” Masuk akalkah menurut saudara, jika ada orang-orang Arab Badui berfaham Wahabi yang anti bid’ah, anti khurafat, anti dengan berbagai unsur jahiliyyah dari agama selain Islam, tiba-tiba mendirikan lembaga pendidikan pesantren? Bagaimana aneh bin ajaibnya ini, ada orang berfaham Wahabi tiba-tiba mengembangkan lembaga pendidikan dengan memungut sisa-sisa Hindu-buddha yang mereka anggap lembaga sisa jahiliyyah?”

”Tapi pimpinan pesantrennya memakai gelar Kyayi, bagaimana itu bapak?” tanya si penyusup.

“Itu juga mustahil bin mustahal,” tukas Sufi Sudrun menjelaskan,”Soalnya, gelar Kyayi adalah gelar kebangsawanan pra Majapahit yang setara dengan gusti. Hanya kalangan brahmana-ksatria, yang berhak menggunakan gelar Kyayi. Asal saudara tahu, keturunan Arya Damar Adipati Palembang di Bali – dari puteranya yang bernama Arya Jasan – lahir raja-raja Tabanan bergelar kyayi seperti Kyayi Arya Ngurah Sari, Kyayi Arya Celuk, Kyayi Agung Made Tabanan, dsb. Para raja itu beragama Hindu”

“Oo begitu ya bapak..?”

“Ini kan aneh, ada orang Arab Badui berfaham Wahabi tahu-tahu memakai gelar kebangsawanan Majapahit, Kyayi, yang jelas-jelas gelar itu mereka anggap sebagai simbol jahiliyyah dari masa kerajaan kafir Majapahit. Ini benar-benar mustahil bin mustahal,” kata Sufi Sudrun ketawa.
“Jadi simpulan dari penjelasan bapak itu bagaimana?” tanya si penyusuf minta penegasan.

“Menurut hematku, itu pesantren palsu dan gelar kyayi-nya juga palsu, karena sepanjang sejarah tidak pernah ada pesantren berfaham Wahabi. Sepanjang sejarah, Wahabi juga menganggap haram mengambil alih anasir-anasir Hindu-buddha. Bahkan setahuku, belum ada juga orang Arab badui memakai gelar kebangsawanan Jawa kuno, Kyayi. Dari mana nalar lojik semua itu?” kata Sufi Sudrun.

“Maaf bapak,” kata si penyusup kepada Sufi tua,”Kira-kira kordinat pesantren Wan Abu itu ke mana ya?” tanyanya tidak lagi menyebut gelar kyai di depan nama Abu Ba’afkir.
“Kalau hubungannya dengan Osama bin Ladn,” kata Sufi tua singkat,”Aku pikir semua intelijen sedunia sudah mafhum, ke mana koordinat Wan Abu itu.”

Dullah yang sejak tadi menyimak tiba-tiba bertanya,”Mohon tanya mbah.”
“Soal apa?” gumam Sufi tua.
“Apakah Wan Abud kordinatnya nyambung dengan gerakan NII?” tanya Dullah.
“Kalau NII itu lain lagi kordinatnya,” kata Sufi tua seperti menahan geli.
“Kira-kira NII itu ke mana jalurnya?” tanya Dullah penasaran.
“Itu kerjaan jaringan intelijen lokal, kelanjutan dari OPSUS dulu, jamannya Orde Baru eranya Ali Murtopo dan L.B.Murdani,” kata Sufi tua mengingat-ingat.

“Woo begitu yaa…” sahut Dullah melenggong.
“Iya, itu angkatannya Panji Cemerlang, arek Sedayu, Gresik yang dibikinkan pesantren As-Syaithon di Dermayu. Panji itu seangkatan dengan Supirto, mantan menteri yang bikin Partai Kesejahteraan Sosial. Jaringan-jaringan bekas OPSUS itu, masih eksis dan operasional, mengiringi perjalanan sejarah bangsa kita,” kata Sufi tua..-faith acccomply

“Berarti mereka itu tidak bahaya kan, bapak?” tukas si penyusup

Demi keamanan dan keselamatan aset-aset kapitalisme global.”rust en orde berkuasa untuk menegakkan ruling class – yang dikendalikan kapitalisme global. Sebab dalam open society tak lagi dibutuhkan demokrasi, tetapi butuh open society. Sufi tua ketawa, lalu berkata,”Ya untuk negara tidak berbahaya. Tapi untuk rakyat, masih harus dikaji ulang, terutama jika dikaitkan dengan geopolitik perubahan tatanan global –

“Hwaduuuh, jadi semua itu kayaknya palsu.” sahut Dullah garuk-garuk kepala,”Ini kayaknya ada hubungannya dengan RUU Intelijen yang harus disahkan jadi UU, mbah, karena sekarang ini negara dikesankan sudah dalam keadaan “siaga” dan bahkan mungkin sebentar lagi “awas”.

Sufi tua dan Sufi Sudrun ketawa. Si penyusup tersenyum kecut.

*Dari FB Agus Sunyoto II
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SERPIHAN PELAJARAN MORAL DALAM TEMU ALUMNI SANTRI PP. NGALAH (7 Desember 2010)

“Tolong nak ambek bojomu podo sabare, ambek bojo ambek anak nggak oleh kereng-kereng, kabeh tolong… aku titip ambek bojo lan anak ojo kereng-kereng nggak apik, lek tukaran masyaallah… nyudho rejeki, wong tukaran pisan rejekine mundur 40 dino, lek tukaran ping pindho, yo 80 dino. Lha lek ping telu yo itungen dhewe!”…

Ungkapan di atas merupakan salah satu dari sekian dawuh Romo Kyai Sholeh Bahruddin saat memberikan mauidhotul hasanah pada acara Temu Alumni Santri Ngalah perdana yang diikuti hampir 2500 alumni (7/12/10). Dawuh yang selama kurang lebih 30 menit tersebut memberikan pesan, piwulang/pitutur, sekaligus penjelas dari visi misi beliau yang benar-benar sarat akan makna, terlebih dalam konteks kekinian.


Berikut ini merupakan teks dawuh Romo Kyai Sholeh Bahruddin yang kami rangkai dari hasil rekaman audio pada saat acara berlangsung. Sengaja kami (Redaksi MinNa.red) tampilkan dalam bahasa aslinya (dengan sedikit-banyak penyesuaian tanpa mengurangi subtansi makna) agar nampak alami apa dan bagaimana pesan yang tersirat dalam dawuh tersebut. Teks dawuh ini setelah ucapan salam dan salam pembuka;

***

Yth. Bpk Muspika Purwosari alhamdulillah telah hadir semua. Nuwun sewu Bapak Muspika kulo mboten boso, soale niki yugo kulo sedoyo, mangke lek kulo boso lha maleh bosoi panjengan mawon. Wong anak kale wong tuwo, milo kulo sering kale lare-lare senajan mpun gada yugo tigo sekawan lan sak piturute, kulo mboten boso. Nopo masalahe? Biar tidak seperti orang lain, anak yo tetep anak, putu yo tetep putu. Nuwun sewu anak ku kabeh, iki cacak mu. Milo nyelok iki fadlan, boleh Gus, boleh Cacak, boleh Mas, koyok dene Muzaki lan Yusuf, sing anyar Ahmada ndugi maleh iki asale Mojoagung, lha niki Kholid--kumpulan antarane Panji lan Buduran nggeh niki Kholid niki…


Milo nopo’o sih kok tembung Neng-Gus? Sebab ini saudara tua, lha iki Cacak’e sampeyan Adik’e. Lha lek nyelok aku rek yo kabeh Romo (Bapak), luwih marem dipangil Romo dari pada Kyai, terlalu tinggi. Lek Romo lah deket, antarane anak ambek wong tuwo biar deket. Kulo dudukno kabeh iki masalahe sing lami-lami mboten semerep, lha lek ngeten sing tuwek sing salah…


Ibumu bunyai iku siji nggak loro, yo na’udzubillah, lha lek kulo duwe bojo loro nyontoni anak’e nggak pantes ; wong tuwo kok tuas tuwo! Niki repote, abote koyok ngunu perkoro karep, yo karep tapi ngengkrek rek. Cek ono benane, masih nggak isin Gusti Allah yo isin ambek anak’e, isin ambek santri kabeh…


Kulo ngerungoaken ikrar kolo wau pas, nggak susuk itulah Darut Taqwa. Mesti anak-anakku takon; “Kyai taon 2005 ada Seminar Nasional, 2006 Seminar Kebangsaaan iku Nasional, ketiga 2010 Seminar Antar Umat Beragama itu Internasional, niku kulo mboten semareap nopo karepe Kyai?”. Yo nggak adoh ambek sing diikrarno mau lho nak… apa tujuan, ending-endingnya, esensinya; biar tidak terjadi perang antar agama. Jadi, esensinya/natijahnya/titik fokusnya/mahalusyahidnya/mantuqnya; biar tidak terjadi perang antar agama…


Perang antar partai paleng sing mati sak juta rong juta (thithik), perang antar Negara paleng sing mati sepuluh juta, tapi kalo terjadi perang antar agama, na’udzubillah! Beribu ribu ribu ribu juta nyawa yang harus dikorbankan, na’udhubillah! Sebab itu sudah terjadi pada perang dunia ke-2. Maka, Darut Taqwa mempunyai jiwa Rahmatan lil Alamin atau pancasila, sehingga siap untuk ke depan. Nggeh ngoten niku masalahe ono sing ditiru… Memang jiwanya begitu. “Mulai ndugi sinten Kyai?”. Teko Mbahmu nak, Mbah Kyai Bahruddin nak yo ngunu, mulai Mbah Yutmu nak; Mbah Kyai Kalam, Mbah Kyai As’ari yo ngunu iku, perilakune sing sepuh-sepuh ngunu iku. Alhamdulillah sekarang tidak ada apa-apa, masalah Seminar dan lain sebagainya, itu jerih payah intelektual dari santri-santri semua, mengundang temen-temen dari 6 agama, Alhamdulillah sukses bersama-sama TNI-nya dan Polri-nya. Bisa dinikmati semua bangsa dan Negara, Alhamdulillah… sekarang sudah aman tidak apa-apa. Tapi titenono nak, penyakite 20 taon kumat maneh. “Apa masalahnya?”, Soale nduwe loro (sakit) gendeng taunan, mpun panggling, titenono…!!


Wes kabeh yo nak, titenono nak; Romo mu; aku lan Bu Nyai, anak-anakku kabeh iki politik nak yo an, tapi “politik kebangsaan” bukan “politik golongan”, lha nek politik golongan nggak yo pak-pok mawon ambek santrine, milo untuk santri oke dadi DPR, apapun monggo, haknya santri, dadi politisi monggo, dadi polisi monggo, dadi TNI monggo, dadi PNS monggo, dadi LSM moggo,, monggo,, monggo,, monggo,, monggo. Tapi ojok lali nak maeng nang ikrare. Perkoro Kyai-Guse tetep politik kebangsaan, bukan politik golongan. Lha lek politik golongan nggak yo pak-pok ae ambek anak (santrine), pak pok mawon ambek guru, dosen mahasiswane, lha lek Kyai-Guse podo ambek dosen, guru lan santrine nggak yo jeruk minum jeruk. Biar tidak sama; harus naik grit satu-- jiwa kebangsaan. Koen nak, terserah jiwa golongan monggo, jiwa kebangsaan monggo sing penting pancalisa tetep dipegang teguh.


Darut Taqwa sepur express, bukan sepur ekonomi dan bukan sepur KRD dan bukan sepur sing unine theru..theru… terus sing munine cekot, cekot, cekot (sepur theruthuk) lek sepur ngunu gak nyampe-nyampe iki, tutuk Sengon leren maneh, ono Sukorejo leren maneh, ono Wonokerto leren maneh lha kapan tutuk’e. Ono Pilkasun leren, ono Pilkades leren maneh; “lho nggak nyampe-nyampe iki engkok”. Sebab penumpang alias para santri minta diantarkan jadi TNI, jadi polisi, jadi PNS, jadi DPR jadi bupati, lan jadi macem-macem, minta diantarkan kesana, minta cepat dan tepat! “Bagaimana kalau begini?”, Sepur apa yang harus dipake? “Sepur ekspres!”. Telung gerobak wong lungo nak, telung gerobak maneh ono sing ngemot areng, bakul tempe, bakul gedang, telung gerobak maneh pertamina, telung gerobak maneh ngemot wong bambong, telung gerobak maneh ono sing numpak nduwur--sing ditarik ngamuk. Inilah penumpang saya.


Darut Taqwa ini supercepat, 25 taon mulai Agustus ‘85, mulai nol sehingga ada Universitas; mulai TK,MI, MTs, SMP Bhineka Tunggal Ika, MA, SMA, SMK dan Universitas dengan 15 jurusan. Coba nggolek’o; “Yo nggak sombong, nggolek’o pondok sing umure 25 taon mulai nol bisa mewujudkan sampe Universitas bisa mengantarkan jadi pegawai negeri, bisa mengantarkan menjadi sebagai-sebagainya”. Kediri kotane bukti nyatane; faamma bini’mati robbika fahaddits (nek oleh kenikmatan teko gusti allah dikonkon ngandak-ngandakno) polae cek ditiru, niki jenenge tahadduts bini’ma (menceritakan kenikmatan), bukan takabbur dan bukan riya’. Ini kenyataan…


Tapi awakmu nak, saiki ijek masa proses; ono sing nyambut gawene tibo-tangi, ono sing ijek proses, ono sing nduwe sepeda motor, ono sing nduwe montor, semua ini proses. Masih aku dewe yo proses nak, mulai nduwe anak 5 (limo) aku kaet wujud rasane ngerasakno enak. Wong Kanjeng Nabi ae yo proses, kaitane buruh angon wedus, suwe,, suwe,, suwe sales (dagang melu Siti Khadijah). Suwe,, suwe,, suwe ngrabi sing nduwe sales. Suwe,, suwe,, suwe dadi Nabi, mosok moro-moro Nabi yo g masuk akal lha’an. Aku yo ngunu nak, teko pondok rabi ambek Nyaimu iki, yo buruh sawah mari ngunu dodol telo, bakul gamping, suwe,, suwe,, suwe diuncalno nang Sengon, itu lha proses… Kita harus sadar proses!. Universitas ae nggak moro-moro sarjana ngunu, mulai TK, munggah nang SD, MTs, SMA, Kuliah baru Sarjana. Proses, nggak moro-moro kun fayakun sarjana!, Aku weruh awakmu ijek proses. Mulakno pertemuan alumni iki paling thithik 5 taon pisan ae, ojo 2 taon pisan. Aku ngerti awakmu durung sugih, durung wayahe, ono prosese. Tiap 5 taon pisan, 5 taon pisan… Lha lek awakmu moro-moro sugih, tak curigai; “dunyo warisan ta rek?”. Lha lek dunyo warisan yo akeh tunggale?!! Mulakno ndelok awakmu durung sugih saya itu bangga, ini berarti sedang proses.


Disini sepurnya sepur express, mung kadang gerbange kadang ono sing olo, gerbange rupane opo; TK, MI, MTs, SMP, SMA, MA, SMK, Universitas, Pondok Pesantren dan sebagainya. Sebagian gerbange, yo g kabeh. Makanya, saya tetep sadar, memang yang kami geret ini macem-macem lorry (gerbang). “Tapi, yok nopo Kyai bisane podo ekspresse?” Gampang… tolong S3 dong, engkok lek sampeyan doktor Insyaallah podo expresse, wenak pancalane sepur ekspress ngunu…


Sepur ekspres ngunu diinteni wong; Alhamdulillah, nyata2 sudah sukses. Masalahe niki kersane genah lan paham. Lah niki lek mboten digenahaken kadang santri niku salah paham. Tapi mboten, santri kulo sedoyo paham sedoyo…


Mungkin ada tambahan lagi, aku pesen; “Tolong nak ambek bojomu podo sabare, ambek bojo ambek anak nggak oleh kereng-kereng, kabeh tolong… aku titip ambe bojo lan anak ojo kereng-kereng nggak apik, lek tukaran masyaallah… nyudho rejeki, wong tukaran pisan rejekine mundur 40 dino, lek tukaran ping pindho, yo 80 dino. Lha lek ping telu yo itungen dhewe!”…

***

Tak rungokno arek-arek iku pidatone maeng lek ketemu gek pondok iling nakale, sing dicritakno nggak apik’e; “aku biyen iko mbeling”. Roto-roto sing nggarai terkenang iku mbelinge…

Wes nak, salahmu pitung salah, salaho sewu salah hari ini tidak ada salah sedikitpun, habiss! Koyok bayi sektas lahir gak ono kesalahan ambek aku lan ibumu, wes gak ono! Nol, kosong…!!


Dadi tolong diinget, hari ini tidak ada kesalahan sedikitpun terhadap Bu Nyai dan Romo Sholeh dan Pondok Pesantren dan Yayasan dan Lembaga, habis… tidak ada! Wong Presiden ae nduwe grasi kok, masih Kyai yo nduwe ta rek…


Iki disekseni kabeh; anak-anakku nggak oleh dadi DPR (anak2ku, cacakmu iki lho rek, gusmu iki), nggak oleh dadi DPR, nggak oleh dadi Bupati, nggak oleh dadi Gubenur, nggak oleh dadi Presiden-- paham yo nak… Lek santri dadio rek! Payuho berase ojo selepe… Lek selepe sing payu, buyar! Lek berase sing payu, sing nduwe selep iso melelet brengos ambe mengkerik! Cek ono benane bainal selep wal beras…


Dene putuku nak, ono luar pasuruan; entah di Mojokerto, entah di Malang di luar Pasuruan; boleh jadi pegawai negeri, boleh tapi di luar Pasuruan. Cek nggak ngene’i njero; Darut Taqwa ben tetep bening. Biar imbasnya tidak ngene’i Pondok Darut Taqwa. Biar selepnya tetep jalan…


Sebab Darut Taqwa tak tuku ambek Nyai, dituku ambek jeritan, derita; dituku ambek jeritan, derita, tangisan nggak dikeplok-keplok’i thok ngunu rek. Awakmu nak yo, tak posoi telung taon; “setahun kanggo awakku dewe, setahun anak-putu, setahun santri tak pasani, percaya!!, Nanti semua yang hadir semua para santri semoga menjadi orang yang sukses hidupnya barokah manfaat bagi semua bangsa dang Negara”. Alfatihah….

***

Sungguh luar biasa pesan yang disampaikan oleh Romo Kyai Sholeh Bahruddin terhadap santri-santrinya yang hadir pada pertemuan alumni tersebut. Begitu komplit, rijit bahkan gamblang dan mudah dipahami sesuai dengan khas pembawaan sosok beliau. Hampir dalam segala sendi kehidupan, baik yang di permukaan maupun yang berada di kedalaman, semua beliau sentuh dengan dawuh-dawuh yang simple dan dinamis.

Semoga kita mampu meneladani dan berupaya sebaik mungkin menjadi santri Ngalah yang sesuai harapan beliau, dimanapun dan sampai kapanpun. Amin…


*Pernah dimuat di Majalah MinNa edisi V
READ MORE -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS