RSS

NGAJI JURNALISTIK (1); Jenis-Jenis Jurnalisme

Berbicara masalah jurnalisme akan membawa kita pada satu persepsi terhadap pengertian dan seluk beluk tentang kreatifitas dalam dunia tulis-menulis di surat kabar. Setelah berselancar di dunia maya, akhirnya saya menemukan tulisan menarik (menurut ukuran saya), tentang jenis jurnalisme. Berikut ini saya suguhkan hasil dari tulisan Bapak Nurdin, semoga bisa sedikit berkonstribusi terhadap wacana kita.

Berikut ini merupakan jenis-jenis jurnalisme, yaitu sebagai berikut:

Jurnalisme Kepiting


Jurnalime kepiting adalah istilah yang pernah dipopulerkan oleh wartawan senior Rosihan Anwar (2001). Jurnalisme kepiting adalah istilah yang dipakai Rosihan untuk melihat sepak terjang Jakob Oetama (JO) dengan Kompas-nya. Dalam pandangan mantan wartawan Pedoman yang korannya dibredel zaman Orde Baru ini, Jakob piawai dalam kiat how to play, bagaimana bermain. Ia pernah menjelaskan di depan wartawan peserta KLW-PWI (Karya Latihan Wartawan) bahwa sikapnya sebagai wartawan selalu berhati-hati. Ibarat orang yang sedang berjalan di dasar sungai dan kakinya meraba-raba apakah ada bahaya di depan. Jika ada kepiting dirasakannya menggigit kakinya, maka cepat-cepat mundur selangkah. Kalau kepiting sudah tidak ada lagi, barulah ia maju ke depan.

Dalam pandangannya, Kompas bergerak ala kepiting. Ia mencoba melangkah setapak demi setapak untuk mengetes seberapa jauh kekuasaan (baca: kaki kepiting) memberikan toleransi kebebasan pers yang ada. Jika keadaan aman, maka “kaki” Kompas terus maju, tetapi ketika kakinya digigit kepiting (baca: kekuasaan), ia akan mundur beberapa langkah terlebih dahulu.

Jadi, jurnalisme kepiting lebih menunjuk pada kebijakan yang dijalankan oleh Jakob Oetama. Tentu saja komentar ini “memerahkan telinga” Jakob. Namun dalam pandangan Rosihan, dengan sikap yang ditegaskannya dengan gaya jurnalistik yang diterapkannya, terbukti Jakob Oetama tidak saja survive, tetapi juga terus bertumbuh from strength to strength, dari kekuatan ke kekuatan. Inilah pengakuan realistis Rosihan.

Jurnalisme “Lher”

Jurnalisme lher sering juga disebut dengan jurnalisme sensasional. Mengapa disebut dengan sensasional karena berita dan gambar atau grafis yang disuguhkan dilandasi dengan atau untuk mencari sensasi semata. Karena untuk mencari sensasi, apapun akan dilakukan untuk mewujudkannya. Ada juga yang menyebut dengan jurnalisme pornografi. Meskipun ketiganya berbeda istilah, dalam praktiknya ketiganya tidak jauh berbeda, yakni bersinggungan dengan “sekwilda” (sekitar wilayah dada) dan “bupati” (buka paha tinggi-tinggi). Bahkan akronim yang bisa menggambarkan jurnalisme lher saat ini lebih dari sekadar “sekwilda” dan “bupati”. Artinya, lebih tragis.

Berita atau gambar dapat dikategorikan pornografi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, setidak-tidaknya mengandung batasan sebagai berikut;
  • Penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan yang membangkitkan nafsu birahi, dan
  • Bahan yang dibuat dengan sengaja dan semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi. Sesuatu yang menyangkut pornografi selama ini sering identik dengan eksploitasi seks wanita disertai komentar yang berselera rendah.

Dalam praktiknya, jurnalisme “lher” disamping menampilkan dada dan paha wanita dari berbagai pose yang mencolok tetapi juga disertai judul-judul aso­siatif buat pembacanya yang mengarah pada seks. Meskipun kenyataannya, kata-kata yang asosiatif tersebut hanya berhubungan dengan profesi keartisan seperti main film atau menyanyi.

Jika kita melihat sejarah perkembangan media massa di Indonesia, tabloid Monitor bisa dikatakan media yang mempelopori jurnalisme lher. Dalam setiap edisinya, Monitor selalu menampilkan liputan yang berkaitan dengan “bupati” dan “sekwilda” seperti yang sudah disebutkan di atas. Dua istilah itu melekat pada diri seorang wanita. Meskipun bisa jadi pornografi juga bisa melekat pada laki-laki, dalam praktiknya wanitalah yang sering dijadikan objek eksploitasi.

Beberapa contoh penampilan berita dan atau gambar yang berbau pornografi adalah sebagai berikut; cover Hesty Syani (Monitor, 31/1/90) disertai judul, “Setelah 2 Kali Kapok Deh”; cover Heidy Diana (Monitor, 24/2/90) dengan judul, “Istri Harus Pintar Goyang”; cover Herlin Wedhaswara (Moni­tor, 7/1/90) disertai judul, “Yang Penting Sudah Ngerasain”; cover Lidya Kandouw (Monitor, 3/1/90) dengan judul, “Dulu Sampai 17 Kali, Kini Cukup Sekali”; cover Ami Ijib (Monitor, 9/9/90) disertai judul, “Berlinang Air Mata Dada”; cover Faradilla Andy (Monitor, 19/8/90) dengan judul, “Seks Tidak di Satu Jenis”; cover Iis Dahlia (Monitor, 5/9/90) dengan judul, “Supaya Goyangnya Pas…”; dan kata-kata lain seper­ti; “Sejak Umur 5, Saya Suka”, “Kalau dengan Suami ternyata Sakit”, “Saya Suka yang Panjang”, “Setelah Dua Kali Baru Nikmat” dan lain sebagainya.

Jurnalisme Kuning (yellow journalism)

Pernahkan Anda menjumpai judul-judul berita yang bombastis, tetapi setelah dibaca isinya tidak substansial? Misalnya, “Suami Bantai istri di depan Anak”, “Kemaluan Tiga Pelaku Pengeroyokan Disundut Rokok”, “Mata Perampok Ojek Dicongkel Massa”, “ Gara-gara Ingin Memiliki Sepeda Motor; Pelajar Gorok Leher Teman”, “ Malu Melahirkan Hasil Hubungan Gelap: Wanita Patahkan Kaki Bayi”. Ini beberapa judul berita yang berasal dari media cetak yang pernah terbit di Jakarta.

Diantara judul-judul itu ada kesamaan. Kasus yang sedang dibahas ditulis dengan hiperbola. Seolah terkesan seram, angker, sadis, kejam dan semacamnya. Misalnya pilihan kata “dibacok”, “digorok”, “tewas terpanggang”, atau “mata dicongkel”. Padahal bisa jadi tidak seperti itu kenyataannya. Bisa jadi juga seseorang tewas biasa, tetapi kalau sudah masuk konstruksi berita media cetak seperti itu judul menjadi masalah lain. Dengan kata lain, ada sesuatu yang dibesar-besarkan untuk menarik perhatian pembaca.

Contoh-contoh judul di atas biasanya melekat pada media yang dijuluki jurnalisme kuning (yellow journalism). Ciri khas jurnalisme kuning adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pembuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu,: agar masyarakat tertarik. Setelah tertarik diharapkan masyarakat membelinya. Ini sesuai dengan psikologi komunikasi massa. Orang akan tertarik untuk membaca atau membeli koran, yang diperhatikan pertama kali adalah judulnya. Apalagi judul-judul yang dibuat sangat bombastis. Bahkan untuk menarik perhatian pembaca, judul-judul yang dibuat ditulis secara besar-besaran dengan warna yang mencolok dan tak jarang disertai dengan gambar yang sadis.

Jurnalisme kuning adalah jurnalisme pemburukan makna. Ini disebabkan karena orientasi pembuatannya lebih menekankan pada berita-berita sensasional dari pada substansi isinya. Tentu saja, karena tujuannya untuk meninngkatkan penjualan ia sering dituduh jurnalisme yang tidak profesional, dan tak beretika. Mengapa? Karena yang dipentingkan adalah bagaimana caranya masyarakat suka pada beritanya. Perkara ia diprotes oleh kalangan tertentu tidak akan bergeming. Perkara isinya tidak sesuai dengan fakta yang terjadi, itu soal nanti.

Jurnalisme Warga Negara (citizen journalism)

Salah satu fenomena aktual yang berkaitan dengan proses penyebaran informasi adalah maraknya aktivitas blog yang sering disebut dengan citizen journalism (jurnalisme warga negara). Sebuah aktivitas yang muncul karena keniscayaan munculnya internet. Tetapi, sebagai sebuah genre yang baru dalam dunia komunikasi massa, citizen journalism tentu saja memunculkan pro dan kontra.
Dari pihak yang kontra memandang bahwa citizen journalism belum bisa masuk dalam ranah journalism (jurnalisme). Sebab, jurnalisme mensyaratkan banyak hal seperti yang terjadi pada dunia kewartawanan selama ini. Kalau kita mengikuti definisi jurnalisme dalam arti klasik selama ini, citizen journalism tentu saja bukan jurnalisme. Tetapi, ia hanya sebuah aktivitas seperti layaknya seseorang menulis buku harian, hanya medianya saja memakai internet.

Kalau kita berpedoman pada definisi jurnalisme yang dikemukakan dalam kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (1987) terungkap bahwa, jurnalisme adalah:
a. The work of profession of producing
b. Writing that may be all right for a newspaper.

Jelas bahwa menurut kriteria kamus itu, aktivitas yang dilakukan dalam blog tidak termasuk dalam ranah jurnalisme. Sebab, jurnalisme mensyaratkan sistem yang mempengaruhi kinerja seorang wartawan, layaknya kerja wartawan selama ini.

Namun tak bisa dipungkiri, citizen journalism sebuah genre yang sudah menggejala di masyarakat digital saat ini. Jika kita sepakat bahwa jurnalisme itu adalah menginformasikan kejadian kepada masyarakat, maka citizen journalism masuk dalam ranah jurnalisme, ada atau tanpa ada sistem yang melingkupi wartawan dalam mainstream media.

a. Citizen atau Civic Journalism?
Ada dua istilah yang perlu dipahami terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kerancuan pemahaman yakni tentang new media (media baru) dan mainstream media (media utama) dengan citizen journalism (jurnalisme warga negara) dan civic journalism (jurnalisme publik). Media utama menunjuk pada saluran komunikasi massa lama seperti surat kabar, majalah, tv, radio, dan sejenisnya, sementara media baru menunjuk pada jaringan internet. Citizen journalism sering juga disebut dengan participatory journalism, netizen, open source juornalism dan grassroot journalism. Baik citizen journalism dan civic journalism menjadikan masyarakat “bahan utamanya”. Hanya dalam civic journalism masyarakat didudukkan sebagai objek, sementara dalam citizen journalism masyarakat didudukkan sebagai objek sekaligus subjek.

Citizen journalism adalah keterlibatan warga dalam memberitakan sesuatu. Seseorang tanpa memandang latar belakang pendidikan, keahlian dapat merencanakan, menggali, mencari, mengolah, melaporkan informasi (tulisan, gambar, foto, tuturan), video kepada orang lain. Jadi setiap orang bisa menjadi wartawan (ini menurut penganjur citizen journalism).

Sementara itu, civic journalism adalah mengangkat derajat warga menjadi pemegang peran potensial dalam masalah publik dan bukan sekadar korban, menggerakkan orang-orang sebagai warga suatu negara agar dapat meningkatkan diskusi publik, membantu komunitas menyelesaikan masalah, dan membantu negara dalam mencari orang-orang yang produktif sehingga kegiatan politik dan kemasyarakatan dapat berjalan dengan baik (Karsten, 2004).

Atau upaya wartawan profesional dan media tempat mereka bekerja untuk lebih mendekat dengan persoalan warga (pembacanya), serta ikut terlibat dalam menyelesaikan persoalan itu secara langsung. Bukan hanya memberitakan peristiwa atau fenomena dalam sikap yang objektif saja, tetapi lebih menyatu dan terlibat dalam membimbing warga dan mendorong warga untuk melakukan sesuatu.
Jadi, wartawan yang bekerja di media massa biasanya melakukan liputan karena penugasan, sementara citizen journalist menuliskan pandangannya atas suatu peristiwa karena dirong oleh keinginan untuk membagi apa yang dilihat dan diketahuinya.

b. Bentuk-bentuk Citizen Journalism
D Lasica lewat tulisannya dalam Online Journalims Review (2003) pernah membagi media untuk citizen journalism dalam beberapa bentuk;
  • Partisipasi audiens (seperti komentar-komentar pengguna yang dilampirkan untuk mengomentari kisah berita, blog pribadi, foto atau video gambar yang ditangkap dari kamera HP, atau berita lokal yang ditulis oleh penghuni sebuah komunitas). Coba Anda buka blog saya di http://www.nurudin.multiply.com
  • Berita independen dan informasi yang ditulis dalam website.
  • Partisipasi di berita situs. Berisi komentar-komentar pembaca atas sebuah beria yang disiarkan oleh media tertentu. Beberapa koran seperti Media Indonesia, Koran Tempo membuka space komentar dari pembaca tentang sebuah berita yang disajikan.
  • Tulisan ringan seperti dalam milis, e-mail.
  • Situs pemancar pribadi (video situs pemancar).
Steve Outing pernah mengklasifikasikan bentuk-bentuk citizen journalism sebagai berikut:
  • Citizen journalism membuka ruang untuk komentar publik. Dalam ruang itu, pembaca atau khalayak bisa bereaksi, memuji, mengkritik, atau menambahkan bahan tulisan jurnalisme profesional. Pada media cetak konvensional jenis ini biasa dikenal dengan surat pembaca.
  • Menambahkan pendapat masyarakat sebagai bagian dari artikel yang ditulis. Warga diminta untuk ikut menuliskan pengalamannya pada sebuah topik utama liputan yang dilaporkan jurnalis.
  • Kolaborasi antara jurnalis profesional dengan nonjurnalis yang memiliki kemampuan dalam materi yang dibahas. Tujuannya dijadikan alat untuk mengarahkan atau memeriksa keakuratan artikel. Terkadang profesional nonjurnalis ini dapat juga menjadi kontributor tunggal yang menghasilkan artikel tersebut.
  • Bloghouse warga. Bentuknya blog-blog gratisan yang dikenal, misalnya ada wordpress, blogger, atau multiply. Melalui blog, orang bisa berbagi cerita tentang dunia, dan bisa menceritakan dunia berdasarkan pengalaman dan sudut pandangnya.
  • Newsroom citizen transparency blogs. Bentuk ini merupakan blog yang disediakan sebuah organisasi media sebagai upaya transparansi. Dalam hal ini pembaca bisa melakukan keluhan, kritik, atau pujian atas apa yan ditampilkan organisasi media tersebut. .
  • Stand-alone citizen journalism site, yang melalui proses editing. Sumbangan laporan dari warga, biasanya tentang hal-hal yang sifatnya sangat lokal, yang dialami langsung oleh warga. Editor berperan untuk menjaga kualitas laporan, dan mendidik warga (kontributor) tentang topik-topik yang menarik dan layak untuk dilaporkan.
  • Stand-alone citizen journalism, yang tidak melalui proses editing.
  • Gabungan stand-alone citizen journalism website dan edisi cetak.
  • Hybrid: pro + citizen journalism. Suatu kerja organisasi media yang menggabungkan pekerjaan jurnalis profesional dengan jurnalis warga.
  • Penggabungan antara jurnalisme profesional dengan jurnalisme warga dalam satu atap. Website membeli tulisan dari jurnalis profesional dan menerima tulisan jurnalis warga.
  • Model Wiki. Dalam Wiki, pembaca adalah juga seorang editor. Setiap orang bisa menulis artikel dan setiap orang juga bisa memberi tambahan atau komentar terhadap komentar yang terbit (Yudhapramesti, 2007).

*Sumber: nurudin.staff.umm.ac.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar